Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kemenangan di Idul Fitri di Tengah Kondisi Palestina yang Memprihatinkan Oleh: Ummu Beryl

Monday, April 07, 2025 | April 07, 2025 WIB Last Updated 2025-04-07T12:52:12Z

 

Perayaan Idul Fitri adalah momen kebahagiaan bagi umat Islam di seluruh dunia, sebagai tanda keberhasilan menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Namun, tidak semua umat Islam merasakan kebahagiaan yang sama, terutama umat Muslim di Palestina. Seperti yang dilaporkan oleh CNN Indonesia, pasukan Israel membombardir Gaza pada saat warga Palestina merayakan Idul Fitri 1446 H, pada Minggu (30/3). Serangan ini menewaskan sembilan orang, termasuk lima anak-anak. Aljazeera juga melaporkan bahwa warga Palestina melaksanakan salat Idul Fitri sementara serangan Israel terus berlanjut.


Dalam sebuah video yang dibagikan oleh Pusat Informasi Palestina, suara tembakan terdengar saat salat berlangsung. Tentara Israel dilaporkan telah menyerbu beberapa rumah di Hebron, Tepi Barat, mendobrak pintu dan menggeledah tempat tinggal, mengakibatkan setidaknya 35 orang, termasuk anak-anak yang masih mengenakan pakaian Idul Fitri, tewas. Media Gaza menyebutkan bahwa total korban tewas akibat serangan tersebut mencapai 76 orang.


Serangan brutal oleh pasukan Zionis ini merupakan upaya penjajahan yang kejam, dengan tujuan untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka. Selain itu, mereka menghalangi pengiriman 600 truk berisi bahan pangan, obat-obatan, dan 50 truk bahan bakar, yang membuat warga Gaza terancam kelaparan dan mengakibatkan banyak dapur umum terpaksa tutup. Krisis tepung di Gaza juga menyebabkan toko-toko roti menghentikan produksinya.


Meskipun Hamas sering kali melakukan negosiasi, upaya tersebut, yang sering kali melibatkan Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat, belum mampu menyelesaikan masalah ini. Bahkan, Presiden Donald Trump berencana untuk mengusir warga Palestina.


Keadaan sulit yang dialami oleh warga Palestina seharusnya membuka mata dan hati banyak orang, terutama umat Islam, untuk menyadari bahwa masa depan Gaza dan Palestina tidak akan dapat diserahkan kepada negara-negara yang penguasanya tidak berkomitmen terhadap Islam, meskipun mereka mengklaim sebagai negara Islam. Terlebih lagi, komunitas internasional cenderung diam.


Penting untuk dipahami bahwa pembentukan negara-negara bangsa dengan penguasanya saat ini adalah hasil dari konspirasi Barat untuk melemahkan posisi politik Dunia Islam. Oleh karena itu, konsep nasionalisme dalam negara bangsa telah menjadi penghalang utama bagi pembebasan Palestina dan Gaza.


Untuk itu, satu-satunya harapan untuk membebaskan Palestina dan mengusir penjajah adalah dengan mendirikan negara yang kuat yang berdiri di atas visi Islam, bukan sekularisme nasionalisme yang hanya menjadi batu sandungan bagi persatuan sejati umat Islam. Negara semacam ini akan memimpin jihad melawan penjajah.


Negara yang dimaksud adalah Khilafah, yang keberadaannya sangat ditakuti oleh Amerika Serikat dan para pemimpin Muslim yang menjadi sekutunya. Khilafah pernah menaungi umat Islam setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, memimpin peradaban dunia hingga runtuh pada 1924 akibat konspirasi Barat. Kehilangan Khilafah telah menjadi awal dari penderitaan dan perpecahan umat Islam, termasuk masalah penjajahan di Palestina.


Upaya untuk menegakkan kembali Khilafah bukan hanya merupakan kewajiban agama, tetapi juga kebutuhan mendesak umat Islam. Inilah yang seharusnya menjadi visi pergerakan Islam di seluruh dunia, karena Khilafah adalah solusi yang tepat bagi masalah-masalah di dunia Islam, termasuk Palestina.


Khilafah adalah satu-satunya lembaga yang menegakkan syariat Islam secara menyeluruh dan menjadi solusi bagi segala persoalan kehidupan. Negara dan penguasanya akan bertindak sebagai penjaga keadilan, menghapus kezaliman, dan melarang tunduk pada penjajah. Khilafah akan menyatukan umat Islam di bawah satu kepemimpinan, memobilisasi semua potensi yang dimiliki, termasuk sumber daya alam, sumber daya manusia, dan kekuatan militer, untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh umat.


Tentunya, mewujudkan Khilafah bukanlah hal yang mudah. Keberadaannya saat ini menjadi mimpi buruk bagi kekuatan besar dan para sekutunya. Mereka takut akan penggantian kepemimpinan destruktif mereka dengan kepemimpinan yang penuh rahmat.


Itulah mengapa mereka berusaha untuk menghalangi munculnya Khilafah dengan segala cara, melalui tekanan ekonomi, politik, dan militer, dengan dalih perang melawan terorisme dan radikalisasi di negara-negara Islam. Namun, upaya mereka pasti akan gagal, karena Allah berfirman, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah justru akan menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS Ash-Shaff: 8).


Kembalinya Khilafah adalah janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ. Tugas kita adalah mengikuti jalan dakwah dengan menapaki langkah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, yakni dakwah yang bersifat fikriyyah (membangun kesadaran terhadap Islam secara menyeluruh), politik ideologis (menerapkan Islam secara nyata dalam kepemimpinan), berjemaah, dan tanpa kekerasan.


Waulohua'lam bissowab.

×
Berita Terbaru Update