Sari Setiawati
Pada bulan ini, tepatnya pada tanggal 20 Oktober 2024, rakyat Indonesia telah memiliki pemimpin yang baru, dengan nggota DPR yang juga sebelumnya sudah resmi dilantik. Hadirnya pemimpin baru dengan jajaran kabinetnya, diharapkan oleh rakyat akan membawa perubahan kepada kondisi yang lebih baik daripada pemerintahan yang sebelumnya.
Karena belajar dari kondisi sebelumnya, meskipun sudah sering gonta-ganti pemimpin , keadaan negeri ini tidak bertambah baik, bahkan justru semakin terpuruk dan tidak ada perubahan yang hakiki.
Di berbagai bidang kehidupan, permasalahan yang terjadi semakin rumit. Misalnya di bidang ekonomi, kemiskinan makin tinggi, PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) makin meningkat, pajak makin besar, sehingga memgakibatkan daya beli masyarakat kian menurun, di sisi lain korupsi semakin merajalela, beban utang negara makin berat, apalagi penguasaan sumberdaya alam milik rakyat oleh segelintir orang (asing dan aseng) yang makin tak terkendali, menjadikan perekonomian masyarakat di negeri ini semakin carut marut. Salah satu dampaknya adalah naiknya orang miskin di Indonesia per Maret 2024, hingga mencapai 25,22 juta orang (setkab. go. id).
Sementara dalam bidang politik, meskipun berhasil memenangkan Pilpres, penguasa yang terpilih harus membalas budi dan membagi-bagikan kekuasaan dengan para partai koalisi yang telah mendukungnya hingga menduduki kekuasaan yang tertinggi. Akibatnya, keinginan untuk menyejahterakan rakyat yang sering dijanjikan ketika kampanye, hanya tinggal janji manis yang tidak terbukti dan malah berujung pada bagi-bagi kekuasaan untuk para oligarki (sekelompok orang memiliki kekuasaan dan modal ). Hingga akhirnya, kekuasaan pun bukan untuk kepentingan rakyat, tetapi untuk para oligarki kapitalis yang mengendalikan kekuasaan terutama dalam struktur politik dan ekonomi. Inilah hakikat dari penerapan sistem kapitalisme sekularisme liberal, yang juga diterapkan di negeri ini.
Sistem kapitalisme sekularisme inilah yang telah diterapkan di Indonesia, sejak awal- awal kemerdekaan negeri ini, dan lebih kuatnya lagi sejak awal Orde Baru. Maka, selama sistem yang diterapkan masih sama, walaupun negeri ini pernah melakukan reformasi di tahun 1998-an, namun pergantian pemimpin tidak menjadikan perubahan ke kondisi yang lebih baik.
Bahkan pasca reformasi, liberalisme semakin merajalela dan menjadikan negeri ini semakin terpuruk. Jika ingin terjadi perubahan, tidak cukup dengan pergantian pemimpin, tapi juga harus berganti sistem, dari kapitalisme sekularisme liberal kepada penerapan sistem yang sahih (benar), yaitu sistem Islam.
Islam sebagai sistem hidup yang berasal dari Sang Pencipta (Allah SWT), telah menetapkan, bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan baik di dunia ataupun di akhirat. Oleh karena itu, pemimpinnya harus bersikap kasih sayang dan adil terhadap rakyat , memudahkan urusan rakyat dengan menegakkan syariah Islam kaffah di tengah tengah masyarakat, baik kaum Muslim maupun non-Muslim.
Kewajiban pemimpin terhadap pemenuhan hak rakyatnya, dengan menjamin pemenuhan kebutuhan rakyat, seperti menyelenggarakan pendidikan yang terbaik dan terjangkau, dan juga menyediakan fasilitas kesehatan yang layak dan cuma-cuma, serta jaminan keamanan, disertai dengan memastikan kemampuan rakyat dalam memenuhi kebutuhan primer mereka, seperti pangan, sandang dan papan, hanya akan ada pada sistem yang adil yang dapat melahirkan pemimpin yang adil, yaitu sistem Islam.
Melalui pengelolaan sumber daya alam milik rakyat oleh negara, yang hasilnya diberikan kepada rakyat demi kemakmuran hidup mereka, inilah yang dapat membiayai jaminan negara atas pemenuhan kebutuhan rakyatnya. Maka di dalam Islam, SDA tidak boleh dikelola oleh swasta, apalagi dimiliki oleh mereka sekarang ini.
Oleh karena itu, jika bangsa ini ingin maju, adil, makmur dan sejahtera serta diridhoi dan diberkahi oleh Allah SWT, hendaklah berhukum dengan hukum (syariat) Allah saja, bukan sekadar mengganti penguasa (pemimpin). Allah SWT berfirman dalam QS. al-A’raf (7): 96), yang artinya: ” Dan sekitarnya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami) maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”.
WalLahu a’lam bishawab
No comments:
Post a Comment