Oleh Atikah Ar Rosyidah
Ibu Pendidik Generasi
Kasus
tragis menimpa seorang siswi (MTs) negeri berinisial AK (14) di Cikembar,
Kabupaten Sukabumi pada (28/10/2025). Gadis itu ditemukan meninggal dunia
setelah diduga mengakhiri hidupnya sendiri. Sebelum kejadian, AK diketahui
meninggalkan surat terakhir yang berisi curahan hati tentang dugaan bullying
verbal yang dialaminya. (Detik.com)
Selasa (28/10/2025) ,Siswa inisial B
ditemukan tergantung tak bernyawa oleh tiga teman sekelasnya di ruang kelas
VIII-2 SMP 7 Sawahlunto, Selasa lalu sekitar pukul 12.00. Lehernya terlilit
dasi yang diikatkan ke ventilasi di sudut belakang kelas. Padahal, paginya B
juga sempat ikut upacara peringatan hari Sumpah Pemuda di sekolahnya, SMP 7
Sawahlunto, yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Ia jadi siswa yang
memimpin barisan siswa kelas VIII-2. (kompas.id)
Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) menyampaikan keprihatinan mendalam atas terjadinya kasus bunuh
diri pelajar di Sawahlunto, Sumatera Barat dan Sukabumi, Jawa Barat. Dua
peristiwa tragis pelajar
bunuh diri ini menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan
dan keluarga untuk lebih peka terhadap kesehatan mental anak dan
remaja. ( Media Indonesia.com)
Angka bunuh diri yang
meningkat di kalangan pelajar perlu dicermati. Fakta ini menggambarkan bahwa remaja
memiliki kepribadian yang rapuh. Ini merupakan faktor yang mendorong mereka
melakukan bunuh diri. Kerapuhan kepribadian remaja mencerminkan lemahnya dasar
akidah pada diri mereka. Hal ini adalah akibat dari pendidikan sekuler yang
hanya mengejar prestasi fisik dan mengabaikan pengajaran agama. Agama hanya diajarkan
secara teori tapi tidak membekas pada diri mereka.
Paradigma batas usia anak juga berpengaruh.
Pendidikan Barat menganggap anak baru dewasa ketika berusia 18 tahun. Sehingga
sering kali anak sudah balig namun masih diperlakukan sebagai anak dan tidak
dididik untuk menyempurnakan akalnya. Bunuh diri adalah puncak dari gangguan
kesehatan mental. Gangguan mental adalah buah berbagai persoalan yang terjadi,
mulai dari kesulitan ekonomi, konflik orang tua termasuk perceraian, hingga
tuntutan gaya hidup, dan sebagainya. Hal ini akibat penerapan sistem
kapitalisme.
Paparan media sosial
terkait bunuh diri dan komunitas sharing bunuh diri yang semakin banyak
mendorong remaja dan anak2 makin rentan bunuh diri.
Untuk itu perlu kiranya
kita menyelesaikan masalah dari maraknya kasus bunuh diri tersebut dengan
penyelesaian yang tuntas, yaitu dengan Islam.
Islam menjadikan dasar
pendidikan dalam keluarga, sekolah dan seluruh jenjang pendidikan adalah akidah
sehingga anak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi setiap
kesulitan.Tujuan sistem pendidikan Islam adalah membentuk pola pikir dan pola
sikap Islam, sehingga pada diri siswa terbentuk kepribadian Islam.
Dalam Islam ketika balig
anak juga diarahkan untuk aqil sehingga pendidikan anak sebelum balig adalah pendidikan
yang mendewasakan dan mematangkan kepribadian Islamnya.
Penerapan Islam mencegah terjadinya gangguan
mental, sekaligus menyelesaikan persoalan ini secara tuntas, karena Islam
mewujudkan kebaikan pada aspek non klinis, seperti jaminan kebutuhan pokok,
keluarga harmonis, juga arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan.
Kurikulum Pendidikan Islam dalam bingkai khilafah memadukan penguatan kepribadian islami (karakter) dengan
penguasaan kompetensi ilmu. Sehingga murid mampu menyikapi berbagai persoalan
kehidupan dengan cara syar’i.
Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment