Fadhillah Khusnah S.Pd
Bencana banjir kembali terjadi dibeberapa wilayah di Jabodetabek. Dampak terparah dirasakan oleh masyarakat Bekasi beberapa waktu lalu dan masih terus berlangsung hingga saat ini. Selain itu, berbagai wilayah lain di negeri ini juga turut merasakan hal yang sama, seperti Sukabumi dan Grobogan di Jawa Tengah. Dilansir dari Tribunjabar.ID, banjir di Jakarta –Bekasi tidak hanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Setidaknya ada empat faktor yang dikemukakan oleh peneliti ahli madya dari pusat riset limnologi dan sumber daya air BRIN, Yus Budiono. Faktor-faktor tersebut ialah penurunan muka tanah, perubahan tata guna lahan, kenaikan muka air laut, dan fenomena cuaca ekstrem. Sementara itu dikutip dari laman Tirto.id, Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Firman Soebagyo menuding program pembukaan lahan 20 juta hektar hutan menjadi lahan untuk pangan, energi dan air telah menjadi pemicu terjadinya banjir disejumlah wilayah Jabodetabek. Menurutnya, pembukaan hutan tersebut menyebabkan kawasan hijau menjadi gundul yang berakibat air hujan tak mampu diserap dengan baik. Beliau juga menemukan dilapangan bahwa tak tersisa lagi hutan yang menjadi resapan dan penopang air dikawasan puncak.
Melihat fenomena banjir yang terus berulang seperti itu tentu mengharuskan kita mencari akar permasalahan yang mendasarinya. Sebab hal itu bukan sekadar problem teknis melainkan sistem. Terlebih lagi, sanggupkah pemerintah menahan arus kekesalan dari umat yang meluap pasca kejadian berulang seperti ini? Happy, salah satu warga Bekasi yang sudah menetap selama 11 tahun disana mengaku muak dengan permasalahan tanpa solusi yang kian menimpanya (BBC News Indonesia). Puncaknya, masyarakat menilai bahwa pemerintah memang tak pernah serius menangani masalah banjir tersebut. Karena nyatanya, para pejabat hanya melakukan kunjungan dan menjanjikan banyak hal namun sangat minim realisasi.
Sangat penting bagi kita untuk memahami bahwa kebijakan berparadigma kapitalistik menghantarkan pada konsep pembangunan yang abai pada kelestarian lingkungan dan keselamatan manusia. Segala sesuatu dalam sistem kapitalisme dilandasi dengan manfaat dan keuntungan semata. Para korporat dan pemegang kekuasaan saling bekerja sama mengeruk sumber daya di bumi demi sebanyak-banyaknya materi yang menjadi tujuan utamanya. Sementara disaat yang sama, keseimbangan alam terganggu sebagai dampak eksploitasi yang tak terukur dan cenderung serakah. Tanpa pernah mereka memikirkan akibat yang akan datang setelahnya. Selain itu, aspek mitigasi yang lemah mengakibatkan banjir tak terbendung dan rakyat menjadi korbannya. Hal itu sejalan dengan pernyataan sebelumnya bahwa sistem ini abai pada kelangsungan lingkungan hidup maupun manusia. Pembangunan harus memiliki paradigma yang tepat sehingga memudahkan kehidupan manusia tanpa mengabaikan kelestarian alam.
Saat kita tidak mampu menemukan bahwa sistem hidup kapitalisme menjaga dan melindungi keberlangsungan ekosistem yang berkaitan dengan penanganan bencana seperti banjir, mari menilik bagaimana Islam mengaturnya. Islam memberikan arahan kepada negara bagaimana membangun negara dengan baik. Dengan posisi penguasa sebagai raa’in, maka penguasa akan terus mengurus rakyat dengan baik sehingga tercapai kehidupan yang sejahtera, aman, nyaman dan terhindar dari banjir. Namun bukan berarti Islam menjaga jarak dari pembangunan. Pembangunan ialah uslub atau cara untuk mengusahakan kemudahan hidup yang bermuara pada tujuan hakiki, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Pemimpin didalam sistem Islam turut melakukannya. Namun tentu dibarengi dengan upaya mengadakan mitigasi yang kuat untuk mencegah terjadinya bencana khususnya banjir. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT didalam Al-Qur’an surah al- A’raf ayat 56, “ Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah diatur dengan baik.”. Sistem terbaik yang Allah amanahkan kepada hamba- Nya yang beriman itu tentunya perlu diwujudkan dengan serangkaian upaya. Rasulullah telah mencontohkannya belasan abad yang lalu. Saat beliau memulai dakwah di Makkah hingga hijrah ke Madinah lalu mendirikan daulah atau negara Islam disana. Maka, seperti itu pula kita harus mengupayakannya. Lalu menyambut janji Allah yang tertera dalam kitab-Nya, “Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh”
Wallahu’alam bishowwab.
.jpg)
No comments:
Post a Comment