Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banjir Berulang Kapitalisme Harus Dibuang

Saturday, July 19, 2025 | Saturday, July 19, 2025 WIB

Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Islam Kaffah)

Saat banjir melanda, kata 'mau bagaimana lagi' seakan menjadi kepasrahan warga karena air senantiasa datang tanpa diundang. Begitulah yang terjadi di beberapa daerah di kota Bekasi. Banjir menjadi peristiwa yang tak asing lagi bagi warga Bekasi, terutama yang selalu langganan dengan datangnya banjir. Tanpa solusi banjir selalu datang dan pergi.

Sebetulnya bukan hanya Bekasi, banyak juga kota lain di negeri ini yang bernasib sama. Jakarta, Bandung, Karawang dan masih banyak lagi menjadi pelanggan banjir, yang  setia setiap saat bagai enggan untuk terpisahkan. Mengapa ini bisa terjadi dan terjadi lagi? 

Pembangunan Kapitalistik Biang Keladi

Setelah ditelisik, banjir yang kerap kali  melanda negeri tentunya tidak muncul tiba-tiba. Pembangunan tanpa mitigasi, pengalih fungsian lahan, tak ada rencana matang, menyumbang peran semakin betahnya banjir menggenangi negeri.  Di beberapa kota dinnegeri ini, wilayah yang seharusnya menjadi daerah resapan air dialihfungsikan menjadi ladang jagung sebagai bagian Proyek Strategi Nasional. Demikian juga di beberapa kota lainnya, daerah yang harusnya menjadi daerah serapan, dijadikan arena wisata atau  dipenuhi permukiman. 

Pembangunan kapitalistik yang dibangun atas keuntungan materi, terlalu picik. Daya dukung lingkungan tidak menjadi perhatian. Demi cuan, keserakahan menghiasi pembangunan tetap dilakukan tanpa perhitungan. Keuntungan dikejar, kerusakan diabaikan, derita rakyat dibiarkan. Kerugian harta dan jiwa menghiasi.

Sungguh, pembangunan kapitalistik telah jauh dari aturan Allah. Hingga hawa nafsu membelenggu dan memproduksi aturan rusak dan merusak. Firman Allah ta'ala

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41).

Pembangunan Islami Menjaga Negeri

Berbeda dengan Islam. Pembangunan dalam Islam berangkat dari kewajiban negara dalam memenuhi kebutuhan asasi rakyat. Prioritas pembangunan tidak dilihat apakah bernilai ekonomi atau tidak, namun berdasarkan kemaslahatan bagi umat sesuai dengan syariat.

Dalam sistem Islam, paradigma pembangunan sangat memperhatikan kondisi lingkungan. Keseimbangan alam dijaga dengan mitigasi yang tepat.  Rencana pembangunan tidak berbasis keuntungan semata. Karena jika realisasinya akan merusak alam dan merugikan masyarakat, larangan pembangunan akan diputuskan. Negara berperan langsung menentukan tata  wilayah yang tepat hingga pembangunan tidak berdampak pada kerusakan. 

Dalam paradigma pembangunan, sistem Islam menetapkan penguasa (Khalifah), dengan penuh Iman Taqwa menentukan kawasan mana yang tepat untuk permukiman, perkantoran, industri,  pertanian, pengairan, konservasi hutan, DAS (Daerah Aliran Sungai)  dan sebagainya. Pembangunan fasilitas publik pun diatur sehingga masyarakat mudah mengaksesnya, sedangkan untuk industri dan pertambangan dijauhkan dari permukiman agar tidak membahayakan masyarakat. Sehingga kasus alih fungsi lahan yang menyebabkan dampak buruk terhadap masyarakat dan lingkungan tidak terjadi.

Oleh karena itu pembangunan dalam sistem Islam (Khilafah) sangat hebat, sekalipun pesat namun sangat menjaga kelestarian  lingkungan, sehingga datangnya bencana (banjir) dapat dihindari dan ditangani dengan baik. Masyarakat merasa aman dan nyaman tinggal di lingkungannya. 

Sungguh, dengan paradigma pembangunan yang terikat dengan hukum syarak  serta berorientasi pada kemaslahatan rakyat selama hampir 14 abad  oleh Khilafah, membuktikan ciri khas tingginya peradaban Islam. Simbol kejayaan sebuah negara yang menjadi pusat ideologi (studi Islam),  ilmu pengetahuan, ekonomi, dan politik pemerintahan. 

Sudah saatnya membuang kapitalisme sejauh-jauhnya. Karena biang semua kerusakan, tidak terkecuali banjir sebagai bencana berulang di negeri ini, adalah karena diterapkannya sistem kapitalisme sekuler dalam setiap paradigma Menggantikan dengan sistem Islam Kaffah bukan lagi sebatas wacana, namun harus diperjuangkan dan diterapkan secara nyata.

Wallaahu a'laam bisshawaab.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update