Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Aparat Juga Butuh Syariat

Monday, July 01, 2024 | Monday, July 01, 2024 WIB

Oleh: Rahmatul Aini S.Sos
(Aktivis Dakwah & Penulis)

 

Viral di media sosial kasus polisi wanita di Mojokerto, Jawa Timur, yang membakar suaminya yang juga anggota kepolisian, Sabtu (8/6/2024),

Seperti diberitakan, Brigadir Satu (Briptu) FN (28), polwan di Kepolisian Resor (Polres) Kota Mojokerto, membakar suaminya, Briptu Rian Dwi Wicaksono (27), yang juga anggota Polres Jombang. Rian meninggal pada Minggu (9/6/2024) sekitar pukul 12.00 WIB di rumah sakit karena menderita luka bakar lebih dari 90 persen.

Hasil penyidikan sementara Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur menunjukkan, motif FN ialah suaminya kerap menghabiskan uang belanja keluarga sehari-hari untuk bermain judi daring. Padahal, tiga anak mereka yang masih balita membutuhkan biaya.

Belum usai kasus yang menyerat nama berbagai aparat terkait narkoba, sekarang muncul lagi kasus baru yang datang dari dunia aparat bahkan kisah pilu korban harus di saksikan oleh jutaan masyarakat Indonesia. Seolah tak pernah putus oleh kasus mengapa hal mengerikan di negeri ini juga melibat para aparat misal kasus asusila, narkoba, judi dan lainnya.
Kita tidak menutup mata di masyarakat biasa pun menjamur para pelaku asusila, pelaku judi, pelaku narkoba maupun bandar. Kehadiran aparat di tengah masyarakat seharusnya sebagi penegak hukum dan menjadi pengayom masyarakat, tapi mirisnya aparat juga terseret oleh sistem hari ini

Judi adalah hal yang di haromkan oleh Allah apapun alasannya, untuk menambah penghasilan lah, biar dapat cuan instan lah, tetap judi dihukumi pada keharoman.

Betapa mirisnya masyarakat hari ini yang harus pontang panting untuk mengejar tambahan penghasilan karena kebutuhan makin banyak dan harga semakin naik dari tahun ke tahun, ditambah lagi mencari kerja makin sulit. Kalau pun ada kerja tetap tak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Maka munculah inisiatif instan mencari tambahan lewat judi. Tidak hanya polisi guru pun punya kerjaan sampingan untuk menambah pemasukan, ada yang kerja jadi driver online, pemulung, jualan. Bahkan sampai sekelas tentara AD bekerja sampingan jualan sate pun ada.
Padahal tes jadi polisi, AD menelan biaya yang mahal, sampai harus lulus butuh duit banyak. Berharap ketika sudah kerja bisa hidup sejahtera dan mampu membantu perekonomian keluarga, realita nya Justru mereka tetap banting setir di tengah gempuran infasi yang terus meroket.

Kehidupan masyarakat ini sudah di setting miskin oleh sistem, coba kita cari orang yang paling kaya di Indonesia tetap ujung nya adalah pengusaha dan penguasa. Tak ada istilah guru honorer yg kaya, pun dengan yang sudah bergelar PNS mereka tetap berkutik dengan persoalan ekonomi, gadai SK buat menutupi hutang pun ada. Jadi wajar kita jumpai sampai detik ini dari kalangan masyarakat rendah sampai aparat sipil pun terjerat judi online.

Dalam Islam judi adalah sesuatu yang di haramkan oleh Allah. Apapun alasannya tetap mutlak keharoman nya seperti halnya riba, khamr. Masyarakat pun hari ini kian buta dengan pemahaman Islam, mereka menolak makan babi yang jelas harom tapi mengambil riba, menjual narkoba, maupun judi seolah boleh saja asal membantu ekonomi keluarga, ini tentu salah kaprah. Makanya butuh sistem Islam secara negara agar umat mampu faham seutuhnya perihal hukum Islam.

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 219)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update