Oleh : Nina Iryani S.Pd
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang ke lima itupun bila mampu. Sedangkan banyak dari kita bahkan orang-orang elit baik dari segi finansial maupun elit politik sekalipun berkali-kali bisa beribadah haji, namun belum tentu ada perubahan baik diri pribadinya, masyarakatnya, negerinya bahkan dunia.
Ibadah haji merupakan pelaksanaan menuju panggilan Allah menuju kebaikan dan bermanfaat bagi keadaan lebih baik bagi individu, lingkungan, negeri dan dunia. Semuanya terwujud dalam persatuan dan kesatuan Islam sejati.
Rasullullah SAW bersabda:
“(Inti) Ibadah haji adalah wukuf di Arafah.” (HR.At-Tirmidzi).
Allah SWT berfirman:
“Sungguh kaum mukminin itu bersaudara.” (TQS. Al-Hujurat ayat 10).
Bahkan Rasulullah SAW bersabda:
“Perumpamaan kaum mukmin itu dalam hal saling mengasihi, mencintai dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan demam (turut merasakan sakitnya).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Disisi lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak sempurna iman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
(H.R Muttafaq ‘Alaih).
Demikian pula, Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa saja yang Allah takdirkan untuk menjadi pemimpin yang mengemban urusan orang banyak, lalu dia menutup diri dari orang yang lemah dan yang membutuhkan, Allah pasti akan menutup diri dari pemimpin tersebut pada hari kiamat.”
(HR. Ahmad).
Rasulullah SAW pun bersabda:
“Sungguh imam/Khalifah adalah perisai, orang-orang berperang dibelakang dia, dan menjadikan dirinya pelindung.”
(H.R Muslim).
Demikian pula, Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang berperang dijalan Allah, orang yang berhaji dan orang yang berumrah adalah tamu Allah. Allah memanggil mereka, maka mereka pun memenuhinya. Dan mereka meminta kepada-Nya, maka Ia memberikan kepada mereka (Ia kabulkan).”
(HR. Ibnu Majah).
Dengan demikian bersama-sama di tanah suci untuk berhaji, seyogyanya pun bersama-sama dalam semua hal dari mulai bangun tidur sampai bangun negara tidak hanya satu atau dua urusan tapi semua urusan diatur dengan aturan dari sang pencipta hingga sejahtera lah seluruh penghuni dunia dan akhirat.
Sayangnya sistem sekuler berhasil membuat nation state hingga persatuan hanya terjadi saat berhaji, setelah itu umat bercerai-berai kembali, hidup masing-masing, bahkan acuh hingga mengabaikan persatuan dan kesatuan sesama muslim seperti yang terjadi di Palestina, Rohingnya (Bangladesh, Myanmar dan negeri Muslim yang lain, penyiksaan kaum mukmin di Xinjiang China, diskriminasi mukmin di India dan sebaginya.
Belum lagi meroketnya kasus pengangguran, meningkatnya angka kejahatan, meningkatnya kasus bunuh diri, bullying, perceraian, kekerasan, korupsi dan sebaginya.
Sistem sekuler sangat sukses membuat keadaan dunia makin terpuruk, lalu untuk apa terus mempertahankan keadaan ini?
Saatnya bangkit dan kembali berjaya seperti masa Rasulullah SAW diterapkannya sistem Islam kaffah menuju sejahtera dunia akhirat.
Wallahu’alam bissawab.