Oleh Rena Malinda
Aktivis Dakwah
Pendidikan
seharusnya menjadi cahaya yang menuntun manusia menuju kebijaksanaan,
ketenangan, dan kemuliaan hidup. Namun, realita hari ini justru memperlihatkan
wajah buram dunia pendidikan. Di balik gedung-gedung sekolah yang megah, di
antara tumpukan buku dan layar digital yang modern, tersimpan luka mendalam
yaitu meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan pelajar dan krisis kesehatan
mental di lingkungan pendidikan. Fenomena ini menjadi alarm keras bahwa dunia
pendidikan kita sedang sakit, kehilangan arah, dan berjalan tanpa cahaya Islam.
Sistem pendidikan sekuler yang diterapkan saat ini dibangun atas asas materialisme dan kompetisi. Nilai keberhasilan diukur dari angka dan capaian akademik semata, bukan dari akhlak dan ketakwaan. Seorang siswa dianggap “berhasil” jika mendapat nilai sempurna, masuk universitas ternama, dan memiliki prestasi duniawi.
Seperti yang dikutip dari laman sekitarkaltim.id (Jumat, 31/Oktober/2025) Anggota KPAI Aris Adi Leksono mengingatkan, ada dua kasus dugaan bunuh diri yang melibatkan pelajar di Sawahlunto Sumatera Barat dan Sukabumi Jawa Barat. "Dua peristiwa tragis ini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dan keluarga untuk lebih peka terhadap kesehatan mental anak dan remaja," ingat Aris.
Selain itu dikutip dari laman www.kompas.id (Jumat, 31/Oktober/2025) Psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Efnie Indrianie, mengatakan, anak-anak dari generasi Alfa saat ini memiliki kondisi mental yang lebih rapuh dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Generasi Alfa, yaitu anak-anak yang lahir sekitar tahun 2010–2024.
Dalam sistem semacam ini, pelajar tidak diajarkan tentang makna hidup, tujuan penciptaan, dan nilai kesabaran dalam menghadapi kegagalan. Akibatnya, ketika mereka menemui tekanan, tidak ada benteng akidah yang menahan mereka dari keputusasaan.
Beginilah potret pendidikan sekuler yang mencetak generasi pintar secara intelektual, tetapi rapuh secara spiritual. Mereka memiliki banyak pengetahuan, tetapi sedikit keimanan. Mereka tahu rumus fisika dan algoritma, tetapi tak tahu untuk apa hidupnya. Inilah mengapa banyak pelajar merasa hampa, tertekan, dan akhirnya memilih mengakhiri hidupnya.
Islam menawarkan sistem pendidikan yang menyeluruh, bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tetapi juga membentuk kepribadian dan spiritualitas manusia. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk insan bertakwa yaitu manusia yang sadar bahwa hidupnya adalah ibadah dan bahwa ujian serta kegagalan adalah bagian dari takdir Allah Swt. yang penuh hikmah.
Dalam sistem pendidikan Islam akidah Islam menjadi asas pendidikan. Setiap pelajaran, baik sains, matematika, maupun sosial, dikaitkan dengan keagungan Allah Swt.. Hal ini menumbuhkan kesadaran spiritual dan makna hidup dalam diri pelajar. Mereka tidak belajar hanya untuk karier, tetapi untuk beribadah dan memakmurkan bumi.
Di dalam Islam, negara menjamin pendidikan gratis dan bermutu untuk semua.
Dengan sistem Islam, tekanan ekonomi yang sering membebani siswa akan hilang.
Pendidikan bukan bisnis, melainkan amanah yang harus ditunaikan negara sebagai
pelayan rakyat.
Dalam pendidikan Islam, anak-anak diajarkan sabar, syukur, dan tawakal sejak dini. Kegagalan bukan alasan untuk berputus asa, tetapi sarana untuk belajar tentang qadha dan qadar Allah Swt.. Lingkungan sosial mendukung nilai Islam.
Budaya saling menolong dan ukhuwah menggantikan budaya persaingan
individualistik. Tidak ada istilah “si gagal” karena setiap anak dihargai
sebagai hamba Allah Swt. yang unik dengan potensi berbeda.
Maraknya kasus bunuh diri di kalangan pelajar adalah cermin kegagalan mendasar sistem pendidikan sekuler. Sistem ini telah mencabut akar spiritual manusia, menggantinya dengan ambisi duniawi, dan menanamkan kompetisi tanpa empati. Generasi yang tumbuh di dalamnya kehilangan makna hidup, kehilangan arah, dan akhirnya kehilangan harapan.
Sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa pendidikan sejati hanya bisa lahir dari sistem yang berpijak pada Islam, bukan pada nilai-nilai kapitalistik. Pendidikan Islam bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menenangkan hati. Ia menumbuhkan generasi yang tidak takut gagal, karena tahu hidupnya sepenuhnya dalam genggaman Allah Swt.. Dengan cahaya Islam, dunia pendidikan bukan lagi tempat lahirnya generasi cemas dan putus asa, tetapi taman ilmu yang menumbuhkan iman, akhlak, dan harapan.
Wallahualam bissawwab.

No comments:
Post a Comment