Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kasus HIV/AIDS Mengancam Bonus Demografi

Wednesday, June 17, 2026 | Wednesday, June 17, 2026 WIB

 


Oleh: Rasyidah (Pegiat Literasi)


Di tengah fokus pemerintah dan masyarakat terhadap persoalan stunting, tuberkulosis, serta berbagai penyakit tidak menular, ancaman HIV/AIDS di Indonesia justru terus berkembang tanpa banyak mendapat perhatian publik. Meski tidak menimbulkan kepanikan seperti pandemi Covid-19, dampak HIV terhadap kesehatan masyarakat, produktivitas tenaga kerja, hingga keberhasilan bonus demografi nasional dinilai sangat serius (Nusantaraabadinews.com 9 juni 2026).


Di kutip Metrotvnews.com 11 juni 2026, tantangan besar Indonesia dalam upaya menemukan, mengobati, dan mengendalikan penyebaran HIV. Kasus HIV/AIDS didominasi usia muda (usia produktif) sehingga mengancam bonus demografi. Penyebab tertinggi adalah lelaki suka lelaki (homoseksual).


Ironis, negeri yang bermayoritaskan Muslim mempunyai problem yang bikin geleng-geleng kepala yaitu virus HIV/ AIDS. Walaupun setiap tahunnya di peringati hari AIDS sedunia namun hanya sebatas kampanye kosong tanpa berbuah hasil. Tidak akan ada asap jika tak ada api. Tak ada akibat jika tak ada sebab. Begitulah hukum alam yang berlaku di bumi. Penyakit berbahaya ini bukanlah tanpa sebab musabab. Penyakit ini tersebar luas karena prinsip kebebasan yang kebablasan.


Pergaulan bebas dan menyimpang menyebabkan peningkatan kasus HIV/AIDS pada generasi muda. Jika kerusakan ini terus terjadi, yang kita peroleh bukan bonus demografi, tetapi bencana demografi. Kaum homoseksual saat ini makin berani memamerkan penyimpangannya di depan publik. Mereka bahkan dengan bangga mengaku positif HIV dan mengonsumsi ATR. 


Maraknya kasus HIV/aids sesungguhnya tak lepas dari makin liarnya perilaku manusia dalam pergaulan. Pacaran yang menjadi pintu sex bebas hingga prilaku menyimpang seperti LGBT tumbuh subur di negara sekular. Dilepaskannya aturan agama dari mengatur kehidupan menjadi biang yang menyuburkan perilaku tersebut.


Kebebasan berperilaku menjadi sesuatu yang diagungkan bahkan dilindungi oleh negara atas nama HAM. Setiap individu bebas berbuat semaunya, asal tidak menganggu hak individu lainnya meskipun kenyataannya tak selalu begitu.


Akar masalah HIV/AIDS adalah tata pergaulan yang bebas dalam sistem sekuler kapitalisme (aspek hulu). Namun, upaya pemerintah justru lebih banyak pada aspek hilir (deteksi, penanganan, pengobatan), akar masalahnya tidak diselesaikan. Berbagai macam upaya telah dilakukan oleh pemerintah. Mulai dari penyuluhan, pendampingan, hingga sosialisasi alat kondom dan yang lainnya. Namun, agaknya belum sedikit pun membuahkan hasil, bahkan semakin berkembang penyebarannya. Karena nyatanya pemerintah tidak benar-benar serius menyelesaikan problem HIV/AIDS, justru yang terjadi makin menyebar luas penyebarannya. Dan Solusi yang di tawarkan oleh pemerintah adalah solusi tambal sulam.


Keberadaan media yang bebas dan sistem sanksi yang tidak menjerakan menjadikan kerusakan pergaulan makin luas. Serta kebebasan berperilaku menjadi sesuatu yang diagungkan bahkan dilindungi oleh negara atas nama HAM. Setiap individu bebas berbuat semaunya, asal tidak menganggu hak individu lainnya meskipun kenyataannya tak selalu begitu.


Tentu penyebaran HIV/AIDS akan terus menyebar luas jika hari ini kita masih dominan mengadopsi sistem sekulerisme kapitalisme, yang menjadi dasar atas problematika kerusakan saat ini. Sudah saatnya sadari dan pahami bahwa sistem saat ini adalah sistem yang rusak dan merusak. Maka inilah waktunya untuk sadar dan bangkit kembali untuk menerapkan sistem islam dalam kehidupan.


Islam adalah agama spiritual sekaligus agama politik yang dapat mengatur urusan manusia. Sumber hukum aturan yang digunakan jelas dari sang Al-Hakim yakni Allah SWT. Penerapan sistem Islam secara kaffah mempunyai mekanisme dalam menghentikan laju perkembangan HIV/AIDS yaitu:


Promotif, Islam menganjurkan seorang Muslim untuk memelihara kehormatannya. Jika telah siap maka diperintahkan menikah sesuai dengan syariat Islam. Namun jika belum siap, maka Islam menyunahkan berpuasa. Islam juga memiliki aturan pergaulan yang mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan. Sehingga setiap orang bisa memenuhi hak dan kewajiban.

Preventif, adalah pencegahan. Maknanya Islam memiliki metode yang dapat mencegah penyakit ini tidak menular ke yang lainnya. Islam mengharamkan zina ataupun narkoba dan sejenisnya yang merusak akal. Oleh karena itu Islam juga memberikan sanksi yang tegas bagi pelakunya. Negara pun memberantas sarana-sarana maksiat seperti lokalisasi, night club, diskotik, dan sejenisnya. Tidak akan ada sarana-sarana yang dapat dimanfaatkan untuk bermaksia.


Sistem Islam melarang pergaulan bebas. Sistem pergaulan dalam Islam mewajibkan pemisahan kehidupan laki-laki dan perempuan, kecuali pada hal-hal yang dibolehkan syariat, seperti muamalah, pengobatan, dll. Sistem Islam melarang hubungan seksual sesama jenis sehingga tidak menjadi sarana penularan HIV/AIDS.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update