Oleh Suci Halimatussadiah
Ibu Pemerhati Masyarakat
Dikutip dari media online ANTARA – Polisi menangkap pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan gangster di wilayah hukum Polres Metro Jakarta Pusat selama April hingga Mei 2024. 25 Mei 2024 juga terjadi curanmor dengan tersangka AH (34), SR (26) dan EP (37) yang juga memanfaatkan kunci motor yang tertinggal pada motor yang terparkir di pinggir jalan,” kata Kapolsek Sawah Besar Kompol Dhanar Dhono Vernandhie di Polres Metro Jakarta Pusat, Senin.(m.antaranews. Com, 3/6/2024)
Ramadan berlalu musim haji di depan mata. Namun, kondisi masyarakat terutama taraf kesejahteraannya justru kian menuju diambang keterpurukan. Harga kebutuhan hidup kian mencekik dari mulai beras, minyak, tahu tempe hingga daging dari lebaran hingga sekarang tidak stabil. Akibatnya kita bisa melihat masyarakat banyak yang mengalami kesulitan mencari penghidupan. Mirisnya justru kriminalitas kian meningkat. Gang motor yang berujung pembegalan hingga curanmor seakan tak berhenti mengganggu kenyamanan masyarakat. Rasa aman seolah mahal di negeri ini.
Jika kita telusuri fakta-fakta kejahatan saat ini kian meningkat. Bahkan Ramadan berlalu tak memberi efek terhadap perilaku masyarakat saat ini. Setidaknya ada dua alasan mengapa hal ini dapat terjadi. Tuntutan kebutuhan yang makin meningkat saat ini tak dibarengi dengan peningkatan pendapatan membuat sebagian orang menjadi gelap mata dan menghalalkan segala cara. Aksi nekat pelaku kejahatan dapat terjadi karena lemahnya iman. Para pelaku tidak lagi memedulikan dampak dari perbuatannya.
Inilah akibat diterapkannya sistem kehidupan kapitalisme sekuler. Dalam sistem ini, akibat dominasi para pemilik modal, kekayaan negeri ini banyak dikuasai oleh segelintir orang (para kapitalis). Hidup bagaikan di hutan rimba, hanya yang mampu bersaing yang dapat bertahan. Sayangnya, persaingan ini menjadi tidak adil karena faktor-faktor produksi banyak dikuasai oleh kalangan atas. Akhirnya rakyat hanya bisa gigit jari. Kasus korupsi yang viral belakangan ini menunjukkan hal itu.
Jika bukan karena adanya lobi dengan penguasa, bagaimana mungkin seorang pengusaha biasa bisa mempunyai kehidupan mewah dan bergelimang harta? Miris, ternyata korupsilah jawabannya, bahkan angkanya sangat fantastis mencapai Rp271 triliun. Seandainya nominal tersebut dibagikan kepada 271 juta jiwa penduduk Indonesia maka setidaknya setiap kepala berhak mendapat 1 juta rupiah.
Bukan hanya itu saja, di tengah kehidupan yang makin mengimpit karena naiknya kebutuhan saat ini ternyata tidak diimbangi dengan naiknya pendapatan. Menghadapi hal ini penguasa membiarkan rakyat berjibaku sendiri dalam berbagai himpitan ekonomi. Bak anak ayam yang tidak memiliki induk, padahal jelas-jelas, penguasa inilah induk yang seharusnya mengurusi urusan rakyatnya.
Jangan tanya soal keimanan jika perut sudah lapar. Seharusnya jika ada rakyat yang melakukan tindakan kejahatan, yang pertama kali ditanya adalah, apakah tetangganya ada yang peduli? Selanjutnya, apakah negara sudah memerankan fungsinya sebagai pelayan rakyat? Yang terjadi justru sebaliknya. Banyak masyarakat yang abai terhadap penderitaan orang lain karena sudah terpengaruh oleh paham individualisme. Negara pun tidak hadir ketika rakyat berteriak kelaparan. Memang, ada juga yang melakukan kejahatan karena tuntutan gaya hidup, yang seperti ini layak mendapat hukuman tegas.
Inilah karakter sistem buatan manusia, sistem yang lahir dari akal manusia yang lemah dan terbatas. Sistem ini banyak borok di sana-sini. Jika pun tampak ada kebaikannya, tidak jarang, kebaikan tersebut sarat dengan kepentingan sekelompok orang.
Hal ini berbeda dengan sistem Islam, sistem buatan Sang Pencipta. Aturan Islam bersifat syamilan (sempurna) wa kamilan (menyeluruh). Terbukti dalam sejarah, peradaban Islam menorehkan tinta emasnya dalam berbagai bidang, baik pendidikan, jaminan kesejahteraan, pelayanan kesehatan, jaminan keamanan, dan lain-lain.
Islam menjadikan penguasa sebagai raa’in (pengurus urusan rakyat). Mereka diangkat untuk melayani seluruh kebutuhan rakyat. Alih-alih memperkaya diri dan aji mumpung agar bisa berkuasa hingga tujuh turunan, justru banyak orang beriman yang enggan menjadi penguasa karena mengetahui betapa beratnya amanah ini. Besarnya ancaman Allah bagi penguasa yang tidak amanah membuat banyak sahabat Rasulullah di masa lalu menolak mentah-mentah tawaran untuk berkuasa. Untuk menjamin kehidupan yang aman dan tenteram, minim kejahatan,
Islam menuntut peranan berbagai pilar di antaranya, pertama individu yang bertakwa. Modal takwa inilah yang dapat mencegah siapa pun melakukan tindakan kejahatan karena dalam Islam, setiap tindakan kejahatan adalah kemaksiatan dan setiap kemaksiatan akan menyebabkan dosa bagi pelakunya. Dengan landasan keimanan dan ketakwaanlah seorang muslim akan merasa takut dengan azab Allah di akhirat. Meski seberat apa pun beban hidup yang mengimpit, tidak akan membuatnya terjatuh dalam kubangan kemaksiatan.
Kedua, kontrol sosial yang berfungsi di tengah masyarakat. Kontrol sosial ini ibarat alarm pertama sebelum kejahatan dilakukan. Masyarakat muslim bukanlah masyarakat yang abai dan bersifat individualis, melainkan peka terhadap setiap perilaku maksiat dan aktif melakukan aktivitas amar makruf nahi mungkar. Banyak kejadian pencurian yang terjadi di bulan Ramadan, ternyata para tetangganya abai karena sudah terjangkiti virus individualisme. Hal ini tidak akan terjadi jika sistem Islam tegak.
Ketiga, peran negara sebagai raa’in benar-benar berfungsi dengan baik. Bukan hanya menjadi pengawas atas berjalannya aturan, melainkan juga menerapkan Islam mulai dari akar hingga daun. Kehidupan yang aman dan tenteram salah satunya akan tercapai jika masyarakat terjamin kesejahteraannya. Salah satu komponen jaminan kesejahteraan adalah baiknya pengelolaan kekayaan alam.
Selanjutnya jika semua bidang sudah menggunakan aturan Islam, tetapi masih ada pribadi yang melakukan kejahatan, Islam akan menindaknya dengan sanksi yang tegas. Bagi pelaku pencurian, ada hukuman potong tangan jika barang curian telah mencapai nishab (1/4 dinar). Sanksi ini bukan hanya akan memberi efek jera bagi pelaku, tetapi juga menjadi jaminan penebusan dosa di akhirat kelak. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai muslim turut serta memperjuangkan tegaknya sistem Islam yang insyaallah akan mengantarkan kehidupan kita menjadi lebih baik di masa yang akan datang. insyaallah.
Wallahualam bissawab.
No comments:
Post a Comment