Oleh : Jumiliati
Menjalani kehidupan memang penuh dengan suka duka yang silih berganti, terkaday kebahagiaan itu datang, dan duka pun tiba-tiba datang tak diundang, namun itu semua tidak berlaku bagi warga Gaza, karena hampir dua tahun sudah mereka dilanda badai Genosida yang seolah tiada akhirnya.
Dikutip dari CNBN Indonesia Jakarta pada Jum'at 8 Agustus 2025, Ditengah desakan global terhadap operasi militer yang terjadi di Palestina, yang mendekati dua tahun lamanya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merencanakan akan kuasai jalur Gaza secara total.
Meskipun Israel mengaku tidak akan terang - terangan menguasai Gaza, akan tetapi menyerahkan Gaza kepada kekuasaan Arab, namun tidak diumumkan negara mana saja yang masuk didalamnya dan bagaimana mengaturnya. Penjelasan ini muncul disaat membicarakan rencana baru menduduki wilayah Gaza yang belum berada di bawah kekuasaan Israel dengan mengusir warga sipil dengan dalih evakuasi.
Pernyataan Menteri Israel tersebut tentu saja mendapat kecaman langsung dari Hamas yang mengatakan bahwa rencana Israel merupakan " Kudeta terang-terangan terhadap proses negosiasi ". Bahkan Hamas mengatakan bahwa perluasan agresi Israel meyakinkan bahwa mereka berupaya membuang tawanan nya dan menumbalkannya. Hamas juga mengatakan bahwa dibentuknya pemerintahan alternatif untuk Gaza diduga merupakan perpanjangan tangan Israel .
Semakin hari perang Gaza - Israel semakin tak terkendali, ini bukanlah perang tapi pembantaian yang sangat kejam. Penyerangan terhadap Hamas hanya alibi Israel untuk melenyapkan warga Gaza sebagai ekspansi mereka. Tak ada lagi tempat aman bagi warga sipil Gaza saat ini, ditengah penderitaan yang dirasakan justru para pemimpin Arab bukannya membantu Hamas untuk melindungi warga Gaza justru yang mereka lakukan adalah bergandengan tangan dengan Israel bahkan mendesak Hamas untuk menyerah, dan menurunkan senjata.
Sudah cukup lama Israel membantai Gaza secara brutal dan menduduki Gaza sebagai bagian dari ekspansinya untuk mendirikan Israel raya. Kecaman global yang meminta Israel menghentikan Genosida Gaza seakan hanya angin lalu tak berarti. Jangankan kecaman pelanggaran perang pun seolah terbiasa menjadi santapan Israel, bahkan saat ini Israel akan membelah Tepi Barat Palestina.
Sesungguhnya yang dibutuhkan Gaza saat ini adalah tentara yang dapat memerangi dan mengusir Zionis Israel dari tanah para Nabi. Bukan berarti bantuan pangan dan obat-obatan tak berguna, namun makanan dan obat hanya solusi sesaat tanpa memutus rantai pembantaian yang terjadi.
Tapi bantuan tentara itu hanyalah khayalan saja didalam sistem kapitalis liberalis ini, ditambah lagi sekat nasionalisme yang memisahkan tali persaudaraan kaum muslimin untuk saling membela. Genosida Gaza ini tak akan berakhir jika hanya diam dan merasa nyaman hidup ditengah sistem thagut ini, karena umat muslim tak memiliki perisai yang mampu melindungi keselamatan umat.
Pembebasan Gaza hanya bisa terwujud dengan menegakkan kembali kehidupan islam dalam bingkai khilafah, karena hanya khilafah sebagai institusi sistem pemerintahan islam, yang memiliki satu kepimpinan dalam seluruh wilayahnya mampu mengomando tentara muslim untuk membebaskan Gaza dari Genosida Zionis penjajah. Sejarah telah mencatat Sayidina Umar bin Khattab dan Salahuddin Al- Ayyubi sebagai pimpinan khilafah (kholifah) yang membebaskan tanah Palestina.
Sudah saatnya sekarang kaum muslimin diseluruh dunia bersegera bangkit untuk mengembalikan kehidupan islam untuk dapat membebaskan Gaza yang merupakan tanah para nabi dengan mengomando tentara jihad yang hanya dimiliki oleh khilafah. Nabi Saw bersabda seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh mendzolimi dan membiarkannya didzolimi. ( HR. Muslim)

No comments:
Post a Comment