Oleh Sri Yana, S.Pd.I.
Pegiat Literasi
Umat muslim tahun ini menjalankan puasa secara serentak pada Sabtu, 1 Maret 2025. Namun, sayangnya memiliki akhir Ramadan yang berbeda. Sebab, Muslim di seluruh dunia ada yang merayakan hari pertama Idulfitri pada hari Minggu, 30 Maret atau Senin, 31 Maret tergantung pada penampakan bulan sabit. Namun, di Gaza tidak banyak yang dapat dirayakan. Tahun ini menjadi kedua kalinya secara berturut-turut warga Gaza tidak dapat merayakan Idulfitri, karena jelang Idulfitri di tengah serangan Israel yang berlanjut. (antara.com, 30 Maret 2025).
Diberitakan tempo.co, 30 Maret 2025 bahwa militer Israel telah menghilangkan nyawa sedikitnya sembilan warga Palestina di Gaza pada pagi hari Idulfitri, Ahad, 30 Maret 2025. Dari sembilan korban tewas tersebut lima diantaranya adalah anak-anak. Serangan Israel ini terjadi serentak di kamp pengungsi Khan Younis di Gaza selatan hingga di Kota Gaza dan kamp pengungsi Jabalia di Gaza Utara.
Kesedihan Palestina yang belum usai sampai hari ini bahkan saat hari kemenangan tiba dengan harapan mendapatkan keamanan. Faktanya, sangat mengiris hati umat Muslim bahwa saudaranya di Palestina terus saja mengalami serangan dari Israel. Ironisnya, umat Muslim pun sampai saat ini tanpa daya. Ya, inilah wajah umat Muslim hari ini yang telah tercerai berai menjadi lebih dari 50 negara yang terkotak-kotak dengan negara bangsanya akibat nasionalisme semu ala Barat. Padahal Palestina merupakan bagian dari umat Islam. Ibarat satu tubuh, Palestina adalah bagian tubuh lain yang merasakan sakit.
Nasionalisme adalah suatu paham yang menganggap kesetiaan tertinggi setiap individu harus ditujukan kepada negara kebangsaan (nation state). Paham inilah menjadikan masyarakat di berbagai belahan dunia membatasi diri dengan negara-negara lainnya, seperti Palestina. Sebab sekat-sekat nasionalisme yang sudah mengakar di jiwa-jiwa umat Islam, untuk memberi pertolongan dengan menurunkan pasukan militernya untuk membebaskan Palestina pun begitu sulit. Padahal membutuhkan kekuatan besar berupa junnah/perisai yang melindungi kaum Muslim. Tanpa junnah tersebut sebagai negara nasionalisme niscaya tidak mampu berbuat apa-apa.
Begitu pula dengan sekularisme yang memisahkan agama dari kehiduapn sudah mengakar di pemikiran-pemikiran kaum Muslim yang sulit diubah. Sebab, tercekoki dari sejak lahir sampai sekarang ini, bahkan ditularkan kepada generasi-generasi saat ini. Sehingga generasi saat ini hanya memikirkan kesenangan sesaat dan pemikiran-pemikiran yang menyibukkan dengan urusan dunia. Padahal ada saudara kita sesama Muslim yang sedang menderita, dihantui ketakutan dan tidak aman, bahkan rumah-rumah mereka hangus dan rusak. Sedihnya, tak ada makanan di hari kemenangan Idulfitri hingga nyawa pun melayang. Sementara kita yang berada di sini dapat tertawa, bergembira, dan bertemu sanak saudara. Masihkah kita masih berharap kepada sekularisme? Dengan sekularisme rasa kepedulian pun lama-lama akan pupus, karena pemikiran yang ada hanyalah melakukan urusan individu atau pribadi sendiri.
Sikap individu inilah yang menumbuhsuburkan kapitalisme dan melahirkan individualisme yang mengabaikan kepentingan orang lain. Sebab, sifat kapitalisme memang dibentuk untuk menguasai yang lain, sebagaimana orang yang memiliki modal yang akan berkuasa. Orang yang diberi uang harus patuh dan tunduk kepada yang memberi uang. Sehingga sangat wajar sekali di sistem kapitalisme uang dinomorsatukan.
Sejatinya umat harus kembali kepada Islam agar kehidupan berjalan sesuai fitrahnya. Fitrah manusia seyogyanya mendapatkan perlindungan dan penjagaan dari negara. Oleh karena itu, membutuhkan junnah berupa negara yang siap mengurus umatnya, seperti saat Palestina dilindungi oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II.
Pada masa Daulah Turki Utsmani bumi Palestina sudah menjadi incaran Yahudi Israel. Pernah didatangin oleh tokoh pendiri negara Yahudi Israel, Theodore Herzl, agar menyerahkan sebagian wilayahnya di Palestina untuk bangsa Yahudi. Keinginan tersebut ditolak dengan keras oleh Sultan Abdul Hamid II. Sehingga musuh-musuh Islam membuat cara bagaimana bisa meruntuhkan kekuasaan Sultan Hamid II.
Kedua kalinya Yahudi Israel mendatangi kembali Sultan Hamid II untuk minta izin tinggal di Palestina. Namun, permohonan itu ditolak kembali, karena Sultan Hamid II mengetahui bahwa Yahudi ingin mengambil Palestina. Akhirnya, Yahudi kecewa yang amat berat sehingga duta besar Amerika ikut campur untuk meruntuhkan Daulah Turki Ustmani. Kemudian, tak bosan-bosannya pada 1896 Theodor Herzl mendatangi kembali Sultan Abdul Hamid II sambil meminta izin membangun gedung di Al-Quds. Namun, permohonannya kembali ditolak dengan tegas. Sultan Hamid II mengatakan bahwa Daulah Turki Ustmani adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan setuju menyerahkan bumi Palestina yang mulia. Akhirnya, Sultan Hamid II melarang penjualan tanah Palestina kepada Yahudi
Pada 1902 tanpa rasa malu Theodore Herzl untuk kesekian kalinya menghadap Sultan Abdul Hamid II. Kedatangan Herzl kali ini untuk menyuap orang nomor satu kekhalifahan Islam tersebut. Di antara adalah uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuk sultan membayar semua utang Pemerintah Usmaniyah yang mencapai 33 juta Poundsterling, membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta Frank, memberi pinjaman 5 juta Poundsterling tanpa bunga, dan membangun Universitas Usmaniyyah di Palestina. Kemudian dengan tegas Sultan Abdul Hamid II menolaknya. Hingga akhirnya Daulah Turki Ustmani terus mendapat gempuran hingga melemah dan runtuhnya Daulah Turki Ustmani. (republika.co.id, 9 September 2020).
Begitu indahnya ketika Daulah Islam ditegakkan. Islam akan melindungi dan menjaga Palestina dan negara-negara di bawah kekuasaanya, sebagaimana Palestina adalah bumi yang telah Allah janjikan. Sehingga tidak ada penderitaan lagi untuk Palestina pada Hari Raya Idulfitri. Wallahu'Alam bissawab.

No comments:
Post a Comment