Oleh : Khoirunnisa, S.E.I_
_(Aktivis Pakwah Pemerhati Ibu dan Anak)_
_"Sungguh, urusan ini (umat Islam) akan terus tegak selama mereka tidak menyerah pada musuh-musuhnya."_— (HR. Abu Dawud)
*Gaza Masih Membara, Umat Harus Sadar*
Pagi itu, dunia kembali mencatat angka yang semakin memukul nurani. Lebih dari 56 ribu jiwa telah gugur di Gaza, dibantai oleh entitas penjajah Zionis dalam agresi militer yang tidak mengenal peri kemanusiaan. Di balik angka itu, ada nyawa anak-anak, ada tangis perempuan, ada rintih sakit orang tua yang rumahnya hancur dan keluarganya lenyap di bawah reruntuhan. (CNBC Indonesia, 29 Juni 2025).
Namun dunia tetap diam. Bahkan sebagian pemimpin negeri-negeri Islam justru sibuk menjilat Barat, bukan menolong Gaza. Tidak ada satu pun penguasa negeri muslim yang sungguh-sungguh menggerakkan kekuatan militer mereka untuk menyelamatkan Palestina. Yang terdengar hanya pernyataan basa-basi, penyaluran bantuan kemanusiaan yang dipolitisasi, dan desakan agar Zionis menerima “solusi dua negara”—yang sejatinya adalah solusi palsu yang merendahkan umat dan melanggengkan penjajahan.
Namun, siapa pun yang memperhatikan dengan jujur akan segera menyadari bahwa tragedi Gaza bukan sekadar episode kekerasan, melainkan bagian dari skenario panjang penghinaan terhadap umat Islam. Penderitaan di Gaza adalah wajah dari kelemahan politik umat yang tercerai-berai, ketika negeri-negeri Muslim dipaksa tunduk pada garis batas buatan kolonial dan tidak lagi memiliki pelindung yang mampu menyatukan kekuatan mereka dalam satu komando jihad.
Sementara itu, Iran, Yaman, dan beberapa pihak lainnya memang menunjukkan dukungan. Tapi dukungan parsial dan simbolik tak akan cukup melawan kekuatan militer Zionis yang didukung penuh oleh negara-negara adidaya Barat. Gaza butuh lebih dari sekadar simpati dan bantuan logistik—Gaza membutuhkan pasukan pembebas, sebagaimana dahulu Salahuddin membebaskan Al-Quds, bukan diplomasi yang memperpanjang penderitaan.
*Solusi Dua Negara: Konspirasi Memecah Umat*
Apa itu solusi dua negara? Ini adalah narasi yang dibangun oleh Barat untuk memisahkan Palestina menjadi dua: satu wilayah kecil untuk rakyat Palestina, dan sisanya dikuasai oleh entitas Zionis. Konsep ini telah diajukan sejak lama, namun tidak pernah menghentikan penjajahan. Justru sejak ide ini dikampanyekan, penjajahan makin merajalela, dan rakyat Palestina semakin terkepung.
Yang lebih menyakitkan, beberapa pemimpin dunia Islam, termasuk dari Indonesia, justru aktif mendorong solusi ini. Padahal jelas, rakyat Palestina yang lurus dan istiqamah tidak pernah menginginkan solusi yang menyerahkan sejengkal pun tanah mereka kepada penjajah. Mereka tidak ingin mengkhianati darah para syuhada yang telah berkorban mempertahankan Al-Quds. Mereka tidak mau mengkhianati perjanjian ‘Umariyah yang secara tegas menetapkan bahwa Baitul Maqdis adalah tanah kaum Muslimin.
*Pengkhianatan Penguasa Muslim: Luka yang Lebih Dalam*
Jika penjajahan oleh Zionis adalah luka terbuka, maka pengkhianatan penguasa-penguasa negeri Muslim adalah pisau yang menusuk dari belakang. Sebagian malah menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan penjajah, dengan dalih stabilitas kawasan. Bahkan ada yang mengizinkan pasukan Amerika Serikat bercokol di tanah mereka, menggunakan pangkalan militer untuk menyerang saudara-saudara mereka di Gaza. Bukankah ini pengkhianatan yang nyata?
Lebih ironis lagi, ketika rakyat Gaza mengangkat senjata sebagai bentuk perlawanan, mereka dicap teroris oleh dunia. Sementara penjajah yang membombardir rumah sakit dan sekolah justru dilabeli sebagai negara yang "berhak mempertahankan diri".
Ini semua terjadi karena umat Islam hidup tanpa pelindung sejati. Kita tidak punya perisai. Kita tidak punya satu kekuatan pemersatu yang mampu bergerak cepat dan tegas membela kehormatan umat. Itulah akibat dari absennya Khilafah Islam.
*Khilafah: Solusi Hakiki, Bukan Fantasi*
Syekh ‘Atho’ Abu Rasytah menegaskan dalam salah satu risalahnya:
"Sesungguhnya tentara-tentara umat ini akan bergerak ketika umat telah membuang para pengkhianat dari tengah mereka dan mengangkat seorang khalifah yang memimpin mereka dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya."
Pernyataan ini bukan sekadar seruan emosional, tetapi panggilan strategis bagi perubahan hakiki. Umat ini memiliki potensi kekuatan militer, ekonomi, dan sumber daya manusia yang dahsyat—namun semua itu terpenjara di balik sistem yang tidak menjadikan Islam sebagai panglimanya.
Kini, di tengah asap dan reruntuhan Gaza, fajar itu mulai tampak di ufuk timur. Kesadaran umat terus tumbuh, suara-suara kebangkitan semakin menggema. Gaza bukan sekadar luka—ia adalah tanda, bahwa umat ini sedang dibangunkan oleh darah para syuhada.
Sebagian akan berkata: “Menyerukan Khilafah di saat Gaza dibantai, apakah itu tidak berlebihan?” Justru, inilah waktu yang paling tepat untuk menyuarakan solusi hakiki. Karena faktanya, tanpa Khilafah, sudah puluhan tahun Gaza dibantai. Sudah sejak 1948 kita mengandalkan PBB, Konferensi Perdamaian, perundingan damai, dan semua instrumen buatan Barat—namun tidak pernah membawa kemerdekaan sejati bagi Palestina.
Khilafah bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia adalah sistem politik yang pernah nyata menjaga kehormatan umat Islam selama lebih dari 13 abad. Di bawah Khilafah, Palestina bebas. Di bawah Khilafah, kaum Yahudi bahkan diberi hak hidup berdampingan selama mereka tunduk pada hukum Islam. Namun ketika Khilafah diruntuhkan pada tahun 1924, Palestina pun menjadi mangsa empuk para penjajah.
Dengan Khilafah, jihad bukan lagi aktivitas gerilya terisolasi. Ia akan menjadi komando resmi negara untuk membebaskan negeri-negeri Islam yang terjajah, termasuk Palestina. Khilafah akan memobilisasi umat dengan strategi militer, diplomasi internasional yang kuat, dan kekuatan ekonomi yang berdaya saing. Inilah yang ditakuti Barat. Inilah kenapa mereka mati-matian mencegah kebangkitan Islam.
*Bangkit atau Hilang Selamanya*
Saat ini, darah Gaza bukan hanya menggenangi tanah Palestina. Ia telah menyentuh hati jutaan umat Islam di seluruh dunia. Tapi air mata tidak cukup. Doa saja tidak memadai. Sudah saatnya kita menjadikan ini sebagai titik balik kebangkitan umat.
Kita harus berhenti berharap pada solusi palsu. Kita harus menolak solusi dua negara. Kita harus menolak normalisasi hubungan dengan penjajah. Dan yang paling penting, kita harus mendukung perjuangan ideologis untuk menegakkan Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
Perjuangan ini bukan perjuangan retoris. Ia adalah perjuangan panjang yang dilakukan oleh para dai dan aktivis dakwah yang telah bertahun-tahun mengedukasi umat dengan pemikiran Islam ideologis. Mereka tidak membawa senjata, tapi membawa kesadaran. Mereka tidak menjanjikan kekuasaan instan, tapi menjanjikan perubahan hakiki.
*Penutup: Gaza Memanggil, Allah Menanti Jawaban Kita*
Kita semua akan ditanya kelak, “Apa yang kamu lakukan ketika saudaramu di Gaza dibantai?” Jika jawabannya hanya menonton dan berdoa, maka kita belum layak disebut sebagai penolong agama ini.
"Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan) pembelaan agama, maka wajib bagimu menolong mereka…" (QS. Al-Anfal: 72)
Gaza tidak membutuhkan simpati pasif. Gaza membutuhkan gerakan aktif dari seluruh umat Islam untuk mewujudkan perisai sejati: Khilafah Islam. Wahai umat Islam, fajar itu sudah mulai menyingsing. Kita hanya perlu bangkit dan menyambutnya. Karena jika bukan kita, siapa lagi? Dan jika bukan sekarang, kapan lagi? Wallahu ‘alam bi ash showwab

No comments:
Post a Comment