Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Senjata Sunyi Zionis: Menggiring Gaza ke Jurang Kelaparan

Monday, August 11, 2025 | Monday, August 11, 2025 WIB




Oleh. Delfiani 

Pegiat Literasi


Kelaparan kini menjadi wajah baru dari genosida di Gaza. Entitas Zionis tidak hanya membumihanguskan bangunan dan membantai warga sipil, tetapi juga menggunakan kelaparan sebagai senjata paling sunyi untuk menghabisi penduduk Palestina secara perlahan.


Sejak blokade total diberlakukan pada 2 Maret 2025, Gaza berubah menjadi penjara raksasa bagi lebih dari dua juta jiwa terisolasi, hancur, dan terputus dari nadi kehidupan.


Lapar yang Mematikan


Data terbaru Integrated Food Security Phase Classification (IPC) menggambarkan kenyataan yang mengerikan: hampir seluruh penduduk Gaza sekitar 2,1 juta jiwa hidup dalam krisis pangan akut hingga kelaparan fatal. Dari jumlah itu, setengah juta orang berada di ujung kematian.


Dua dari tiga indikator resmi kelaparan dunia telah terlampaui.. Konsumsi pangan yang anjlok drastis serta lonjakan malnutrisi akut, terutama di kalangan anak-anak dan ibu hamil. Ladang dan rumah kaca hancur, pasokan pangan lokal lumpuh total. Sementara itu, bantuan yang masuk hanya sekadar simbol, tidak mampu menembus tembok blokade yang disengaja untuk memutus aliran kehidupan.


Ini bukan lagi ancaman, ini adalah kematian yang berjalan pelan namun pasti. Sebuah genosida yang tidak selalu berisik, tapi mematikan dalam diam.


Kebisuan Dunia Islam


Gaza kini menjadi cermin yang memperlihatkan wajah asli peradaban dunia, tega membiarkan anak-anak Muslim mati kelaparan, bahkan ketika umat Islam memiliki sumber daya yang lebih dari cukup untuk menghentikannya.


Masalah ini bukan semata karena lemahnya militer atau kurangnya informasi. Akar sesungguhnya terletak pada kerangka nation-state warisan kolonial yang memecah belah umat menjadi puluhan negara. Setiap penguasa lebih sibuk menjaga kurs dan perdagangan, menghitung untung-rugi politik, daripada membela nyawa saudaranya seiman.


Watak kapitalistik yang telah mendarah daging menjadikan materi sebagai kompas kebijakan. Perdagangan, investasi, dan kestabilan mata uang lebih diprioritaskan daripada darah dan kehormatan umat. Hubungan dagang, kerja sama militer, bahkan penjualan energi kepada pihak yang mendukung Zionis tetap berjalan.


Inilah pengkhianatan nyata. Mereka lebih takut kehilangan dukungan Barat daripada kehilangan ridha Allah. Bahkan ada negeri-negeri Muslim yang tanpa malu melanjutkan normalisasi hubungan dengan Israel, tepat di tengah kobaran genosida.


Akar Masalah: Kapitalisme Global


Sistem kapitalisme global telah menjadikan pemimpin Muslim seperti boneka yang terikat pada kepentingan asing. Selama sistem ini bertahan, kebisuan dan pengkhianatan akan terus berulang. Gaza hanyalah salah satu korban. Besok atau lusa, wilayah lain di dunia Islam bisa mengalami nasib yang sama.


Kapitalisme mengajarkan diplomasi tanpa moral, perdagangan tanpa kemanusiaan, dan politik tanpa iman. Tidak heran jika penderitaan Gaza hanya menjadi statistik di meja rapat para penguasa, bukan panggilan untuk bergerak.


Solusi Hakiki: Persatuan Umat dan Kepemimpinan Islam


Islam tidak hanya memberi solusi tambal sulam. Islam menawarkan sistem hidup yang menutup akar kezaliman. Dalam sejarah, umat Islam pernah berdiri tegak sebagai negara adidaya yang menguasai peradaban, memimpin perdagangan, mengatur politik dunia, dan menebarkan keadilan hingga ke pelosok bumi. Kekuatan itu lahir dari persatuan akidah, kepemimpinan yang kokoh, dan penerapan syariat secara menyeluruh. 


Kepemimpinan Islam tidak akan berhenti pada kecaman atau sekadar mengirim bantuan terbatas. Ia akan mengirim pasukan untuk memutus blokade, membebaskan wilayah yang diduduki, dan menegakkan kedaulatan umat. Diplomasi internasionalnya bukan untuk mengemis simpati, melainkan untuk menekan musuh dengan kekuatan yang nyata.


Saatnya Berhenti Menunggu


Kita tidak bisa terus berharap pada sistem kapitalis yang justru melanggengkan penderitaan Gaza. Umat harus bangkit menuntut penerapan syariat Islam secara kaffah sebagai satu-satunya cara menghentikan genosida ini secara tuntas.


Selama umat Islam terus terikat pada sistem kapitalisme yang memecah belah dan melumpuhkan potensi mereka, genosida akan terus berulang, hanya berganti wajah dan metode. Saatnya umat berhenti berharap pada janji-janji kosong dunia, dan kembali kepada satu-satunya sistem yang terbukti mampu melindungi darah, kehormatan, dan kemerdekaan umat,  kepemimpinan Islam yang menerapkan syariat Islam secara kaffah.


Karena hanya dengan kepemimpinan itu, penjajahan dapat diakhiri, dan Gaza tidak lagi menjadi penjara kematian, melainkan kembali menjadi tanah yang merdeka.


Bukan hanya untuk Palestina, tapi untuk seluruh umat manusia yang kini terjebak dalam sistem zalim yang sama. Karena ketika kepemimpinan Islam tegak kembali, blokade akan dipecahkan, penjajahan akan diakhiri, dan setiap anak Muslim akan tumbuh tanpa takut pada lapar atau peluru.


Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update