Komunitas Muslimah Rindu Jannah
Peristiwa demonstrasi di bulan Agustus yang lalu membuka fakta menarik tentang Generasi Z (Gen Z), yakni generasi berumur 13-28 tahun. Seperti yang kita lihat, bahwa aksi tersebut diikuti oleh berbagai macam lapisan masyarakat. Kebijakan negara yang kurang berpihak pada rakyat ternyata juga memantik semangat Gen Z untuk ikut meramaikan media sosial dengan berbagai kritikan, meme, video pendek, dan lain-lain. Bahkan, tidak sedikit yang ikut turun ke jalan menyuarakan aspirasinya.
Tidak berhenti di Jakarta saja. Di Kathmandu dan Paris, generasi muda menjadi garda terdepan dalam melakukan aksi unjuk rasa terhadap pemerintah. Mereka menjadi bagian dalam pergerakan yang menyuarakan kekecewaan, menuntut hak sebagai rakyat, dan menggugat keadilan. Padahal mereka sadar siapa yang akan mereka hadapi. Namun, itu tidak menyurutkan keberanian mereka.
Psikolog Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini Agoes Salim, menyoroti fenomena meningkatnya jumlah anak di bawah umur yang ikut aksi demonstrasi. Menurutnya, meskipun demo bisa jadi ajang belajar menyampaikan pendapat, remaja rentan terprovokasi karena kontrol diri mereka belum matang. (inforemaja.id, 2/9/2025)
Ada Apa dengan Gen Z?
Jika ada generasi yang paling sering disalahpahami, itulah Gen Z. Dicap sebagai generasi cancel culture, mudah cemas, dan terbelenggu oleh layar ponsel. Mereka dikelilingi oleh stimulasi tanpa henti: media sosial, game, streaming, dan algoritma yang dirancang untuk membuat mereka ketagihan. Medan ini menguji ketahanan fokus, kedalaman berpikir, dan kemurnian identitas. Banyak yang mengalami kecemasan eksistensial karena terpapar terlalu banyak pilihan gaya hidup dan nilai yang bertabrakan.
Gen Z memiliki akses ilmu tanpa batas, semua berada di ujung jari mereka. Namun, di tengah banjir informasi ini, tantangan terbesarnya adalah menemukan guru dan filter yang benar. Siapa yang bisa dipercaya? Mana yang hakikat dan mana yang ilusi?
Banyak Gen Z yang merasa tujuan hidupnya terfragmentasi. Di satu sisi, mereka didorong untuk mengejar minat dan membuat dampak. Di sisi lain, mereka dibebani oleh tekanan ekonomi, kesenjangan sosial, dan ketidakpastian global lainnya. Tidak ada satu musuh yang jelas seperti zaman jahiliyah. Musuhnya abstrak: kapitalisme eksploitatif, ketidakadilan, krisis kesehatan mental. Ini membuat fokus perjuangan mereka lebih tersebar. Mereka hidup dalam arus sekularisme yang sangat deras, di mana agama dipisahkan dari kehidupan publik. Maka tak ayal jika banyak dari mereka yang kehilangan arah dan tersesat karena memang kehilangan kompas dalam kehidupan.
Manusia Antara Fitrah dan Kewajiban
Allah Swt. memberikan akal untuk berpikir, merenung, dan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Dengan akal dan ilmu, manusia bisa memahami alam semesta, teknologi, dan yang terpenting, mengenal Tuhannya. Namun, ilmu tanpa filter iman akan berbahaya. Maka, Gen Z perlu menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai kompas utama untuk menyaring segala informasi yang diterima.
Kemuliaan manusia bukan hanya karena bentuk fisik yang sempurna, tetapi juga karena manusia diberi kebebasan memilih dan tanggung jawab moral. Sebagai hamba, tugasnya, adalah beribadah dan tunduk sepenuhnya kepada Allah. Sebagai khalifah, tugasnya, adalah menjadi pemimpin yang memakmurkan bumi, menegakkan keadilan, dan menjaga alam. Kedua peran ini saling melengkapi.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah juga memiliki potensi luar biasa, namun juga dibebani dengan tanggung jawab besar. Sehingga perlu dipahami bahwa dalam menjalani hidup haruslah sesuai dengan tujuan penciptaan, yaitu beribadah dan berkontribusi secara positif bagi alam semesta.
Selain itu, manusia memiliki kebutuhan jasmani (seperti makan, minum, dan tidur), kebutuhan naluri (seperti naluri berketurunan, naluri mempertahankan diri, dan naluri beragama. Adapun akal, yaitu untuk mengendalikan dan mengarahkan naluri sesuai dengan tuntunan syariat Islam.
Jika pemenuhan manusia akan potensi kehidupannya di luar bingkai syariat Islam maka yang ada hanyalah munculnya berbagai problematika hidup yang tak kunjung tuntas. Oleh karenanya penting ada aktivitas amar ma’ruf nahi munkar (menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran).
Mengoreksi atau menasihati penguasa dalam Islam, adalah bagian penting dari prinsip amar ma'ruf nahi munkar. Kritik terhadap penguasa bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan sebuah kewajiban moral dan keagamaan untuk memastikan pemimpin berjalan di jalur yang benar.
Unjuk rasa untuk menyalurkan aspirasi yang dilakukan kalangan Gen Z terhadap pemerintah sebenarnya, adalah salah satu penampakan dari naluri mempertahankan diri yang secara fitrah dimiliki oleh setiap manusia. Kezaliman yang dilakukan pemerintah dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada rakyatlah pemicunya.
Rasulullah saw. bersabda:
"Sebaik-baik jihad, ialah berkata yang benar di hadapan penguasa yang zalim atau pemimpin yang zalim." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Ini menunjukkan bahwa keberanian berbicara kebenaran di hadapan kekuasaan, adalah bentuk jihad tertinggi. Hal ini bukan hanya sekadar mengkritik, tetapi menyampaikan nasihat yang berbasis pada kebenaran syariat Islam. Muhasabah harus dilandasi niat tulus untuk memperbaiki, bukan untuk menjatuhkan atau mencari popularitas. Metode penyampaiannya harus bijaksana, penuh hikmah, dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Jika ada kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa secara terang-terangan dan berdampak luas, maka ulama atau tokoh masyarakat dapat menyampaikannya secara terbuka.
Muda dan Mulia
Masa muda adalah masa di mana seseorang berada pada puncak kekuatan fisik dan mentalnya. Islam sangat menghargai periode ini dan mendorong pemuda untuk menggunakan energi dan semangat mereka untuk hal-hal yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun umat. Nabi Muhammad saw. bersabda, "Bahwa salah satu hal yang akan ditanyakan pada hari kiamat, adalah tentang masa muda, untuk apa ia habiskan masa mudanya?" Ini menunjukkan betapa pentingnya pemanfaatan waktu muda dengan sebaik-baiknya.
Pemuda cenderung memiliki semangat yang kuat dan hati yang lebih terbuka untuk menerima kebenaran. Banyak sahabat Nabi yang masuk Islam di usia muda, seperti Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Mush'ab bin Umair. Mereka dengan gigih membela dan menyebarkan ajaran Islam, bahkan dalam kondisi yang sangat sulit. Pemuda dipandang sebagai agen perubahan yang efektif. Dengan semangat dan ide-ide baru, mereka mampu membawa perubahan positif dalam masyarakat.
Islam mendorong pemuda untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Pendidikan, akhlak, dan ilmu pengetahuan sangat ditekankan agar mereka bisa memimpin dengan adil dan bijaksana. Banyak pemimpin Islam hebat di masa lalu yang diangkat pada usia muda karena kapasitas dan integritas mereka.
Begitu juga beribadah dan beramal saleh di masa muda memiliki nilai yang lebih tinggi. Hal ini karena ibadah dilakukan di saat banyak godaan dan tantangan.
Singkatnya, Islam melihat pemuda sebagai aset berharga yang penuh potensi, kekuatan, dan semangat. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi pengikut, tetapi juga pelopor yang membawa kemajuan dan keberkahan bagi umat. Namun untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan pendidikan yang kuat berbasis tauhid seperti yang dicontohkan Rasulullah saw.
Hal tersebut mustahil diperoleh dari pendidikan berbasis sekuler dalam sistem demokrasi kapitalis saat ini. Karena pendidikan sekulerlah yang justru menjauhkan manusia dari fitrahnya. Sehingga, secara tidak langsung telah mengebiri potensi pemuda itu sendiri. Mereka berilmu namun semakin jauh dari iman dan mengesampingkan aturan Allah.
Hanya dengan penerapan syariat Islam secara keseluruhan maka para pemuda dapat mencapai kebangkitannya menuju peradaban yang mulia. Hanya khilafah yang bisa menerapkannya. Karena tujuan penerapan syariat Islam, adalah melindungi agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment