Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pemuda Mabuk Kecubung, Buah Sekularisme ?

Monday, August 12, 2024 | August 12, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:40:10Z

Oleh. Nasywa Adzkiya
(Aktivis Muslimah Kalsel)

Baru-baru ini publik Indonesia dihebohkan dengan berita tentang puluhan pemuda yang harus dilarikan ke RSJ karena mabuk kecubung. Bahkan diantara korban ada yang meninggal dunia. Selain itu juga terdapat korban berjenis kelamin Wanita.

Sebagaimana dilansir dari detikSulsel, Kamis (11/7/2024). Sebanyak 44 warga dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum, Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), karena diduga mabuk kecubung. Dua orang di antaranya meninggal dunia.”Update per hari ini (Kamis) itu sekitar 44 pasien. Kemudian terdata sementara wanita ada tiga orang, dan sampai detik ini ada dua yang meninggal. Mudah-mudahan tidak terdampak lagi,” kata Kasi Humas dan Informasi RSJ Sambang Lihum, Budi Harmanto.

Para pasien yang berdatangan ke RSJ Sambang Lihum Banjarmasin mengalami halusinasi hebat. Masing-masing di antara mereka mengalami kondisi yang berbeda-beda dari sedang hingga meninggal dunia karena dosis yang berbeda-beda.

Peristiwa ini tentu harus menjadi perhatian bersama. Perilaku mabuk kecubung ini adalah perilaku yang sangat nyeleneh dan menunjukkan rusaknya kehidupan generasi saat ini. Perilaku ini merupakan salah satu akibat dari bebasnya pergaulan saat ini. Menjadi tanda tanya besar, apa tujuan mereka mengkonsumsi kecubung yang dapat memabukkan tersebut? Mengapa generasi hari ini mudah terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak sehat?

Kerusakan generasi hari ini dapat kita lihat sebagai ketidakberhasilan sistem kehidupan yang berlaku saat ini yaitu sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga pergaulan semakin liberal, tujuan hidup pemuda yang tidak tentu arah, lemahnya ketahanan mental para pemuda hingga gagalnya sistem pendidikan hari ini.

Melihat kondisi yang disebutkan dalam fakta di atas, sudah sepatutnya kita mengevaluasi bagaimana pendidikan di Indonesia saat ini. Mengapa makin hari justru semakin suram? padahal seharusnya pendidikan dapat menghasilkan output yang selain memiliki intelektualitas juga memiliki karakter yang luhur.

Sebagaimana yang diketahui, bahwa negeri ini telah bergonta-ganti kurikulum. Namun sayangnya perubahan kurikulum ini tidak juga mampu membawa perubahan yang baik pada pendidikan Indonesia. Alih-alih membawa perubahan yang baik, justru makin ke sini makin banyak berbagai masalah.

Jika kita cermati, sistem pendidikan hari ini hanya berorientasi pada materi semata. Lembaga pendidikan hanya berfokus pada bagaimana menghasilkan output yang siap pakai di dunia kerja, atau yang mampu menghasilkan materi. Alhasil lembaga pendidikan tidak berfokus pada bagaimana melahirkan generasi yang berkarakter luhur.

Selain itu, sistem pendidikan yang didasari dengan sekulerisme telah menjauhkan peserta didik dari agama. Akibatnya, nilai-nilai luhur dalam agama tidaklah lagi dipahami dan diamalkan oleh peserta didik. Akibatnya, banyak generasi yang rusak karena penerapan sistem rusak ini. Oleh karena itu, output pendidikan hari ini menghasilkan kaum intelektual yang minim moral. Dengan demikian kapitalisme sekularisme terbukti gagal menciptakan generasi yang baik.

Dalam negara yang bersistem Islam, akidah Islam merupakan landasan hidup dan satu-satunya asas negara. Sehingga, dalam penyelenggaraan pendidikan tidaklah dikelola, kecuali berdasarkan akidah Islam. Oleh karena itu untuk memperbaiki sistem pendidikan di negeri ini tidak lain harus kembali pada penerapan islam.

Dalam sistem pendidikan Islam, landasan ilmu pengetahuan yang diberikan kepada pelajar selalu merujuk kepada akidah Islam, baik itu pengetahuan seperti akidah dan hukum syara, maupun sejarah dan ilmu-ilmu lainnya.

Selain itu, dalam negara yang menerapkan sistem Islam sekolah adalah hak bagi setiap anak, baik miskin atau kaya, baik Muslim atau nonmuslim. Sekolah akan difasilitasi oleh negara karena ia merupakan kebutuhan dasar bagi rakyat.

Semua sekolah akan memiliki kualitas yang sama. Negara akan membangun infrastruktur dan fasilitas penunjang untuk kegiatan belajar dan mengajar di sekolah seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, buku-buku pelajaran, teknologi yang mendukung, dan sebagainya. Khilafah juga akan menjamin tenaga pengajar dan administratif sekolah adalah orang yang amanah, kompeten dan ahli di bidangnya.

Dalam sejarah peradabannya Islam telah terbukti mencetak generasi-generasi terbaik yang berkecimpung dalam berbagai aspek. Terdapat figur hebat seperti Khalid bin Walid dan Salahuddin Al Ayyubi dalam bidang politik dan pemerintahan, atau dari kalangan ulama dalam bidang fiqih, terdapat figur seperti Imam Syafi’i dan Imam Bukhari, juga terdapat Al Khawarizmi dan Ibnu Sina dalam bidang ilmu sains, dan masih banyak lagi figur-figur hebat yang lahir dari sistem pendidikan Islam.

Karena itu, sudah saatnya kita menyelamatkan generasi dengan Islam di bawah naungan sistem Islam. Hanya Islam satu-satunya yang mampu dapat menyelamatkan generasi.

Wallahu a’lam bishawab.

×
Berita Terbaru Update