Oleh. Irohima
Kita telah memasuki pertengahan tahun 2025, namun persoalan Palestina tak kunjung reda. Zionis dengan dukungan sekutunya masih saja membombardir wilayah Gaza dengan membabi buta dan menyebabkan tewasnya ribuan warga Palestina. Sungguh, genosida memang nyata terjadi di sana, namun sayangnya, banyak di antara kita yang masih menutup mata, bersikap seperti biasa, seolah-olah mati rasa.
Kondisi di Palestina yang tak tentu arah mendorong berbagai pihak yang masih memiliki hati nurani untuk lebih dari sekadar berempati. Seperti yang terjadi di Istanbul, Turki pada tanggal 27 April 2025, di mana Koalisi Global Bela Al-Quds dan Palestina membuka Konferensi Al-Ruwad ke -14 dengan tema ‘ Kemenangan untuk Gaza adalah Tanggung Jawab Umat’. Konferensi ini tak hanya dihadiri oleh sejumlah tokoh, media, budayawan, aktivis sosial, akademisi, pemuda dan berbagai lembaga dari sekitar 60 negara di dunia, namun juga dihadiri oleh tokoh gerakan rakyat Palestina seperti Khaled Mashal, Abdul Nasser isa dan Usamah Hamdan (sabili, 28-04-2025).
Konferensi ini bertujuan memperkuat gagasan perlawanan, keteguhan, dan kegigihan rakyat Palestina, dan juga untuk meningkatkan kesadaran seluruh umat Islam bahwa persoalan Palestina merupakan persoalan umat Islam.
Adanya konferensi ini merupakan upaya membebaskan Palestina untuk ke sekian kali setelah sebelumnya Sekretaris Jenderal Internasional Of Muslim Schoolars , Syaikh Ali Al-Qaradaghi mengeluarkan fatwa yang menyerukan intervensi militer, politik dan ekonomi seluruh negara muslim untuk menghentikan genosida di Palestina.
Aksi bela Palestina dan ramainya konferensi-konferensi soal Gaza di berbagai wilayah dunia dengan tuntutan pengiriman tentara dan tegaknya khilafah semakin masif. Hal ini membuat dunia barat menyadari suatu hal, bahwa krisis Gaza justru telah membuka pintu dengan sangat lebar bagi arus kesadaran umat akan kewajiban dan urgensi khilafah sebagai satu-satunya solusi bagi Palestina dan juga solusi untuk semua persoalan dunia lainnya. Segala upaya yang mereka lakukan untuk menghadang opini terkait khilafah menjadi sia-sia.
Tanpa mereka sadari, krisis Gaza yang dibiarkan berlarut-larut telah membuka mata dunia tentang ketidakmampuan mereka mengatasi persoalan Palestina melalui seperangkat aturan yang mereka klaim sebagai aturan terbaik. Krisis Gaza telah menjadi tanda bahwa lonceng kematian bagi peradaban barat akan segera berdentang sekaligus menandai terbitnya fajar khilafah.
Pernyataan Netanyahu di media Al-Quds pada tanggal 23-04-2025 yang mengatakan bahwa tidak akan pernah mengijinkan berdirinya kekhalifahan Islam dan akan terus melanjutkan tekanan militer terhadap Hamas serta munculnya beberapa narasi senada, telah membuktikan ketakutan mereka akan tegaknya Khilafah. Mereka menyadari tanda-tanda tegaknya Khilafah semakin kuat dilihat dari masifnya aksi-aksi bela Palestina yang diwarnai oleh kibaran al-liwa dan ar-rayah serta adanya tuntutan jihad dan berdirinya Khilafah sebagai satu-satunya solusi untuk Palestina.
Sebagaimana yang telah Allah Swt. janjikan, tegaknya khilafah merupakan sebuah keniscayaan yang akan terjadi dalam sejarah. Dengan atau tanpa kita, khilafah akan tetap tegak, namun perlu dipahami, bahwa wajib adanya bagi para pengemban dakwah untuk terus memahamkan umat akan urgensi khilafah dan memasifkan dakwah penegakan khilafah di semua kalangan agar terbentuk opini umum yang tegak di atas kesadaran akan kebutuhan terhadap Khilafah, agar janji Allah Swt. segera tiba.
Hanya khilafah, yang bisa mewujudkan pengiriman tentara ke Palestina untuk mengusir penjajah sebagaimana yang telah disadari banyak orang bahwa hanya kekuatan militer yang bisa melawan Israel. Menyeru jihad pada pemimpin-pemimpin negeri Muslim saat ini juga tidak ada gunanya, kecintaan mereka pada dunia dan kekuasaan yang besar telah membuat mereka menutup mata dan lebih memilih bersekutu dengan musuh. Tak heran bila perjuangan para pengemban dakwah yang menyeru akan urgensi tegaknya khilafah kerap dijegal bukan hanya oleh barat, melainkan oleh saudara Muslim itu sendiri.
Doa-doa, aksi-aksi, seruan boikot, dan bantuan kemanusiaan yang tak terhitung jumlahnya telah dikirimkan, namun nyatanya Gaza tetap tertawan. Umat telah muak, dan mulai menyadari bahwa tak ada yang bisa memberi kemerdekaan bagi Palestina, kecuali Khilafah. Oleh karena itu, kita wajib untuk terus menyuarakan kewajiban dan urgensi khilafah sebagai satu-satunya solusi tuntas atas semua persoalan.
Wallahu a'lam bishawab
