Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam Mampu Mencegah Kasus Bunuh Diri

Monday, July 15, 2024 | July 15, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:42:22Z

Oleh Umi Lia
Penggiat Literasi

Angka Suicide rate/tingkat bunuh diri di Bali menjadi yang paling tinggi di Indonesia, yaitu sebesar 3,07, jauh melampaui provinsi-provinsi lain di tanah air. Data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri menyebutkan bahwa pada tahun 2023, ada 135 kasus yang dilaporkan. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berkisar 4,3 juta jiwa, angka tersebut tergolong besar. Apa penyebabnya? (CNN Indonesia, 2/7/2024)

Menurut Dokter Spesialis Kejiwaan/Psikiater RSUP Prof Ngoerah, Anak Ayu Sri Wahyuni, ada dua penyebab terjadinya bunuh diri yaitu faktor biologis yang terjadi karena ada kelainan mental pada seseorang seperti depresi, skizofrenia atau gangguan jiwa bipolar. Dan yang kedua adalah psikososial, contohnya terbelit utang, terutama sekarang ada pinjol dan terlibat judol. Menurutnya solusi untuk mencegahnya adalah dengan meningkatkan komunikasi dalam keluarga, saling mendengarkan dan didengarkan, menerima kekurangan masing-masing dan juga selalu bersyukur atas segala hal.

Tren bunuh diri sudah menggejala di masyarakat, jelas tidak bisa dikatakan sebagai problem individu. Ini menggambarkan betapa buruknya mentalitas masyarakat. Menurut cendikiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto, mentalitas adalah ketahanan dalam menanggung penderitaan, menjalani kesulitan saat berusaha menghadapi tantangan. Itu merupakan faktor internal yang mempengaruhi seseorang dalam hidup. Kelemahan dihasilkan dari cara pandang (akidah) yang salah akan kehidupan.

Pada saat ini pandangan hidup yang dijadikan pedoman adalah akidah sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Karena itu wajar terjadi krisis keimanan sehingga mental masyarakat menjadi sakit dan rendah. Hal ini terjadi akibat penerapan ideologi kapitalisme oleh negara.

Akhirnya mau tidak mau harus menghadapi standar kemuliaan hidup yang dinilai dari materi baik itu berupa prestise, jabatan, kemewahan dan sebagainya. Kemudian mereka juga harus menghadapi negara yang abai terhadap kebutuhan rakyatnya. Lapangan pekerjaan sulit, inflasi kebutuhan pokok semakin naik, PHK di mana-mana dan sebagainya. Ujung-ujungnya, bunuh diri pun dijadikan sebagai solusi penderitaan akibat tekanan sistem yang ada (sekuler kapitalisme).

Fenomena bunuh diri juga menunjukkan gagalnya sistem pendidikan dalam mewujudkan individu yang bermental kuat, selalu bersyukur dan bersabar dalam menghadapi cobaan hidup. Mengapa hal itu terjadi? Penyebabnya adalah sistem sekuler kapitalis yang diterapkan negeri ini mengeliminasi peran tiga pilar pembentuk generasi.

Pertama: Hilangnya peran keluarga yang seharusnya menjadi penguat dan modal dasar tumbuh kembang anak. Kedua: Sekolah dan masyarakat. Kurikulum pendidikan yang berlaku nyatanya sekarang berbasis sekuler yang menjauhkan manusia dari agamanya. Hal itu menyebabkan generasi tidak mengerti halal haram, mereka bersikap bebas demi meraih kebahagiaannya yang bersifat materi. Akhirnya masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat individualis kapitalistis.

Ketiga: Negara. Peran negara dalam hal ini adalah untuk mengontrol dan mengawasi media dalam menyebarkan informasi dan tontonan. Karena di era digital ini banyak tayangan yang mengangkat konten bunuh diri. Jika diperhatikan kasus bunuh diri kebanyakan terjadi karena copycat suicide, yaitu tindakan menghilangkan nyawanya sendiri yang dilatarbelakangi ingin meniru kasus serupa sebelumnya.

Masalah bunuh diri problem sistemik, solusinya juga harus dengan sistem juga. Yaitu mengganti aturan kapitalis sekuler dengan Islam. Ideologi yang tidak hanya mengatur cara beribadah, tapi juga melahirkan aturan kehidupan. Dasarnya adalah akidah yang menyatakan bahwa satu-satunya pencipta dan pengatur adalah Allah Swt.

Akidah ini harus dipahami dengan kerangka berpikir yang benar hingga manusia tunduk patuh dan menjalankan semua syari’atNya. Di antara bentuk ketaatan itu adalah seseorang harus bersabar dan ikhlas istiqamah juga qana’ah menerima apapun yang dia terima. Karena dia sadar bagian dari hidup pasti ada ujian. Allah berfirman:
“Dia yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…” (QS al-Mulk ayat 2)

Dengan memahami mindset seperti ini, maka orang akan memiliki mentalitas yang luar biasa kuat. Ada beberapa cara yang telah ditetapkan Islam untuk mencegah terjadinya bunuh diri. Pertama, menanamkan akidah Islam sejak dini pada anak-anak yang akan menancap kuat dan melahirkan perilaku yang sesuai syari’at. Hingga mereka memahami bahwa hidup itu tujuannya adalah beribadah pada Allah Swt.

Kedua, menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah. Hal ini sudah terbukti bisa melahirkan generasi yang berkepribadian Islam, kuat imannya dan cerdas akalnya. Dengan begitu mereka akan bermental baja tidak mudah menyerah pada keadaan.

Ketiga, negara akan memastikan para ibu menjalankan kewajibannya dengan baik. Mereka adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sistem ekonomi Islam yang diterapkan negara akan mampu menyediakan lapangan kerja bagi setiap laki-laki, sehingga peran ayah dan ibu dalam keluarga bisa berjalan seimbang.

Walhasil, penerapan sistem Islam oleh negara akan membentuk individu bertakwa, masyarakat yang saling peduli dan negara yang benar-benar mengurus rakyatnya. Dengan begitu masalah bunuh diri bisa diatasi dengan tuntas.
Wallahu a’lam bish shawab.

×
Berita Terbaru Update