Oleh Ndarie Rahardjo
Aktivis Dakwah
Pendidikan di Indonesia semakin mahal, namun kesejahteraan guru justru semakin memprihatinkan. Guru dituntut untuk mencetak generasi unggul, tapi hak-hak mereka justru dilucuti satu per satu. Kasus terbaru adalah dihapusnya Tunjangan Tambahan Penghasilan Guru (TUTA) oleh pemerintah, yang selama ini menjadi tumpuan ribuan guru honorer dan non-sertifikasi untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar.
Ironi di Balik Kemewahan Pendidikan
Fakta di lapangan menunjukkan ketimpangan yang mencolok. Berdasarkan data Kemendikbudristek tahun 2023, jumlah guru honorer di Indonesia masih lebih dari 1 juta orang, mayoritas bergaji di bawah Rp500 ribu per bulan, terutama di daerah tertinggal. Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata biaya masuk sekolah swasta favorit di kota-kota besar mencapai Rp10 juta hingga Rp50 juta, belum termasuk biaya bulanan, seragam, dan kebutuhan lainnya.
UNESCO dalam laporannya tahun 2022 juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kesejahteraan guru terendah di kawasan ASEAN, tertinggal dari Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam. Ironinya, pemerintah selalu mengagungkan pencapaian pendidikan di forum-forum internasional, tetapi gagal memberi penghargaan layak bagi para guru sebagai ujung tombak pendidikan.
Penghapusan TUTA, Pukulan Bagi Guru
Tahun 2024 menjadi tahun kelam bagi banyak guru non-sertifikasi setelah pemerintah resmi menghapus Tunjangan Tambahan Penghasilan Guru (TUTA). Selama ini, TUTA menjadi penopang pendapatan tambahan bagi guru yang belum mengikuti sertifikasi, terutama mereka yang mengajar di pelosok atau daerah terpencil.
Asosiasi Guru Indonesia (AGI) menyatakan, penghapusan TUTA memperparah kondisi guru honorer dan non-sertifikasi. Banyak dari mereka kini hidup di bawah garis kesejahteraan, terpaksa mencari pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan hidup, bahkan ada yang terpaksa meninggalkan profesi mengajar.
Kegagalan Kapitalisme Mengelola Pendidikan dan Guru
Kondisi ini bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi buah dari sistem kapitalisme yang gagal total dalam mengelola dan menghargai guru. Kapitalisme memandang pendidikan sebagai ladang bisnis, bukan kebutuhan dasar rakyat. Pendidikan dikomersialisasi, hanya rakyat berduit yang bisa menikmati layanan terbaik, sementara guru diperlakukan seperti buruh murah.
Kapitalisme juga menumbuhkan ketergantungan guru pada berbagai tunjangan sementara seperti TUTA, yang sewaktu-waktu bisa dicabut tanpa solusi permanen. Akibatnya, guru dipaksa profesional dengan gaji minimal.
Nasib guru bergantung pada kebijakan politik yang tidak berpihak.
Kualitas pendidikan dipermainkan demi kepentingan citra dan statistik semata.
Sumber daya negara dikuasai swasta, sehingga keuangan publik terbatas untuk membayar guru. Selama sistem kapitalisme bercokol, pendidikan tetap menjadi komoditas mahal, sementara kesejahteraan guru terus dikorbankan.
Solusi Islam: Pendidikan Terjamin, Guru Dimuliakan
Islam menawarkan solusi hakiki untuk kesejahteraan guru dan pendidikan berkualitas. Dalam sistem Islam (Khilafah), pendidikan adalah kebutuhan dasar rakyat yang wajib dijamin negara. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Dalam sistem Islam: Pendidikan gratis dan berkualitas. Negara menyediakan pendidikan gratis untuk seluruh rakyat tanpa diskriminasi atau pungutan tersembunyi.
Gaji layak untuk guru: Upah guru dibayar dari Baitul Mal, bersumber dari pengelolaan kekayaan milik umum seperti tambang, minyak, gas, zakat, dan kharaj. Tidak ada ketergantungan pada tunjangan sementara seperti TUTA.
Budaya menghormati guru: Negara Islam membangun kesadaran umat untuk memuliakan guru.
Sejarah peradaban Islam membuktikan, para guru dan ulama hidup sejahtera, dihormati, dan difasilitasi untuk fokus mencetak generasi.
Saatnya Tinggalkan Kapitalisme, Kembali ke Islam
Penghapusan TUTA adalah puncak gunung es dari kegagalan sistem kapitalisme. Pendidikan dijual mahal, guru diperlakukan murahan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, masa depan generasi bangsa berada di ujung tanduk.
Sudah saatnya kita meninggalkan sistem kapitalisme yang zalim, dan kembali kepada sistem Islam yang telah terbukti memuliakan guru, menjamin pendidikan gratis, dan membangun peradaban unggul. Karena hanya dengan Islam, kesejahteraan guru bukan lagi sekadar janji, melainkan kenyataan yang hakiki.
Wallahualam bissawab. []
No comments:
Post a Comment