Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Syawal Kita untuk Palestina, Part 4 to Next Part

Monday, April 07, 2025 | April 07, 2025 WIB Last Updated 2025-04-07T13:08:31Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Apa yang terjadi di Palestina adalah peristiwa nyata di depan mata seluruh penduduk dunia, termasuk kita. Sayangnya dari hari ke hari, suara pembelaan atas muslim Palestina makin lemah terdengar, tertutup oleh berbagai persoalan yang membelit kehidupan masing-masing negara di dunia tak terkecuali negeri-negeri Muslim. Kalau pun kencang, hanya sebagian kelompok demi kelompok.

Begitu pula dengan para penguasanya. Mereka hanya bisa beretorika dan berkoar-koar siap berada di sisi muslim Palestina. Namun faktanya, tidak ada yang mereka lakukan selain berkelit atas nama kepentingan nasional dan aturan internasional yang harus dijaga. Padahal sebagai sesama umat Rasulullah saw., tidak pantas kita berdiam diri melihat saudara seimannya hidup menderita. Rasulullah saw. bersabda,

Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”(HR Bukhari dari Anas bin Malik, ra.). 
Beliau saw. juga bersabda, “Barang siapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak takut kepada Allah maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya maka dia bukan golongan mereka” (HR Al-Hakim dan Baihaqi). 

Memang betul bahwa apa yang terjadi di Palestina, hakikatnya adalah kemuliaan bagi kaum Muslim di sana karena tanahnya menjadi tanah jihad dan kematiannya adalah syahid yang diinginkan setiap hamba bertakwa. Itulah kenapa, kita lihat mereka tampak begitu bersabar dan rida dengan ketentuan Rabb-nya, meski mereka tetap menangis karena mereka adalah manusia. Namun bagi kita, nasib mereka hakikatnya adalah ujian keimanan.

Apakah iman itu kokoh terhunjam di dada? Atau hanya sampai di kerongkongan, bahkan di bibir semata? Tentu tidak pantas bagi kita bersikap abai melihat saudaranya dibantai dan dihilangkan eksistensinya. Bahkan kelak kita akan didakwa karena saat di dunia kita berpura-pura tuli buta dan menerima kelemahan untuk tidak sungguh-sungguh menolong mereka.

Ulama Dunia Serukan Jihad Bersenjata Melawan Israel

Baru-baru ini Persatuan Ulama Muslim Dunia mengeluarkan fatwa menyerukan “Jihad bersenjata melawan penjajah ‘Israel’". Di dalamnya menekankan perlunya intervensi militer segera oleh negara-negara Islam dalam mendukung perlawanan Palestina dan penghapusan semua bentuk normalisasi dengan Tel Aviv.

Beberapa ulama Muslim terkemuka telah mengeluarkan fatwa keagamaan yang langka, yang menyerukan kepada semua Muslim dan negara-negara mayoritas Muslim untuk melancarkan “jihad” melawan ‘Israel’ setelah 17 bulan perang yang menghancurkan terhadap warga Palestina yang tinggal di daerah kantong yang terkepung itu.
Syeikh Ali al-Qaradaghi, Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS), sebuah organisasi yang sebelumnya dipimpin oleh Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, menyerukan kepada semua negara Muslim untuk segera campur tangan secara militer, ekonomi, dan politik untuk menghentikan genosida dan penghancuran Gaza. 

Dalam fatwa tersebut, persatuan ulama tersebut menekankan bahwa mengacu pada semua fatwa sebelumnya, bahwa masyarakat Islam dan semua negaranya wajib berjihad melawan entitas Zionis dan semua yang berpartisipasi dengannya di tanah yang diduduki dalam pemusnahan rakyat di Gaza, baik tentara bayaran maupun tentara dari negara mana pun, melalui intervensi militer dan memasok mujahidin dengan peralatan militer, keahlian militer, dan informasi intelijen. Fatwa tsb juga menyatakan wajib hukumnya bagi rakyat Palestina dan negara tetangga terdekat untuk membela dalam bentuk fisik. Ini adalah kewajiban pertama-tama bagi rakyat Palestina, kemudian negara-negara tetangga (Mesir, Yordania, dan Lebanon), dan kemudian semua negara Arab dan Islam. Ditambahkan bahwa jihad melawan penjajah di Palestina adalah tugas setiap Muslim yang mampu di dunia Islam.

Sesungguhnya Islam tegas memerintahkan agar kaum muslim seluruhnya bergerak membantu dengan sekuatnya. Pertolongan itu tidak lain berupa tentara yang akan mengusir penjajah dan sekutunya dengan jihad fi sabilillah. Namun tidak dimungkiri, ada halangan fisik yang besar bagi umat untuk bisa bergerak menolong mereka.

Halangan itu berupa bercokolnya kepemimpinan dan negara yang tegak di atas paham sekularisme dan nasionalisme di negeri-negeri Islam. Dua hal inilah yang selama ini membuat umat Islam begitu lemah dan terpecah belah. Keberadaan akidah pada diri mereka tidak cukup untuk melahirkan satu rasa dan satu pandangan tentang persoalan Palestina. Bahkan bukan hanya untuk soal Palestina, dalam berbagai urusan dunia, mereka sulit disatukan hingga mereka menjadi bulan-bulanan sekaligus objek jarahan bagi musuh-musuhnya.

Seruan jihad secara militer melawan zionis Israel memang seharusnya dilakukan oleh ulama. Dan seruan ini akan lengkap manakala juga menyerukan agar negeri-negeri muslim Bersatu membentuk satu kekuatan besar negara khilafah Islamiyah yang akan mengomando jihad melawan Israel yg didukung oleh kekuatan besar dunia AS dan sekutunya. Ketika negeri2 muslim mengirimkan pasukan militernya sementara tidak ada institusi khilafah lalu siapa yang akan mengomando mereka dilapang. Tentu ini tidak mudah. 

Oleh karena itu penting sekali keberadaan Khilafah Islamiyah untuk merealisasikan seruan ulama internasional tersebut untuk mengirimkan pasukan militer untuk berjihad melawan zionis Israel dengan kekuataan AS dan sekutunya ada di belakang mereka. Sudah keharusan untuk mewujudkannya.

Saat ini suara-suara pembelaan terhadap nasib muslim Palestina, dengan mudah tertutup oleh persoalan-persoalan lainnya. Sebagian mereka bahkan berkata, untuk apa memikirkan urusan bangsa lain, sementara kita di sini sedang menghadapi banyak persoalan. Mereka dibuat lupa, bahwa urusan muslim Palestina adalah urusan mereka juga. Sejatinya jati diri muslim Palestina adalah jati diri mereka juga.

Untuk itulah Allah Ta'ala menurunkan syariat Islam sebagai tuntunannya. Hanya saja, syariat ini hanya mungkin diterapkan seluruhnya dalam sebuah kepemimpinan atau negara yang tegak di atas akidah Islam. Itulah Khilafah Islam, sebuah negara warisan Rasulullah yang pernah menaungi dan menyatukan umat Islam sedunia sekaligus memuliakan mereka dalam masa yang sangat panjang.

Sayangnya saat ini, Khilafah Islam telah hilang eksistensinya sehingga Islam hanya eksis di tengah sebagian pemeluknya. Pada 1924, penjajah Inggris melalui anteknya, Mustafa Kemal, telah berhasil meruntuhkannya. Sejak itulah umat Islam hidup sebagai entitas yang terpecah belah dan kehilangan muruahnya. Penjajah Inggris dan Amerika bahkan berhasil mendirikan “negara” Zion*s di jantung negeri Islam, yakni di Tanah Palestina.

Saat ini umat Islam dunia tengah merasakan dampak buruk akibat ketiadaan Khilafah Islam dan penerapan aturan sekuler atas mereka. Berbagai krisis terus melanda, hingga membuat mereka lemah tanpa daya meski jumlahnya lebih dari dua miliar jiwa di dunia. Salah satu buktinya adalah berlarutnya krisis Palestina dan ketakberdayaan mereka dalam mengusir Zion*s yang jumlahnya tidak seberapa. Pertanyaannya, sampai kapan kita rela hidup dalam kondisi terhina?

Syawal ini telah ditraining sebulan penuh di saat ramadan agar terus memiliki keimanan yang kukuh, ketaatan yang kuat, dan kesiapan untuk berjuang di tengah fitnah zaman yang bisa melalaikan bahkan menyesatkan manusia dari tujuan penciptaan. Hanya saja, bersandar pada kekuatan individu semata tentu akan menyulitkan karena eksistensi kekufuran dan segala bentuk kejahatan di-support oleh kekuatan negara yang bersifat global, termasuk yang terjadi di Palestina.
Urgensi mengembalikan Khilafah jelas tidak bisa lagi ditunda. Tidak boleh lagi ditawar-tawar antara harus ada atau tiada. 

Penegakan syariat Islam kafah dalam naungan sistem Khilafah adalah kewajiban. Namun, proyek besar ini hanya mungkin dilakukan oleh sebuah jemaah dakwah yang konsisten berpegang teguh pada mabda (ideologi) Islam dan langkah perjuangannya  tidak menyelisihi minhaj kenabian. Dengan ini pembelaan Palestina tak hanya sekadar wacana.

Allah Ta'ala telah menjanjikan bahwa ujung dari perjuangan ini adalah kemenangan, yakni dengan tegaknya Khilafah Rasyidah ke-2 di tengah umat Islam. Khilafah inilah yang akan mengembalikan kemuliaan umat, menyatukan dan menyejahterakan mereka serta membebaskan mereka dari segala bentuk penjajahan, termasuk Palestina.
Khilafah, dengan syariat Islam yang diterapkannya, benar-benar akan memimpin dunia dan menjadi penebar rahmat bagi alam semesta. Itulah kemenangan yang nyata.
Firman Allah Ta'ala, 

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi" (QS. Al fath:28).

Wallaahu a'laam bisshawaab.
×
Berita Terbaru Update