Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gen-Z Bicara Perubahan, Potensi Besar Kebangkitan Umat Penulis Dyah Pitaloka

Friday, September 26, 2025 | Friday, September 26, 2025 WIB Last Updated 2025-09-26T09:08:12Z


 


Fenomena generasi Z (Gen-Z) dalam merespons berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi semakin menarik perhatian publik. Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan bagaimana suara mereka menggema, baik di jalanan melalui aksi demonstrasi maupun di ruang digital lewat media sosial. Generasi ini lahir di era serba digital, tumbuh dengan akses informasi tanpa batas, serta terbiasa menggunakan teknologi untuk mengekspresikan diri. Tidak mengherankan jika cara mereka menyuarakan aspirasi berbeda dari generasi sebelumnya.




Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., menilai bahwa alih-alih melakukan tindakan destruktif, Gen Z lebih memilih menyalurkan pendapat mereka dengan cara khas: melalui meme, poster kreatif, estetika visual, serta percakapan masif di media sosial. Menurutnya, pola ini mencerminkan mekanisme pertahanan diri yang unik, di mana Gen Z memilih berbicara lantang tanpa harus membakar fasilitas atau melakukan kekerasan fisik. Dengan demikian, kreativitas menjadi kanal aspirasi sekaligus cara mereka menyalurkan tekanan sosial yang dihadapi (Kompas, 05/09/2025).




Namun, pandangan lain disampaikan oleh Psikolog Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini Agoes Salim. Ia menyoroti fenomena meningkatnya jumlah anak di bawah umur yang ikut dalam aksi demonstrasi. Menurutnya, meski demonstrasi bisa menjadi sarana belajar menyampaikan pendapat, remaja masih rentan terprovokasi karena kontrol diri mereka belum matang. Hal ini dikhawatirkan berpotensi menimbulkan kerugian, baik secara fisik maupun mental, bila tidak diarahkan dengan bijak.




Gen Z dan Konstruksi Kapitalistik




Analisis terhadap fenomena ini tidak berhenti pada aspek psikologis semata. Klasifikasi karakteristik generasi, seperti Gen Z, sering kali diarahkan sesuai dengan pola pikir kapitalisme. Tujuannya adalah meminimalisasi kesadaran politik dan menggiring generasi muda agar lebih fokus pada hal-hal praktis yang dianggap khas Gen Z. Akibatnya, aspirasi mereka diarahkan ke ranah yang aman dan tidak membahayakan status quo, misalnya sebatas ekspresi kreatif di media sosial, tanpa menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya.




Padahal, bila ditilik lebih dalam, karakter manusia sejak awal penciptaan memiliki naluri untuk mempertahankan diri (gharizah al-baqā’). Naluri ini mendorong manusia menolak kezaliman, mencari keadilan, serta membutuhkan solusi yang benar-benar menghilangkan sumber kezaliman tersebut. Mengabaikan fitrah ini berarti menjauhkan manusia dari potensi sejatinya sebagai agen perubahan.




Islam Menjawab Kebutuhan Manusia




Islam memandang bahwa fitrah manusia tidak bisa hanya dipenuhi dengan pendekatan psikologi modern semata. Manusia memiliki kebutuhan ruhiyah dan jasadiyah yang hanya bisa diarahkan dengan tuntunan syariat. Di dalam Islam, mekanisme menyampaikan kritik terhadap penguasa yang zalim (muhasabah lil hukkām) telah diatur sejak masa Rasulullah saw. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:




“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).




Selain itu, Rasulullah saw. juga menegaskan dalam hadis: “Pemimpin para syuhadā’ adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan (juga) seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu ia memerintahkannya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (HR. Hakim).




Ayat dan hadis tersebut menunjukkan bahwa menyampaikan kritik terhadap kezaliman adalah bagian dari ajaran Islam. Dengan demikian, mekanisme perlawanan terhadap ketidakadilan sudah memiliki panduan yang jelas, bukan sekadar berdasarkan teori psikologi atau konstruksi kapitalistik.




Potensi Pemuda dalam Sejarah Islam




Sejarah Islam mencatat bahwa peran pemuda sangat besar dalam setiap gerakan perubahan. Pada masa Rasulullah saw., mayoritas sahabat yang pertama kali masuk Islam adalah para pemuda: Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, Zubair bin Awwam, dan lainnya. Mereka menjadi garda terdepan dalam menyebarkan dakwah Islam dan menghadapi penindasan Quraisy. Semangat, keberanian, dan idealisme pemuda menjadikan mereka motor penggerak dalam perubahan hakiki (taghyir).




Fenomena Gen Z saat ini, dengan segala kreativitas dan keberanian mereka bersuara, seharusnya dilihat sebagai potensi besar kebangkitan umat. Mereka tidak sekadar “generasi media sosial” yang pandai membuat meme atau poster estetik, tetapi juga memiliki daya kritis yang perlu diarahkan pada solusi yang benar. Jika diarahkan dengan Islam, potensi mereka bisa menjadi kekuatan dahsyat dalam melawan kezaliman sistemik yang menimpa masyarakat.




Penutup




Generasi Z sedang mencari cara untuk berbicara dan memperjuangkan apa yang mereka anggap penting. Dari meme hingga unjuk rasa, semua itu adalah ekspresi kegelisahan terhadap kondisi yang mereka alami. Akan tetapi, potensi besar ini jangan sampai terjebak pada konstruksi kapitalistik yang mengebiri kesadaran politik mereka. Islam telah menawarkan mekanisme yang lebih mendasar, yakni muhasabah lil hukkām, serta menegaskan bahwa peran pemuda adalah ujung tombak kebangkitan.




Dengan semangat Islam, suara Gen Z tidak hanya menjadi ekspresi di media sosial, tetapi juga bisa menjadi energi perubahan yang hakiki. Seperti para pemuda pada masa Rasulullah saw., mereka bisa menjadi agen kebangkitan umat, menghapus kezaliman, dan menghadirkan keadilan sejati di bawah naungan syariat Islam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update