Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam Memutus Rantai Kemiskinan

Friday, August 15, 2025 | Friday, August 15, 2025 WIB Last Updated 2025-08-15T05:24:23Z

 


Oleh. Irohima

Libur panjang sekolah telah berlalu, para peserta didik kini memasuki tahun ajaran baru. Tak hanya awal sekolah yang baru, baju baru dan peralatan sekolah yang baru dan harapan baru, namun dunia pendidikan juga dihadapkan pada setumpuk persoalan baru.

Persoalan baru yang menambah daftar panjang persoalan dunia pendidikan terkait fasilitas gedung sekolah baru saja terjadi di Bandung. Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A Pajajaran, mengalami pengurangan ruang belajar, yang tadinya berjumlah empat ruangan, kini hanya terdapat tiga ruangan, karena digunakan oleh Sekolah Rakyat (SR), sebuah program dari Kementerian Sosial (Kemensos).

Karena pengurangan ruangan, siswa terpaksa dipadatkan dalam kelas yang tersisa, akibatnya ada dua guru yang mengajar dalam satu kelas dengan murid yang memiliki kebutuhan yang berbeda. Bagi siswa yang memiliki karakterisitik difabel, pemadatan siswa dalam satu ruangan akan memberikan dampak yang signifikan pada kualitas pembelajaran mereka. Misalnya siswa yang tuna netra yang mengandalkan pendengaran saat belajar, tentu fokus mereka akan teralihkan ketika terdapat dua orang guru yang sama-sama berbicara dan mengajar.

Menurut Rian Ahmad Gumilar, selaku Tim Pengembang Kurikulum SLBN A Pajajaran, ruang belajar SLBN yang diambil alih oleh  Sekolah Rakyat disebabkan oleh status lahan yang digunakan SLBN A Pajajaran di Wyata Guna berdiri di atas lahan Kemensos, pengurangan ruangan ini tidak akan terjadi jika saja SLBN berdiri di atas lahan Pemprov Jawa Barat. Upaya untuk memperjuangkan status lahan tersebut sebenarnya sudah pernah dilakukan, bahkan dari era Gubernur Ahmad Hermawan hingga Ridwan Kamil, namun pengajuan hibah tanah untuk SLBN ditolak (Pikiran Rakyat, 20-07-2025).

Masih minimnya fasilitas pendidikan tentu menjadi fakta yang menyedihkan dan tak sejalan dengan program SR yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai langkah strategis untuk membuka akses pendidikan berkualitas kepada anak-anak keluarga miskin dan miskin ekstrem dalam upaya memutus rantai kemiskinan.

Program Sekolah Rakyat merupakan inisiatif langsung dari Presiden Prabowo, yang ditujukan untuk memutus rantai kemiskinan antar generasi, namun sejatinya program ini bukanlah solusi untuk mengentaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran yang meledak saat ini. Realitanya, kemiskinan yang terjadi saat ini merupakan kemiskinan struktural yang tidak akan selesai hanya dengan memasukkan anak-anak keluarga miskin ke Sekolah Rakyat.

Kemiskinan yang selalu menjadi PR besar negeri ini, sesungguhnya bisa terjadi karena disebabkan oleh faktor yang beragam, bukan hanya kurangnya akses pendidikan dan pengajaran, namun bisa juga disebabkan oleh ketimpangan ekonomi, distribusi pendapatan yang tidak merata, korupsi, tata kelola yang buruk dan lain sebagainya. Kehidupan yang sulit, harga kebutuhan yang serba naik, ditambah lagi dengan populasi pertumbuhan penduduk yang makin padat dan lapangan pekerjaan yang tidak seimbang dengan pencari pekerjaan makin menambah kondisi makin ruwet.

Keberadaan SR yang gratis memang disambut oleh sebagian kecil orang dengan suka cita, tapi persoalan pendidikan saat ini bukan hanya tentang pendidikan yang tidak bisa diakses oleh keluarga miskin tapi lebih dari itu. Banyak persoalan terkait seperti kualitas, sarana dan prasarana yang minim, kecukupan dan kualitas tenaga pendidik dan lain-lain. Peluncuran program SR tak lain hanya sekedar solusi tambal sulam yang tidak menyelesaikan persoalan. Tak berbeda jauh dnegan kebijakan populis MBG yang sama sekali tidak menyentuh akar persoalan.

Karut marut yang terjadi hari ini sejatinya merupakan dampak dari diterapkannya sistem kapitalisme. Sistem ini meniscayakan negara sebagai institusi yang bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya tidak memiliki fungsi sebagai pengurus rakyat dalam menyediakan layanan pendidikan dan menjamin kesejahteraan rakyat, sistem ini justru menjadikan negara hanya sebagai regulator oligarki.

Sistem kapitalis yang dibangun di atas akidah sekuler memisahkan seluruh aspek kehidupan dari agama, termasuk aspek ekonomi. padahal aspek ini sangat vital dalam kehidupan. kepemilikan yang bebas dalam kapitalisme, membuat sumber daya umat yang di dalamnya terdapat harta milik umat seperti air, tambang, migas, listrik dan lain sebagainya bisa dimiliki dan dimanfaatkan oleh segelintir korporat.

 Sistem ekonomi kapitalis juga hanya fokus pada peningkatan produksi dan akumulasi kekayaan, seluruh akses mencapai  kesejahteraan hanya terkonsentrasi pada pemilik modal besar, walhasil, terciptalah kemudian yang namanya kesenjangan ekonomi ekstrem antara si pemilik modal dan yang tak memiliki modal ( kaya dan miskin), semua akibat dari distribusi kekayaan tyang tidak adil dan merata.

Berbeda terbalik dengan ekonomi dalam Islam. Sistem Islam memiliki tata kelola ekonomi dengan tujuan distribusi kekayaan bukan akumulasi kekayaan, yang berarti sistem ekonomi dalam Islam bukanlah menciptakan segelintir korporasi melainkan mendistribusikan kekayaan kepada seluruh rakyat secara individu per individu secara merata.

Sistem kepemilikan dalam Islam juga diatur dengan jelas dan tegas, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umat seperti air, tambang, migas dan lain-lain yang tak boleh dikuasai atau dimiliki oleh individu atau swasta. Pengelolaan segala harta yang berstatus milik umat, sepenuhnya wajib dikelola oleh negara yang hasilnya akan dikembalikan untuk kemaslahatan umat. Kepemilikan berikutnya adalah kepemilikan negara, yaitu harta yang menjadi milik negara sebagai lembaga yang mewakili umat dalam pengelolaan seperti kharaj, fa’i, jizyah, ghanimah, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, sudah tak bisa dielakkan lagi bahwa kapitalisme adalah sumber masalah dari segala masalah yang telah meracuni kehidupan kita dan sistem ini juga telah gagal dalam menciptakan kesejahteraan, dan justru melegalkan perampokan sumber daya alam milik rakyat melalui UU yang dibuat. Sudah saatnya kita  campakkan sistem yang telah menyengsarakan dan beralih kepada sistem Islam yang akan menjamin kesejahteraan. Hanya sistem Islam, satu-satunya sistem yang akan membawa keberkahan.

Wallahu a'lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update