Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sistem Kelam, Indonesia Kian Suram

Tuesday, April 08, 2025 | Tuesday, April 08, 2025 WIB Last Updated 2025-04-08T12:48:55Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Sungguh sistem buruk di negeri ini telah membuat Indonesia kian terpuruk. Jika diperhatikan, kian hari kondisi Indonesia kian tidak baik-baik saja.

Dikutip dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah ditutup di level Rp16.622 per dollar AS. Artinya rupiah telah mencatatkan level terendahnya sepanjang 2025, dengan koreksi sebesar 2,79 persen dibandingkan akhir 2024.

Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios), Media Wahyudi Askar, mengungkapkan bahwa kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal pemerintah terutama terkait rencana belanja pemerintah, menjadi salah satu faktor penyebab turunnya nilai rupiah. Prioritas belanja negara untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dianggarkan sebesar Rp171 triliun. Untuk mencapai target itu pemerintah melakukan efisiensi anggaran termasuk memangkas belanja barang hingga 40% dan realokasi subsidi yang kurang tepat sasaran. Hal itu berdampak pada ketidakpastian mengenai kesehatan fiskal Indonesia yang mendorong turunnya kepercayaan diri dari investor.

Faktor lainnya adalah pembentukan super holding BUMN, Danantara. Menurutnya, para investor sangat berhati-hati bahkan cenderung memandang negatif perubahan tata kelola investasi ini karena dianggap terlalu terburu-buru dan petingginya tidak kredibel.

Faktor berikutnya adalah penurunan konsumsi domestik. Menurut data Kemnaker, terdapat 18.610 orang tenaga kerja ter-PHK yang dilaporkan selama periode Januari-Februari 2025 ini.  Di sisi lain, turunnya daya beli masyarakat akibat kenaikan PPN 12% menjadi makin parah. Ujungnya, ekonomi menjadi lesu dan tidak bergairah.

Faktor lain yang tidak kalah pentingnya ialah potensi menguatnya peran militer setelah pengesahan UU TNI. Ia mengatakan, ketika militer menempati jabatan strategis maka akan ada “sentralisasi fungsi pemerintahan”. Artinya, tidak ada lagi independensi di lembaga-lembaga negara dalam mengambil keputusan, yang pada akhirnya mengganggu kebebasan pasar.

Demikianlah gambaran fakta terkini kondisi negeri kita. Jika terus seperti ini, visi Indonesia emas yang digadang-gadang akan terbang melayang lalu jatuh menjadi kepingan kecemasan tiada akhir dalam hidup masyarakatnya.

Tambal Sulam Solusi tak Bertepi

Ketika berbagai kebijakan yang diambil pemerintah saat ini tidak membawa dampak perbaikan, namun malah menambah masalah, masyarakat tentunya memendam kekecewaan. 

Kebijakan demi kebijakan muncul silih berganti tanpa hasil yang pasti.  Solusi tambal sulam tanpa pemikiran yang mendalam membuat situasi makin suram. Kebijakan populis yang hanya manis di permukaan, pemberi harapan palsu pada janji-janji bersolekkan pencitraan, telah meninggalkan tumpukan masalah baru yang tak terselesaikan. Solusi yang dinanti dengan adanya kebijakan terkini, justru melahirkan beban yang kian berat bagi kehidupan rakyat.

Keseriusan penguasa atas masalah rakyat, sungguh jauh panggang dari api. Masalah stunting yang terus melenting. Masalah PHK yang Kian merusak penghidupan rakyat. Limbungnya perekonomian rakyat. UU TNI dll. Telah terlukis sebagai gambaran suram yang tak menggoreskan garis jelas sebuah peradaban yang sejahtera. Jauh dari niscaya.

Jika ditelisik lebih dalam, sesungguhnya terpuruknya rupiah dan banyaknya pengangguran yang berkorelasi dengan naiknya angka kemiskinan, sejatinya adalah buah dari buruknya sistem yang diterapkan.  Akar masalah dari semuanya ada pada sistem demokrasi kapitalisme yang diemban negeri ini  yang tegak di atas asas pemisahan agama dari kehidupan dan memberikan kedaulatan kepada rakyat.  Rakyatlah yang memiliki hak dan wewenang untuk membuat hukum melalui mekanisme demokrasi. Namun kenyataannya, demokrasi selalu berpihak pada para pemilik modal hingga  suara terbanyak pun adalah bagi mereka yang mampu mengeluarkan dana besar.

Faktanya, kedaulatan rakyat hanya jargon semata.  Kedaulatan rakyat nyatanya adalah kedaulatan bagi para penguasa dan pemodal. Para penguasa besar inilah yang berhak membuat aturan dan mereka pula yang sejatinya menjadi pengendali kekuasaan dan pemerintahan. Tentu suatu keniscayaan jika produk hukum dan kebijakan yang dihasilkan tidak pro rakyat, bahkan cenderung lebih menguntungkan oligarki. Produk hukum demokrasi juga lebih sering menimbulkan masalah baru daripada jadi solusi.

Sistem ekonomi kapitalistik yang berbasis riba dan ditopang dengan beragam transaksi non-riil juga sangat berpeluang menciptakan pertumbuhan ekonomi yang semu. Sistem ekonomi itu tampak bagus pada angka, namun faktanya penuh dengan kontradiksi. Apalagi negara juga masih menjadikan pajak dan utang luar negeri sebagai sumber pemasukan rutin utama, membuat kondisi ekonomi negara kita menjadi makin rapuh saja.

Oleh karena itu, selama sistem ini diterapkan, politik transaksional akan terus terjadi. Pihak yang telah mengongkosi demokrasi-lah yang akan memegang kendali, padahal sistem ini juga meniscayakan bahwa peredaran harta hanya terbatas di kalangan orang kaya. Rakyat hanya menjadi objek pelengkap, yang baru akan didengar suaranya tiap lima tahun sekali. Tidak pelak, berharap kebaikan dari demokrasi adalah ibarat mimpi dan bentuk kesia-siaan yang pasti.

Islam Kaffah Diterapkan, Keberkahan Terwujud Nyata

Dalam Islam, pemimpin adalah perisai dan pengurus bagi rakyat. Mereka diangkat dan dibaiat untuk melaksanakan syariat, menjamin terwujudnya kesejahteraan, kemaslahatan, dan keamanan bagi seluruh warga negara.

Allah Ta'ala telah memerintahkan kepada para pemimpin untuk senantiasa memperhatikan rakyatnya dengan memberikan nasihat, senantiasa bersikap lemah lembut, dan tidak menyusahkan mereka. Untuk urusan harta, Allah melarang keras para penguasa dari menyentuh sedikitpun harta kekayaan milik umum.

Sebagaimana dalam sistem pemerintahan, politik ekonomi Islam juga dibangun dengan landasan takwa. Riba dan segala macam transaksi non-riil dan manipulatif diharamkan secara mutlak. Integritas dan kejujuran menjadi ciri bagi tiap penguasa dan pelaku bisnis.

Sumber pemasukan negara diperoleh dari pos yang telah ditetapkan Allah seperti ganimah, kharaj, usyur, dan kekayaan milik umum berupa sumber daya alam (SDA). Pajak dan utang luar negeri hanya akan diambil pada kondisi terpaksa. Semua pemasukan tersebut akan dibelanjakan sebesar-besarnya demi kemaslahatan rakyat, bukan demi memperkaya pejabat. Dari anggaran belanja itu, negara juga akan memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan pokok pribadi maupun kolektif dengan sempurna.

Selain itu Islam juga mewajibkan penggunaan mata uang berbasis emas dan perak, bukan hanya di dalam negara. Namun, kelak melalui pelaksanaan politik ekonomi Islam, Khilafah juga akan mendorong dan memaksa agar sistem mata uang ini kembali dipergunakan di seluruh dunia. Mekanisme ini akan sekaligus menghentikan penjajahan ekonomi dan keuangan lewat mata uang yang saat ini dipraktikkan oleh negara penjajah kapitalis.

Syekh Abdul Qadim Zallum rahimahullah di dalam kitab Al-Amwal fii Daulati al-Khilafah (Sistem Keuangan Negara Khilafah) memaparkan bahwa penggunaan sistem mata uang yang berbasis emas dan perak merupakan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan problematika mata uang dan menghilangkan inflasi besar-besaran yang menimpa seluruh dunia. Sistem ini juga akan mampu mewujudkan stabilitas mata uang dan nilai tukar serta mendorong kemajuan perdagangan internasional.

Para pemimpin akan melaksanakan seluruh aturan Islam tersebut semata-mata karena dorongan ketakwaan dalam dirinya. Mereka sangat menjaga agar tidak termasuk pengkhianat. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id ra., dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Setiap pengkhianat memiliki panji pada hari kiamat yang diangkat sesuai kadar pengkhianatannya. Ingatlah, tidak ada pengkhianat yang lebih besar pengkhianatannya daripada pemimpin masyarakat.”

Dengan dorongan yang sama, rakyat pun akan sukarela memberikan ketaatan dan loyalitasnya. Hal inilah yang akan menjamin tidak hanya stabilitas nilai mata uang dan ekonomi negara, tetapi juga menjadi kunci turunnya keberkahan dari Allah, sebagaimana firman-Nya di dalam QS Al-A’raf ayat 96,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Sejatimya, sistem demokrasi kapitalisme yang  diterapkan oleh negara kita saat ini adalah sistem buatan manusia yang sarat dengan keburukan. Sistem ini telah menyeret Indonesia pada keterpurukan. 

Jalan keluar satu-satunya adalah penerapan syariat Islam kafah. Dengannya, Allah Taala telah menjanjikan tidak hanya akan memberikan jalan keluar yang tepat bagi segala permasalahan negeri, namun sekaligus membukakan pintu-pintu kebaikan yang banyak. Firman Allah Ta'ala, 

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At Talaq: 2-3)

Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (QS Al-Hajj: 47). 

Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update