Di bawah hamparan payung raksasa dan marmer putih Masjid Nabawi, perjalanan haji bukan lagi sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah puncak penantian spiritual yang panjang. Bagi para jemaah yang kini berdiri di sana, setiap jengkal tanah adalah saksi dari bait-bait doa yang rapuh di sepertiga malam serta tabungan materi yang dikumpulkan dengan cucuran keringat bertahun-tahun. Kini, sepasang kaki yang lelah itu benar-benar berpijak di tempat manusia paling mulia, Rasulullah SAW, pernah berjalan, mengimami salat, dan membangun peradaban cinta.
Magnet sejati tempat ini berada di sudut dalam masjid, tempat sebuah struktur indah bercat hijau tegak berdiri menandungi Makam Rasulullah SAW. Saat berjalan pelan melewati area Raudah—taman surga yang diperebutkan jutaan manusia—suasana seketika berubah menjadi sunyi di dalam dada. Air mata menetes begitu saja tanpa permisi saat lisan mulai bergetar melantunkan salam kepada Baginda Nabi dan para sahabat yang dimakamkan di sana.
Di sinilah rindu yang selama ini hanya bisa dititipkan lewat selawat pasca-salat di tanah air, akhirnya tumpah seutuhnya secara langsung.
Getaran rindu ini terasa berkali-kali lipat lebih dalam ketika jemaah mengingat kembali sejarah Madah Nabi melalui bait-bait Qasidah Burdah yang legendaris. Kilas balik sejarah membawa ingatan pada Ka'ab bin Zuhair, sahabat yang datang dengan ketakutan namun pulang diselimuti jubah (burdah) perlindungan langsung dari tangan suci Rasulullah, serta Imam Al-Bushiri yang sembuh dari kelumpuhannya setelah memuji Nabi dalam mimpi.
Bagi jemaah haji hari ini, walau tidak membawa pulang jubah fisik, ada jubah kedamaian tak kasat mata yang menyelimuti hati mereka setiap kali melantunkan selawat di sela-sela ibadah. Mereka datang membawa beban dosa dan penatnya dunia, namun di hadapan makam sang Nabi, semua lelah itu menguap berganti harapan akan syafaat di hari akhir nanti.
Ketika azan bergema dari menara-menara tinggi dan jutaan jemaah dari berbagai belahan dunia bersujud dalam satu saf yang rapat, tatapan mereka kembali tertuju pada Kubah Hijau. Di sanalah letak romansa tertinggi seorang mukmin: mencintai seseorang yang belum pernah mereka lihat wajahnya, namun kehadirannya terasa begitu dekat di kota ini. Pertemuan spiritual di Madinah ini pada akhirnya menjadi sebuah madrasah hati, agar kelak saat koper-koper mulai dikemas untuk pulang, para jemaah tidak kembali dengan tangan kosong. Mereka pulang membawa potongan akhlak Madinah—keramahan, ketegasan, dan keadilan Rasulullah serta para sahabat—untuk dihidupkan kembali dalam keseharian di tanah air.
Mia Fitriah Elkarimah
el.karimah@gmail.com

No comments:
Post a Comment