By : Verry Verani
Konflik politik antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi sorotan publik internasional. Meskipun pernah menjalin hubungan erat, kini keduanya saling menuding terkait kebijakan di Timur Tengah. Perbedaan kepentingan politik dan perubahan sikap Trump dalam isu-isu strategis kawasan memicu ketegangan antara kedua pemimpin tersebut.
Dilansir dari REPUBLIKA.CO.ID,
DOHA (9 /5)
*Beberapa Pemicu Konflik*
Mohannad Mustafa, pakar urusan Israel, menyebut bahwa pemerintahan Trump bertindak dalam empat isu regional yang tidak sesuai dengan visi Netanyahu. Hal ini memicu gesekan politik di antara mereka.
Kebijakan yang dianggap merugikan Israel, sehingga menimbulkan kekecewaan di kalangan pejabat Zionis.
Diantaranya,
_Pertama_ Kesepakatan dengan Houthi: Pemerintah Trump menandatangani perjanjian terkait kapal-kapal di Laut Merah. Kesepakatan ini dipandang tidak sejalan dengan kepentingan Israel, yang justru mendukung blokade di kawasan tersebut.
_Kedua_ Pembicaraan dengan Iran: Trump membuka dialog dengan Iran mengenai program nuklirnya, padahal Israel berharap AS tetap menerapkan tekanan maksimal terhadap Teheran.
_Ketiga_
Suriah dalam Pengaruh Turki: Dalam pertemuan di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa Suriah berada dalam lingkup pengaruh Turki.
Pernyataan ini memicu ketidakpuasan dari pihak Israel karena menguatkan posisi Turki di kawasan.
_Keempat_
Proyek Nuklir AS-Saudi: Kesepakatan nuklir antara AS dan Arab Saudi tanpa normalisasi hubungan Riyadh-Tel Aviv membuat Netanyahu merasa AS tidak sepenuhnya mendukung kepentingan Israel.
Disisi lain,
Trump merasa bahwa Netanyahu telah memanipulasinya, terutama karena Netanyahu tidak berhasil menyajikan rencana konkret terkait isu Iran dan Houthi Yaman. Selain itu, Netanyahu juga gagal menawarkan proposal konkret mengenai solusi di Gaza.
*Hegemoni Ideologi: Barat, Zionis, Terhadap Dunia Islam*
Jika terjadi konflik kepentingan di mana masing-masing ideologi (Barat, Zionis, dan Islam) bersikukuh mempertahankan prinsipnya, beberapa kemungkinan dapat terjadi:
_Pertama,_
*Intensifikasi Konflik Global*
_Perang Ideologi:_ Benturan langsung antara pihak yang mendukung liberalisme-sekularisme (AS dan sekutunya), Zionisme (Israel dan pendukungnya), serta Islam politik (gerakan Islamis dan negara-negara pro-Khilafah).
_Konflik Asimetris:_ Kelompok Islam yang tidak memiliki kekuatan negara (misalnya Hamas atau Hizbullah) akan berjuang secara gerilya melawan aliansi militer Barat-Israel.
_Geopolitik Terfragmentasi:_ Dunia akan terbagi ke dalam blok-blok ideologis yang semakin tegas, mengurangi kerjasama internasional dan memicu isolasi politik.
_Kedua_
*Krisis Kemanusiaan dan Sosial*
_Kekerasan Berkelanjutan:_ Perang ideologi bisa meningkatkan krisis kemanusiaan di kawasan konflik seperti Palestina, Suriah, dan Yaman.
_Islamofobia Meningkat :_ Barat dapat memperkuat narasi bahwa perlawanan Islamis adalah terorisme, sehingga kebijakan anti-Islam semakin keras.
_Stigmatisasi Pro-Khilafah:_ Gerakan yang menyerukan persatuan Islam akan lebih sering dibungkam dengan dalih ekstremisme.
_Ketiga_
*Ketidakseimbangan Kekuasaan*
_Dominasi Blok Barat-Zionis:_ Mengingat kekuatan ekonomi dan militer AS serta dukungan negara-negara Barat terhadap Israel, dominasi sementara mungkin akan tetap berada di tangan mereka.
_Perlawanan Ideologis:_
Ideologi Islam, terutama gagasan Khilafah, akan terus berkembang sebagai alternatif terhadap dominasi Barat - Zionisme di dunia Islam. Hal ini didorong oleh semakin kuatnya kesadaran umat Islam yang merasa terzalimi. Perdamaian antara Islam dan Barat-Zionis hanya dapat tercapai tanpa adanya hegemoni dari pihak manapun.
*Khilafah Solusi ?*
a. Perspektif Theologis-Islam
_Persatuan Umat:_ Khilafah dipandang sebagai satu-satunya sistem yang menyatukan umat Islam secara politik, ekonomi, dan militer.
_Penghapusan Nasionalisme:_ Dengan menghapus sekat-sekat nasional, Khilafah mampu merangkul umat Islam di bawah satu kepemimpinan, menghilangkan kelemahan akibat perpecahan.
_Keadilan Global:_ Khilafah tidak hanya membela Muslim, tetapi juga menerapkan keadilan bagi non-Muslim yang dalam naungannya.
b. Perspektif Realistis-Politik
_Tantangan Eksternal:_ Barat dan Zionis pasti akan melakukan segala upaya untuk menggagalkan pembentukan Khilafah, seperti yang dilakukan pada masa Kesultanan Utsmaniyah.
_Kesadaran Umat:_ Terbentuknya Khilafah membutuhkan kesadaran politik umat secara global agar mendukung dan mempertahankan institusi ini.
_Kekuatan Militer:_ Khilafah harus mampu menghadapi tekanan militer dan ekonomi dari blok Barat dan Zionis.
_Keempat,_
*Mengapa Khilafah Dapat Membenahi Konflik?*
_PemimpinTunggal:_
Khilafah memberikan satu komando yang mempermudah koordinasi perlawanan dan diplomasi.
_Methode Kenabian:_ Prinsip-prinsip Islam menjadikan 'aqidah sebagai landasan ideologi/ mabda, syari'at sebagai sumber hukum, kepemimpinan tunggal, dan misi dakwah serta jihad sebagai alat penyebaran.
Prinsip ini memastikan tegaknya keadilan, persatuan umat, dan penerapan Islam secara kaffah.
Sehingga kebijakan luar negeri didasarkan pada kemaslahatan umat serta keadilan global, bukan ekspansi hegemoni.
_Pemulihan Palestina:_
Khilafah akan mengarahkan seluruh kekuatan umat untuk membebaskan Palestina dan menghapus penjajahan Zionis.
_Kelima,_
*Akankah Khilafah Mampu Terwujud?*
Khilafah adalah janji Allah ( QS An-Nuur : 55).
Secara hukum syar'a, Khilafah adalah kewajiban syar'i yang diperintahkan Allah swt.
Khilafah juga disebut bisyarah Rasulullah ﷺ. (HR. Ahmad)
_Realitas politik:_
Meningkatnya Kesadaran : Semakin banyak umat menyadari pentingnya Khilafah sebagai solusi global.
_Gerakan Global:_ Munculnya kemunitas dari kalangan aktifis secara aktif menyerukan penegakan Khilafah.
_Perlawanan Terhadap Hegemoni:_
Banyak negara Muslim mulai menyadari bahwa ideologi Barbar (sekularisme - kapitalisme) tidak membawa keadilan dan kesejahteraan, sehingga ada peluang bagi ide Khilafah untuk menguat.
*K H O T I M A H*
Konflik antara Trump dan Netanyahu menggambarkan betapa rapuhnya persatuan ideologis Barat, yang dibangun di atas kepentingan politik dan ekonomi semata. Sebaliknya, umat Islam harus mengambil pelajaran dari konflik ini untuk memperkuat persatuan mereka berdasarkan 'aqidah Islam. Hanya dengan persatuan yang berbasis 'aqidah, umat akan mampu menghadapi tantangan global dan mewujudkan kepemimpinan Islam dalam bingkai Khilafah.
Sementara itu, konflik kepentingan antara Barat, Zionis, dan Islam tidak akan terselesaikan tanpa adanya perubahan mendasar dalam sistem politik global saat ini.
Khilafah merupakan negara adidaya yang memiliki keunggulan ideologi Islam yang khas, konsisten meriayah berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
Khilafah sebagai solusi politik Islam, ideologi islam kaffah serta dasar pengaturannya merujuk pada Wahyu, diturunkan sebagai Rahmat seluruh alam. Amanah Risalah ini pilihanNya pada "Al-Amiin - Nabi terakhir - Muhammad saw".
Kanar baiknya, mabda yang di amanahkan Allah ini telah terbukti mampu mempersatukan umat, menghapuskan penjajahan, serta mewujudkan keadilan dan kesejahteraan selama kurun waktu lebih dari 13 abad.
Tentu saja, tantangan besar selalu ada dari pihak Barat dan Zionis, yang menganggap Khilafah sebagai ancaman bagi eksistensi mereka.
Namun, jika Allah telah berkehendak
tantangan sebesar apapun Allah jadikan mudah dan Allah angkat kembali Khilafah Agung yang mengikuti methode kenabian.
Wallahu a'lam. []
