Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ramadan, Taat Kini Maksiat Kemudian?

Tuesday, March 11, 2025 | Tuesday, March 11, 2025 WIB

 



Oleh: Izzah Saifanah


Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi DKI Jakarta telah menerbitkan pengumuman Nomor e-0001 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Usaha Pariwisata pada Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1446 H/2025 M.


Salah satu ketentuan yang diatur pengumuman itu adalah, terdapat beberapa jenis usaha pariwisata yang diwajibkan tutup selama H-1 Ramadhan hingga H+1 hari kedua Idul Fitri. Jenis usaha pariwisata yang dimaksud adalah kelab malam, diskotek, mandi uap, rumah pijat, dan arena permainan ketangkasan manual. 


Sesungguhnya “buah” dari puasa Ramadan adalah takwa. Sebagaimana Allah jelaskan dalam QS Al-Baqarah: 183, tentu idealnya kaum muslim adalah menjadi orang yang bertakwa pada Allah Swt. tidak hanya saat Ramadan ataupun tataran ritual dan individual semata.

 

Ketakwaan kaum muslim sejatinya juga harus terlihat di luar Ramadan sepanjang tahun dalam seluruh tataran kehidupan mereka.


Hanya saja, faktanya justru sebaliknya. Setelah Ramadan, umat Islam seolah kembali pada kondisi semula. Banyak muslimah yang kembali memamerkan auratnya, padahal saat Ramadan mereka bisa menutupnya rapat-rapat. Masjid-masjid kembali sepi, padahal saat Ramadan ramai dikunjungi. Acara-acara di televisi kembali menampilkan acara-acara berbau pornografi/pornoaksi, padahal selama Ramadan mereka menyiarkan acara-acara religi. Banyak tempat-tempat maksiat dibuka kembali, padahal selama Ramadan ditutup.


Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan membuat umat melaksanakan sebagian perintah Allah, tetapi mengabaikan perintah yang lainnya. Padahal, Allah Swt. memerintahkan kita untuk taat kepada Islam sepenuhnya.


Tampak jelas bahwa sekularisasi Ramadan ada di semua lini, baik individu, masyarakat, maupun negara. Agama Islam dipisahkan dari kehidupan umat Islam secara keseluruhan. Islam hadir hanya pada momen dan tempat tertentu sehingga akhirnya yang tampak bahwa Islam mengatur urusan ritual atau ibadah mahdhah saja. Pada aspek lainnya, din Islam seolah tidak boleh hadir.


Ramadan seolah-olah bulan yang khusus untuk sekadar beribadah kepada Allah Taala. Ramadan dianggap sebagai waktu untuk urusan ritual, rohani, dan akhirat. Pada bulan suci ini, aktivitas yang dianggap duniawi dianggap perlu ditinggalkan atau dikurangi karena dianggap akan mengotori kesucian Ramadan.


Cara pikir seperti ini sejatinya cara berpikir sekuler, yaitu memisahkan urusan dunia dengan akhirat. Dalam konteks waktu, dengan cara pandang sekuler, seolah-olah ada waktu-waktu khusus untuk akhirat. 


Oleh karenanya, sekularisasi harus dihentikan. Umat Islam harus melakukan perubahan total dan mendasar, membuang jauh-jauh sistem sekuler dan menggantinya dengan sistem lurus yang datang dari Allah Swt., tidak lain adalah sistem Islam.


Kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan tidak hanya untuk menuntut pergantian orang, tetapi harus mengubah sistem kehidupannya agar terwujud perubahan hakiki. Umat Islam harus menyadari bahwa pergantian orang semata tidak akan membawa perubahan berarti tanpa perubahan sistem. Wallahu'alam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update