Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pendidikan Terjangkau Dan Berkualitas, Terjamin Dengan Islam Politik

Monday, August 12, 2024 | August 12, 2024 WIB Last Updated 2026-08-21T12:58:34Z

Oleh: Lisa Oka Rina
Pemerhati Kebijakan Publik

Orang tua di Samarinda mengeluhkan tingginya harga buku dan LKS hingga harus mengeluarkan uang Rp 1,5 Juta. Tingginya biaya buku paket dan LKS ini membuat sejumlah ibu-ibu menggelar aksi damai di depan Kantor Gubernur, Jalan Gajah Mada, Samarinda, Rabu (24/7/2024).

Selain keresahan terkait tingginya harga buku paket dan LKS hingga dugaan jual beli buku sekolah, orang tua juga mempertanyakan batasan Sekolah Gratis. Aksi para ibu yang digelar di depan Kantor Gubernur, Jalan Gajah Mada, Samarinda ini bertajuk Stop Komersialisasi dan Liberalisasi Pendidikan Anak.

Padahal, ada dana BOS yang dialokasikan minimal 20 persen untuk pembelian buku paket wajib.
“Tapi nyatanya di Samarinda ada 226 sekolah dasar yang diduga masih menerapkan jual beli buku. Nah dana itu ke mana?,” beber Nina.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Samarinda, Abdul Rozak mengatakan bahwa keluhan para orang tua murid tersebut telah didengarkan.

Sebab itu, Kadisdik Samarinda ini menekankan pentingnya transparansi dan komunikasi yang baik antara orangtua dan pihak sekolah.
“Bisa disampaikan kepada pihak sekolah. Kalau di sekolah tidak merespon, bisa dilaporkan ke Disdikbud,” kata Asli, Rabu (24/7/2024).
Asli menjelaskan, Disdikbud memiliki beberapa solusi untuk membantu orang tua murid yang tidak mampu.

Di antaranya, melalui pengurangan harga buku. Kemudian, dirinya mempersilakan bagi sekolah untuk menerapkan kebijakan pembayaran cicilan kepada orangtua yang merasa keberatan. (Kaltim.tribun news, 25/7/2024)

 

Demonstrasi emak-emak sebenarnya tidak hanya mengeluhkan biaya buku yang mahal. Namun, kompleksitas persoalan hidup seperti biaya kebutuhan pokok, bahan bakar, bayar air, listrik, kesehatan, dan biaya lainnya. Di tengah himpitan ekonomi ini, di awal masuk sekolah malah disuguhi dengan biaya buku, seragam dan perlengkapan sekolah yang tentu membuat emak-emak mengeluh hingga berdemo.

Tawaran solusi berupa pengurangan harga buku dan kelonggaran untuk di cicil, sejatinya hal itu sama saja bukan solusi/jalan keluar, yang ada tetap saja memberatkan karena harus membayar uang buku, seragam dan LKS, padahal sudah tersedia dana operasional sekolah (Dana BOS) yang berasal dari pusat.

Kondisi ini juga dialami oleh para orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta. Padahal bersekolah di sekolah swasta, adalah karena kuota di sekolah negeri sudah dibatasi atau tidak mumpuni menampung seluruh peserta didik.

Pendidikan yang mahal dan membebani ini, adalah hal wajar dan lumrah, karena kita hidup dalam alam sekuler kapitalisme, yakni segala hal ditimbang untung rugi, termasuk sisi pendidikan, yang dikomersilkan dan terjadi liberalisasi pendidikan. Akibatnya, membebani dan semakin sulit bagi masyarakat khususnya orang tua.

Belum lagi kita melihat, output generasi yang terlahir, tidak tercover akidah dan kepribadiannya, akibat penerapan sistem pendidikan sekuler. Generasi yang terlibat pornografi, seks bebas, narkoba, bahkan pelaku judol yang baru-baru ini terjadi adalah paparan nyata kerusakan akut karena sistem pendidikan yang menjauhkan peran agama sebagai acuan materi didik, dari level dasar sampai level tinggi. Karena agama tidak dijadikan pondasi, melahirkan budaya dan pribadi liberal, yang berprinsip kebebasan bertingkah laku dalam tindak tanduk kehidupannya.

Pendidikan seharusnya merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh negara, dengan gratis dan berkualitas. Bukan dibebankan kepada sekolah dan orang tua. Karena Rasulullah suri tauladan kita, sudah menyatakan dalam sabdanya, “Imam adalah Raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggungjawab atas pengurusan rakyatnya” (HR. Al-Bukhari).

Dalam menegakkan sistem pendidikan ini, penerapan sistem ekonomi islam menjadi pendukung utama, karena semua pembiayaan pendidikan, mulai dari tingkat hingga perguruan tinggi, mulai dari fisik bangunan hingga tersedianya laboratorium untuk memudahkan penelitian atau praktikum, akan mudah tersedia karena pendanaan yang mumpuni dari sumber daya alam di negeri ini, yang dikelola berdasarkan syariat islam.

Islam sudah menetapkan, sumber daya alam semisal minyak bumi, gas bumi,  batu bara dan lain sebagainya, itu semua adalah kepemilikan umum, yang harom dikuasai dan dikelola oleh individu maupun kelompok tertentu, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Kaum muslimin bersekutu (memiliki hak yang sama) dalam 3 hal : air, padang, dan api (HR. Abu Dawud).

Karena berbasis aqidah islam, sistem pendidikan islam telah mampu menghasilkan generasi yang gemilang, secara akademik maupun spiritual (agama). Hal ini terbukti dengan lahirnya para ilmuwan dalam masa peradaban islam seperti Ibnu Sina bapak kedokteran yang ilmunya masih dijadikan rujukan hingga saat ini. Ibnu Al-Haitam bapak optik modern, Muhammad Ibnu Al-Hawaritzmi sang ahli matematika yang ilmunya masih menjadi rujukan dan digunakan hingga hari ini. Abbas Ibnu Firnas orang pertama yang terbang, beliau sebagai peletak dasar pesawat terbang, Al-Jazari penemu robot pertama, Al-Idrisy pembuat bola dunia pertama,  Fatimah al-Fihri sang pendiri perguruan tinggi modern pertama, dan masih banyak lagi ilmuwan lainnya.

Wallahu’alam bishhowwab

×
Berita Terbaru Update