Oleh. Zahra Aulia
Gaza, Palestina. Tanah suci kaum Muslim, tempat yang menjadi kiblat pertama umat Islam. Pertumpahan darah saudara Muslim di sana belum berakhir. Bahkan semakin menjadi-jadi. Dari bayi, anak-anak, pemuda, perempuan, ibu hamil, hingga yang tua renta sudah ribuan jiwa telah direnggut oleh zionis Israel laknatullah alaihi.
Mereka bahkan menargetkan pembantaian jurnalis dan paramedis dengan serangan drone, bahkan itu dilakukan saat mereka sedang live untuk melaporkan kondisi terkini di Gaza. Setidaknya 20 orang, termasuk lima jurnalis yang bekerja di media internasional, tewas terbunuh dalam serangan ganda Israel di Rumah Sakit Nasser yang berlokasi di Khan Younis, Gaza bagian selatan wilayah yang dikuasai oleh Hamas menurut Kementerian Kesehatan. (BBCnewsIndonesia, 25-08-2025).
Sungguh memprihatinkan dan mengiris hati, melihat kondisi terkini saudara Muslim di Gaza. Para Jurnalis terus berjuang menyampaikan kondisi yang terjadi di sana walau nyawa mereka taruhannya. Jurnalis di Gaza pun memanggil-manggil jurnalis internasional lain untuk masuk ke Gaza dan menunjukkan pada dunia apa yang terjadi di Gaza.
Persoalan di Gaza, Palestina bukanlah persoalan yang disembunyikan dan dunia tidak tahu sama sekali tentang pembantaian ini. Sebaliknya seluruh meyaksikan dengan jelas, namun mereka tak segera menyelesaikan titik awal masalahnya. Mereka hanya bisa mengirimkan bantuan berupa makanan, pakaian, dan obat-obatan. Itu pun bahkan dihalang-halangi untuk masuk ke wilayah Gaza. Semua bantuan itu bukan berarti tak bermanfaat, namun tidak mampu menyelesaikan persoalan utama saudara muslim kita di Gaza, Palestina.
Melihat populasi kaum Muslim yang mencapai dua miliar seharusnya mampu untuk menyelesaikan persoalan kaum Muslim di Gaza, Palestina. Namun faktanya kaum Muslim belum sanggup bersatu untuk melawan kekejian zionis Israel yang didukung oleh Amerika Serikat dan menuntut penguasa di negeri-negeri mereka untuk menurunkan pasukan militer untuk menolong Gaza.
Ketidaksanggupan negeri muslim bukan tanpa sebab. Alasannya tentu karena persoalan nasionalisme, yang akhirnya menciptakan sekat dan batas wilayah antar negeri. Ditambah lagi adanya kerjasama dengan negara Amerika Serikat yang membuat mereka semakin tidak bisa berbuat apa-apa. Negeri Muslim seperti anak ayam yang bersembunyi di balik sayap induknya.
Harus kita sadari bahwa kita tidak bisa hanya berdiam diri dan merasa cukup dengan mengirimkan bantuan dan doa untuk menyelesaikan persoalan Gaza. Karena itu tidak akan menyelesaikan masalah mereka. Satu-satunya yang akan menyelesaikan persoalan pembantaian di Gaza adalah menurunkan pasukan kaum Muslim di bawah komando seorang pemimpin (khalifah). Namun saat ini belum smua kaum Muslim paham bahwa inilah solusi yang paripurna.
Tanah Palestina adalah tanah umat Muslim. Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Swt. (orang Yahudi) tidak memiliki hak untuk memerintah di tanah Palestina. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam surat Al Maidah ayat 21. "Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi".
Permasalahan Palestina telah menjadi persoalan paling menonjol yang berlangsung sangat lama, rumit, dan kompleks. Maka tidak bisa diselesaikan hanya dengan berdamai atau sekedar mengecam dan mengirim bantuan.
Memang sejatinya sudah terbukti bahwa satu-satunya solusi yang sesuai ajaran Islam untuk mengatasi krisis Gaza adalah perang di jalan Allah (jihad fi sabilillah). Tidak lain dengan mengirimkan kontigen militer untuk melindungi warga Gaza dan mengusir zionis Israel. Bukan dengan jalan diplomasi. Apalagi sekedar retorika omong kosong yang selama ini dimainkan para pemimpin Arab dan Dunia Islam. Tidak hanya dengan memerintahkan para imam dan khatib membacakan doa untuk kaum Muslim Gaza.
Al-Qur’an telah memerintahkan perang defensif atas setiap serangan musuh yang ditujukan kepada negeri-negeri muslim. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 194: “Siapa saja yang menyerang kalian, seranglah ia secara seimbang dengan serangannya terhadap kalian.”
Dalam surah yang sama ayat 191 Allah Swt. juga memerintahkan untuk mengeluarkan siapa pun yang telah mengusir kaum muslim, “Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian."
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Kitab Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah Jilid II, menyatakan bahwa jihad adalah fardu ain saat kaum Muslim diserang oleh musuh. Dalam konteks Palestina, fardu ain ini bukan hanya ditujukan untuk Muslim di sana, tetapi juga berlaku untuk kaum Muslim di sekitar wilayah Palestina saat serangan musuh tidak bisa dihadang oleh warga setempat.
Dengan demikian para pemimpin negeri muslim di sekitar wilayah Palestina wajib mengirimkan pasukan militer mereka untuk menolong muslim Gaza. Sikap berdiam diri para pemimpin tersebut adalah kemaksiatan besar di hadapan Allah Taala. Karena Allah Swt. telah memerintahkan dalam surah Al-Anfal ayat 72: “Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib memberikan pertolongan.”
umat Islam harus mengambil peran mengarahkan masyarakat dunia untuk menuju tujuan yang agung, yakni mengembalikan kehidupan Islam. Membimbing orang-orang yang mulai sadar kepada solusi yang benar bagi Gaza dan Palestina, maka perjalanan mereka akan sampai pada tujuan agung. Berpegang teguhlah pada tali Allah, dan bekerjalah untuk memimpin Gaza, Palestina, seluruh negeri kaum muslim, dan seluruh umat manusia, menuju solusi yang hakiki, agung, dan abadi.
Wallahu alam bishawab

No comments:
Post a Comment