Oleh Ummi Nissa
Pegiat Literasi
Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa yang penuh berkah sekaligus bulan perjuangan. Berjuang menundukkan hawa nafsu agar tidak bermaksiat kepada Allah. Oleh sebab itu, umat Islam menjadikan bulan Ramadhan sebagai momen meningkatkan ketakwaan dengan berlomba melaksanakan berbagai amal ibadah.
Namun, kesedihan di tengah suasana Ramadhan masih dirasakan umat Islam di bumi Palestina. Mereka masih merasakan berbagai kesulitan, baik untuk kelangsungan hidupnya atau pun dalam melaksanakan ibadah. Meski dalam proses gencatan senjata, Israel tidak henti-hentinya melakukan berbagai penjajahan terhadap muslim Palestina.
Zionis berupaya menghalangi bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Hal tersebut dilakukan sesaat setelah gencatan senjata Gaza tahap pertama berakhir dan perjanjian pertukaran tahanan. Kelompok pejuang Palestina, Hamas, mengatakan bahwa hal tersebut adalah upaya terang-terangan Israel untuk menghindari perjanjian dan perundingan untuk tahap kedua. (alinea.id, 2 Maret 2025)
Atas kondisi pendudukan dan penjajahan zionis, sebagai bentuk perlawanan kelompok pejuang Hamas mengajak warga Palestina beribadah di Masjid Al Aqsa selama bulan Ramadan. Dilansir antara.com Sabtu, 1 Maret 2025 sebuah pernyataan disampaikan oleh Hamas agar umat Islam Palestina menjadikan hari-hari dan malam-malam Ramadhan yang penuh berkah ini didedikasikan untuk ibadah, meneguhkan hati, dan melakukan perlawanan terhadap musuh dan pemukim ilegal, serta mempertahankan Yerusalem dan Al-Aqsa sampai terbebas dari pendudukan zionis.
Di sisi lain, akses ke Masjid Al-Aqsa diduga dibatasi oleh otoritas zionis dengan alasan keamanan. Hal ini disampaikan oleh khotib Masjid Al-Aqsa Syekh Ekrima Sabri pada Jumat malam, 28 Februari 2025.
Pembatasan tersebut bisa berupa pembatasan usia, sehingga yang diizinkan masuk adalah pria dan wanita berusia tertentu, atau membatasi jumlah jamaah. Selain itu, otoritas zionis juga menambah penjagaan dengan memasang penghalang fisik di sekitar Masjid Al-Aqsa. Mereka mengirimkan pasukan keamanan untuk menjaga area tersebut, serta melakukan pemeriksaan identitas terhadap para pengunjung.
Pembatasan akses warga Palestina ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur dilakukan oleh otoritas zionis hampir setiap Ramadhan. Setiap tahun warga Palestina melihat pembatasan ini sebagai bagian dari kebijakan zionis. Lebih dari itu, mereka ingin mengubah Yerusalem Timur termasuk Masjid Al-Aqsa dengan menghilangkan identitas Arab dan Islam.
Fakta pembatasan shalat jamaah di Masjid Al-Aqsa yang masih terjadi hingga Ramadhan tahun ini menunjukkan bahwa wilayah ini masih dalam penjajahan. Sebab keamanan kaum muslimin berada di tangan orang-orang kafir.
Pembatasan ini tentu tidak adil bagi kaum muslimin, sebab umat Islam hendak melaksanakan salat jamaah di masjid sebagai tempat ibadah kaum muslimin. Kondisi ini semakin menunjukkan bahwa muslim Palestina di bawah kontrol Israel, baik di Tepi Barat maupun Gaza secara menyeluruh.
Bagi Umat Islam Masjid Al-Aqsa sejatinya memiliki banyak keutamaan. Pertama, Masjid Al-Aqsa pernah menjadi kiblat pertama kaum muslim dalam menunaikan shalat. Kedua, Masjid Al-Aqsa dan Syam Palestina adalah wilayah yang diberkahi Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt.
"Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya, agar kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi maha Mengetahui." (QS. Al-Isra:1)
Selain itu, tanah Palestina yang di atasnya berdiri Masjid Al-Aqsa adalah tanah suci yang telah Allah berkahi dengan banyaknya nabi yang diutus ke sana. Syariat yang mereka bawa telah menyebar ke seluruh dunia. Rasulullah saw. juga mendorong kaum muslim untuk beribadah di Masjid Al-Aqsa karena besarnya keutamaan yang Allah Swt. limpahkan. Masjid Al- Aqsa adalah salah satu dari tiga masjid yang disucikan, selain Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Kemuliaan dan keberkahan yang Allah limpahkan pada bumi Palestina berlaku hingga hari kiamat.
Sayangnya, hari ini Masjid Al-Aqsa berada dalam penjajahan kaum zionis Yahudi. Mereka sering mengotori dan menistakan Masjid Al Aqsa. Hal tersebut telah puluhan tahun dilakukan, zionis juga melakukan berbagai kekejaman dan kekejian terhadap kaum Muslim di sekitar Masjid Al-Aqsa dan Palestina secara umum. Bahkan di tengah kesepakatan gencatan senjata dan bulan Ramadan, kaum muslim Palestina malah dibatasi melakukan ibadah di rumah Allah ini.
Meski demikian, kaum muslim Palestina tidak gentar menghadapi kejahatan zionis yang didukung Amerika Serikat serta para pemimpin penghianat kaum muslim. Demikian pula umat Islam di belahan dunia lainnya tentu tidak boleh diam. Sebab Islam mewajibkan umatnya mengasihi dan menyayangi sesamanya, apalagi umat Islam diibaratkan satu tubuh.
Ramadhan semestinya digunakan untuk menguatkan tekad dalam perjuangan melenyapkan penjajahan. Umat Islam di belahan dunia lain harus memahami bahwa tidak ada solusi lain untuk mengenyahkan penjajahan zionis atas muslim Palestina kecuali dengan jihad dan Khilafah.
Umat Islam tidak boleh lagi berharap pada solusi-solusi yang datang dari Barat dan narasi-narasi sesat soal perdamaian. Sebab Barat justru menginginkan umat Islam kalah dan semakin terpuruk. Barat sangat takut akan kebangkitan Islam, sebab hadirnya kepemimpinan Islam di dunia yakni Khilafah. Inilah akan mengakhiri segala bentuk penjajahan yang dilakukan di negeri-negeri muslim termasuk Palestina. Hadirnya Khilafah yang kedua akan menghancurkan entitas zionis yang merupakan pihak yang wajib diperangi (muhariban fi'lan).
Oleh karena itu, solusi nyata melalui jihad fisabilillah dan upaya menegakkan kembali Khilafah adalah qodiah Masyiriah (persoalan utama) yang paling penting dan wajib menjadi agenda utama umat Islam saat ini.
Wallahualam bissawab.
No comments:
Post a Comment