Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ibu Mulia Dengan Islam Kaffah

Sunday, June 16, 2024 | Sunday, June 16, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:43:54Z

Oleh : Nadia Salsabyla

Salah satu peranan penting bagi seorang ibu adalah sebagai ‘menteri pendidikan’ bagi anak-anaknya. Beliau merawat, mendidik, memastikan adab dan langkah dari generasi penerusnya tidak ada yang salah. Namun mirisnya jika kita meihat kondisi sekarang, banyak ibu yang kehilangan perannya, lupa tugas dan tanggung jawabnya.

Seperti kasus yang ramai di media sosial, pelecehan anak yang dilakukakan oleh ibu kandungnya sendiri hanya karena iming-iming uang. Terkait kasus pembuatan video vulgar ini, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak mengimbau kepada masyarakat untuk lebih bijak pada saat menggunakan media sosial. Sejauh ini, total ada dua ibu muda yang ditetapkan sebagai tersangka. Adapun, mereka adalah AK (26) dan R (22). (liputan6 9/6/24)

Selain karena faktor ekonomi, AK salah satu pelaku pelecehan mengaku terpaksa melakukan hal tersebut karen mendapat ancaman dari seseorang yang dikenalnya melalui facebook. (Tempo 8/6/24)

Pelecehan ini tentu sangat membahayakan tumbuh kembang sang anak. Psikolog anak Novita Tandry menyampaikan bahwa usia 0-6 tahun manusia berada dalam masa penyerapan. Semua hal yag diserap oleh panca indera akan disimpan di dalam otak dan sangat mungkin dibangkitkan kembali ketika masa pubertas. (kompas 8/6/24)

Kapitalisme Merenggut Fitrah Ibu
Kasus pelecehan terhadap anak tidak bisa terhindarkan, bahkan orang terdekat sangat mungkin menjadi pelakunya. Hal ini terus berulang karena faktor-faktor yang tidak ditangani dengan baik. Sistem pendidikan kapitalis sekuler yang mengutamakan materi dan keuntungan pribadi juga memisahkan antara kehidupan dunia dengan agama menurunkan kualitas para ibu di negeri ini. Ditambah lagi tidak maksimalnya negara dalam menyejahterahkan rakyat, membuat peluang kriminalitas terbuka lebar.

Tidak sedikit para ibu yang harusnya fokus menjadi pendidik teralihkan kepada urusan nafkah. Kebutuhan yang semakin menghimpit, membuat mereka harus ikut berjuang mencari segala kemungkinan untuk menghadirkan bahan pangan. Aqidah yang kurang kokoh dan tsaqofah islam yang kurang mendalam membuat para ibu tergoda membuka jalan kemaksiatan. Kondisi ini hampir dianggap satu kelaziman di era sekarang. Satu kemaksiatan mencuat dan menghilang dengan mudahnya, atau tertutupi dengan kemaksiatan yang lainnya.

Dalam kurikulum kita, pelajar mendapatkan pendidikan agama sebatas teori tapi minus praktiknya di tengah masyarakat. Media yang dapat diakses masyarakat pun sangat minim mengajarkan adab dan tsaqofah islam. Lantas bagaimana ibu bisa menjadi baik jika keluarga dan masyarakat pun sulit terjaga?.

Pentingnya Penanaman Aqidah Islam Dalam Keluarga
Paham kapitalisme sekuler yang sudah tertancap kuat di semua aspek kehidupan memang sulit dihindari. Hal ini perlu menjadi kehati – hatian bagi setiap keluarga muslim. Karena terjaganya generasi bisa dimulai dengan orang tua yang berupaya memahami islam, aqidah, dan syariat-Nya secara sempurna. Sebagaimana perintah Allah di surat at-Tahri ayat 6;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- ketika menafsirkan ayat ini, beliau mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib, ”Didiklah dan ilmuilah mereka”. Maka tanggung jawab pendidikan adalah sebuah kewajiban yang melekat pada orang tua sebagaimana kewajibannya menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Lebih dari itu, kita juga tidak bisa hanya mengandalkan sekolah atau lingkungan sekitar untuk menancapkan aqidah yang kuat. Sudah seharusnya rumah adalah tempat pertama pembentukan dan pengokohan aqidah.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa di sistem hari ini banyak keluarga muslim yang belum mampu menanamkan aqidah dan mengenalkan seperangkat syariat pada anak-anaknya. Akibatnya ada kelalaian dan kerusakan yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

Dengan demikian pembinaan Islam kaffah di tingkat keluarga muslim, utamanya orang tua merupakan kebutuhan yang urgent. Di samping itu, harus ada dukungan sekolah yang memliki kurikulum islami yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, namun juga memastikan siswanya memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami. Pendidikan yang berorientasi pada pembentukan syakhsiyah islam (kepribadian islam) akan mencetak muslim yang berpikir dan bertindak sesuai ketentuan Allah.

Butuh Penjagaan Sistem Islam
Allah menegaskan dalam Alqur’an tentang bagaimana selayaknya muslim bersikap, juga aturan atau hukum apa yang akan kita pilih dalam memutuskan perkara di tingkat individu hingga negara. Seperti di surat Al-Baqarah ayat 208 Allah berfirman yang artinya; “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu”.

Makna kaffah (keseluruhan) di sini adalah menerapkan Islam secara komprehensif dan paripurna. Islam telah mengatur urusan politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan juga tatanan sosial, dan kita hanya perlu meneladani Rasulullah – shallallahu alaihi wasallam – dalam penerapannya. Sistem ini dilanjutkan pula oleh para khulafaur rasyidin, tabiin dan tabi’ut tabi’in, yang dikenal dengan sebutan Khilafah Islamiyah. Sistem dengan pondasi Islam, menerapkan seperangkat aturan Islam dan tercatat dalam sejarah telah eksis selama 13 abad lamanya. Hingga kini, tidak ada tatanan kehidupan yang akan bertahan selama itu dengan kesejahteraan yang terjamin.

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”. (TQS. Al-Maidah ayat 50)

Wallahu a’lam bisshowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update