Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kasus Bunuh Diri Anak Sekolah Meningkat, Bukti Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler

Thursday, November 20, 2025 | Thursday, November 20, 2025 WIB

 

 

                                       Oleh Atikah Ar Rosyidah 

                                         Ibu Pendidik Generasi


Kasus tragis menimpa seorang siswi (MTs) negeri berinisial AK (14) di Cikembar, Kabupaten Sukabumi pada (28/10/2025). Gadis itu ditemukan meninggal dunia setelah diduga mengakhiri hidupnya sendiri. Sebelum kejadian, AK diketahui meninggalkan surat terakhir yang berisi curahan hati tentang dugaan bullying verbal yang dialaminya. (Detik.com)

 Selasa (28/10/2025) ,Siswa inisial B ditemukan tergantung tak bernyawa oleh tiga teman sekelasnya di ruang kelas VIII-2 SMP 7 Sawahlunto, Selasa lalu sekitar pukul 12.00. Lehernya terlilit dasi yang diikatkan ke ventilasi di sudut belakang kelas. Padahal, paginya B juga sempat ikut upacara peringatan hari Sumpah Pemuda di sekolahnya, SMP 7 Sawahlunto, yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Ia jadi siswa yang memimpin barisan siswa kelas VIII-2. (kompas.id)

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan keprihatinan mendalam atas terjadinya kasus bunuh diri pelajar di Sawahlunto, Sumatera Barat dan Sukabumi, Jawa Barat. Dua peristiwa tragis pelajar bunuh diri ini menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan dan keluarga untuk lebih peka terhadap kesehatan mental anak dan remaja. ( Media Indonesia.com)

Angka bunuh diri yang meningkat di kalangan pelajar perlu dicermati. Fakta ini menggambarkan bahwa remaja memiliki kepribadian yang rapuh. Ini merupakan faktor yang mendorong mereka melakukan bunuh diri. Kerapuhan kepribadian remaja mencerminkan lemahnya dasar akidah pada diri mereka. Hal ini adalah akibat dari pendidikan sekuler yang hanya mengejar prestasi fisik dan mengabaikan pengajaran agama. Agama hanya diajarkan secara teori tapi tidak membekas pada diri mereka.

 Paradigma batas usia anak juga berpengaruh. Pendidikan Barat menganggap anak baru dewasa ketika berusia 18 tahun. Sehingga sering kali anak sudah balig namun masih diperlakukan sebagai anak dan tidak dididik untuk menyempurnakan akalnya. Bunuh diri adalah puncak dari gangguan kesehatan mental. Gangguan mental adalah buah berbagai persoalan yang terjadi, mulai dari kesulitan ekonomi, konflik orang tua termasuk perceraian, hingga tuntutan gaya hidup, dan sebagainya. Hal ini akibat penerapan sistem kapitalisme.

Paparan media sosial terkait bunuh diri dan komunitas sharing bunuh diri yang semakin banyak mendorong remaja dan anak2 makin rentan bunuh diri.

Untuk itu perlu kiranya kita menyelesaikan masalah dari maraknya kasus bunuh diri tersebut dengan penyelesaian yang tuntas, yaitu dengan Islam.

Islam menjadikan dasar pendidikan dalam keluarga, sekolah dan seluruh jenjang pendidikan adalah akidah sehingga anak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi setiap kesulitan.Tujuan sistem pendidikan Islam adalah membentuk pola pikir dan pola sikap Islam, sehingga pada diri siswa terbentuk kepribadian Islam.

Dalam Islam ketika balig anak juga diarahkan untuk aqil sehingga pendidikan anak sebelum balig adalah pendidikan yang mendewasakan dan mematangkan kepribadian Islamnya.

 Penerapan Islam mencegah terjadinya gangguan mental, sekaligus menyelesaikan persoalan ini secara tuntas, karena Islam mewujudkan kebaikan pada aspek non klinis, seperti jaminan kebutuhan pokok, keluarga harmonis, juga arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan.

 Kurikulum Pendidikan Islam dalam bingkai khilafah memadukan penguatan kepribadian islami (karakter) dengan penguasaan kompetensi ilmu. Sehingga murid mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara syar’i.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update