SDA Melimpah, Rakyat Merana?

 


Oleh. Eva Hana 

(Pendidik Generasi) 


Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, cukup menggambarkan betapa melimpahnya kekayaan hasil bumi pertiwi. Tidak hanya subur tanahnya, namun juga meruah hasil tambangnya. 


Kekayaannya tak dapat dihitung, meski ekploitasi sudah dimana-mana, alam Indonesia tak kunjung habis. Bahkan data menyebutkan masih terdapat 128 area cekungan (basin) migas yang terdektesi di Indonesia. Diantaranya 20 cekungan sudah berproduksi, delapan cekungan sudah di bor namun belum berproduksi, 19 cekungan indikasi menyimpan hidrokarbon, 13 cekungan kering atau dry hole dan 68 cekungan yang belum dieksplorasi di Indonesia. Kabar terbaru yang paling mengejutkan bahwa tahun 2023 SKK Migas telah berhasil menemukan dua sumber gas besar atau _giant discovery_ yang terdapat di laut Kalimantan Timur dan Sumatra Utara (mediaindonesia, 1/2/24).


Menurut WoodMackenzie, Rystad Energy,  dan S&P Global, kedua penemuan giant discovery tersebut masuk ke dalam five biggest discoveries dunia di 2023, dan membuat Indonesia berhasil mencetak rekor baru setelah 23 tahun lamanya.


Karunia tak terhingga hadir di bumi nusantara, tentu siapapun yang menjadi rakyatnya akan sejahtera. Ya sudah selayaknya rakyat sendiri yang menikmati. Namun apakah mungkin terwujud jika Kapitalisme masih memenjara negeri tercinta?


Harapan kosong di siang bolong, nyatanya tetap saja tak ada makan siang gratis. Rakyat Indonesia harus tetap merangkak mencari kehidupan sendiri. Menyambung hidup dari sisa-sisa kekayaan alam yang telah dirampas oleh para oligarki. 


Jangan berharap negara mampu mengelola secara mandiri. Sebanyak apapun kekayaan alam yang ditemukan, negara akan mencari investor untuk mengelolanya. 


Dalam kapitalisme menarik investor migas adalah sebuah prestasi yang membanggakan. Semakin banyak investornya, semakin tinggi peringkatnya dan di akui oleh dunia. Lihat saja, IHS Market menyebutkan Indonesia berada di peringkat ke-9  dari 14 negara di Asia Pasifik dalam aspek daya tarik investasi migas. Oleh karena itu, menurut sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu (SKK Migas) Shinta Damayanti, peringkat ini perlu dinaikkan. Artinya, Indonesia akan melakukan berbagai cara untuk menarik investor migas. 


Ketiadaan dana untuk mendatangkan alat yang canggih dan kurangnya SDM yang mumpuni selalu menjadi alasan untuk membenarkan kehadiran para investor Asing.


Padahal, banyak lulusan mahasiswa yang ahli di bidang migas maupun pertambangan. Semestinya negara sanggup memberdayakan SDMnya sendiri. Berkaitan dengan kemampuan dan minimnya dana untuk mendatangkan alat yang canggih, sangat tidak logis jika negara tidak mampu memenuhinya. Padahal jika negara mau berusaha mengelolanya, tanpa bergantung pada investor asing, akan sangat menghasilkan banyak keuntungan, yang dengan keuntungan tersebut, kemiskinan akan cepat teratasi.


Kapitalisme memandang bahwa segala sesuatu bebas dimiliki jika ia memiliki modal besar. Termasuk kekayaan alam bebas diprivatisasi. Maka jangan berharap negara berkembang seperti Indonesia mampu berjalan mandiri, sebab ia dikendalikan oleh negara Kapitalis dunia dan tunduk dengan segala kebijakan termasuk soal pengelolaan SDA. 


Maka wajar saja mayoritas SDA terutama di bidang migas, dikendalikan oleh investor asing. Seperti ExxonMobil Cepu Ltd, Medco E&P Natuna, PHE OSES, dan Petrochina lnt Jabung Ltd (PCJL).

Apalagi Indonesia memiliki dua sumber gas yang baru saja ditemukan, dan masuk masuk pada lima penemuan terbesar sepanjang 2023. Artinya, kandungan gasnya melimpah dan akan sangat menjanjikan jika dieksplorasi. Potensi SDA ini sudah tentu menjadi barang rebutan semua perusahaan raksasa. 


Perusahaan-perusahaan raksasa dunia akan berbondong-bondong melamar untuk mengelolanya. Negara Indonesia tinggal memutuskan perusahaan mana yang paling banyak memberikan keuntungan untuk Indonesia. 


Bicara soal keuntungan, rakyat tak mungkin dilirik. Sebab secara perhitungan negara justru menjadi pihak yang dirugikan. Migas yang sejatinya dimiliki oleh Negara, dikuasai asing. Investor Asing yang mengelola, sedangkan negara hanya memberikan fasilitas. Maka sudah dipastikan investor asing tersebut mendapatkan keuntungan lebih besar dari negara.


Dalam sistem Islam, migas dipandang sebagai bahan tambang yang jumlahnya melimpah sehingga termasuk kedalam harta kepemilikan umum (public ownership). Selamanya yang memiliki adalah rakyat, tidak boleh dipindahtangankan kepada individu, swasta apalagi Asing. Pengelolaannya wajib dilakukan oleh negara, sedangkan pemanfaatannya digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.

Rasulullah saw. bersabda :  "Kaum Muslim itu berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput dan api. " (HR. Abu Daud).


Ketegasan kepemilikan tersebut akan mendorong negara mempersiapkan SDM dengan matang agar negara dapat melakukan eksplorasi secara mandiri. 

Dengan begitu, semua hasil dan keuntungan yang diperoleh dapat digunakan untuk menyejahterakan rakyat. 


Islam melarang secara tegas individu melakukan investasi kekayaan umum. Termasuk para investor yang secara jelas mereka adalah perusahaan Asing yang menginginkan keuntungan pribadi. 


Sungguh betapa sempurnanya Islam mengatur kehidupan, secara nyata hadirnya memberikan keadilan dan jaminan kesejahteraan bagi setiap rakyatnya. Negara yang menerapkan sistem Islam secara sempurna  menjadikan mabda Islam sebagai landasannya. Negara yang menerapkan sistem Islam memiliki tupoksi yang jelas terkait kepimpinan. Seorang pemimpin bertugas sebagai  pengurus rakyat. Dengan fungsi tersebut,aka pemerintahan dalam Islam merupakan satu-satunya negara yang bisa mengelola SDA dengan baik.


Maka sudah saatnya kita mengambil sistem Islam agar Indonesia tak sekadar kaya SDA, namun rakyatnya merana. 


Wallahu a'lam bishawab

Post a Comment

Previous Post Next Post