Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Siapkan Libur Terbaik dengan Kegiatan Terbaik Bersama Saudara Kita, Muslim Rohingya

Saturday, December 09, 2023 | Saturday, December 09, 2023 WIB


Oleh: Imas Royani, S.Pd.


Libur akhir semester kali ini semakin dekat dengan rentang libur yang semakin panjang karena bertepatan dengan pergantian tahun masehi. Adakah yang akan berlibur dengan naik kapal pesiar, bersantai sambil menikmati indahnya panorama laut? Jauh dari kebisingan lalu lintas dan sibuknya aktivitas sekolah atau tempat kerja. Tapi bagaimana jika kapalnya bukan pesiar? Bagaimana pula jika ternyata kapal yang ditumpanginya penuh sesak? Bisakah bersantai? Apakah itu masih bisa disebut sebagai sedang liburan? Pernahkah membayangkan ada ratusan orang yang justru menginginkan menepi dan memiliki suaka layaknya orang kebanyakan?


Dilansir dari CNN Indonesi, 06/12/2023, Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan pemerintah tidak akan menjadikan Pulau Galang, Kepulauan Riau, sebagai tempat penampungan pengungsi Rohingya. Ia mengatakan pemerintah tengah mencari tempat untuk menampung pengungsi Rohingya karena penampungan yang ada saat ini sudah tidak muat menampung para pengungsi. Ia kembali menjelaskan Indonesia sebenarnya tidak terikat dengan konvensi internasional soal pengungsi di bawah United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Menurutnya, keterbukaan Indonesia terhadap para pengungsi Rohingya saat ini atas dasar kemanusiaan.


Hal senada pernah dilontarkan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal yang menyatakan bahwa Indonesia tidak berkewajiban menerima apalagi untuk memberikan solusi permanen bagi para pengungsi Rohingya sebab Indonesia tidak ikut meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951. Konvensi tersebut mengakui hak-hak orang yang mencari suaka untuk menghindari penindasan di negara-negara lainnya. (Tirto, 19-11-2023).


Sejak Selasa (14-11-2023), pengungsi Rohingya berdatangan di kawasan Pidie dan Bireuen, Aceh, menggunakan kapal. Jumlahnya mencapai hingga 346 orang di Pidie dan 249 orang di Bireuen. Warga setempat memang membantu para pengungsi. Akan tetapi, setelah memberi bantuan, mereka meminta para pengungsi untuk kembali ke kapal mereka. Bahkan para pengungsi yang sudah datang sebelumnya dan ditempatkan di penampungan, juga terancam harus angkat kaki dari Indonesia. Warga di sekitar lokasi pengungsian menyampaikan ultimatum bagi pengungsi untuk pindah ke lokasi lainnya maksimal Minggu (19-11-2023). Sikap warga dipicu karena selama ini telah terjadi gesekan antara warga lokal dengan pengungsi. (Tirto, 16-11-2023).


Dimana nurani sebagai sesama manusia? Tidak adakah rasa ingin saling menyayangi? Mengapa yang hadir justru rasa ingin menyaingi? Bukankah manusia yang terbaik adalah yang paling berguna bagi manusia yang lainnya? Apa bedanya dengan binatang? Bahkan lebih kejam dari binatang.  Nyatanya hukum rimba telah dipakai oleh manusia. Siapa yang kuat, dia yang akan berkuasa.


Dimana pula nurani sebagai sesama muslim? Bukankah Islam memandang, "Perumpamaan kaum mukmin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam"? Bukankah Rasulullah Saw. telah memperingatkan bahwa, "Barangsiapa yang bangun tidur di pagi hari tanpa memikirkan masalah-masalah kaum muslimin, dia bukan termasuk golonganku"? Bukankah Rasulullah Saw. juga berpesan, "Pada hari kiamat, manusia yang menduduki tempat tertinggi di sisi Allah SWT. adalah orang yang paling banyak memajukan kesejahteraan umat"?


Bisakah sekedar membayangkan saja, apa yang akan kita lakukan jika kita berada di posisi mereka? Terkatung-katung di lautan bukan untuk liburan. Mereka terpaksa meninggalkan wilayah Rakhine yang telah mereka tinggali berabad-abad karena genosida yang dilakukan oleh Junta Militer maupun pemerintahan pro demokrasi melalui rezim Buddha Myanmar yang didalangi oleh dua negara adidaya, yaitu Amerika dan Cina.


Bisakah sekedar membayangkan saja, apa yang akan kita lakukan jika kita berada di posisi mereka? Berharap belas kasih sayang, namun yang didapat lagi-lagi pengusiran. Wajar mereka bodoh, tidak beradab, tidak tahu sopan santun karena mereka tidak bersekolah. Bahkan rumah yang sejatinya adalah sekolah pertama pun tidak mereka punya.


Bisakah sekedar membayangkan saja, apa yang akan kita lakukan jika kita berada di posisi mereka? Sekalinya mendarat, bukan cinta sejati yang didapat melainkan tipuan manis sang penjual manusia. Mereka diperdagangkan ibarat budak belian tak berharga. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Di negeri sendiri terusir, harga diri tergadai, singgah di negeri saudara malah diperjualbelikan. 


Bisakah sekedar membayangkan saja, apa yang akan kita lakukan jika kita berada di posisi mereka? Disaat berharap hadirnya negara sebagai penjaga dan pelindung, justru abai. Abai untuk menerima pengungsi dan menyediakan tempat tinggal yang layak. Abai untuk mendamaikan konflik antara warga dengan pengungsi secara adil. Abai untuk memberikan kewarganegaraan, serta memenuhi kebutuhan primernya.


Jelas sudah sistem kapitalis telah menjadikan negara abai. Sistem kapitalis pula yang telah menancapkan nasionalisme ke dalam jiwa kaum muslim sehingga enggan menolong saudaranya. Sistem kapitalis telah menganggap penjajahan dan pendudukan sebagai suatu hal yang mulia dan patut diikuti sehingga banyak kaum muslim yang teraniaya. Di negara minoritas terjajah lahir dan batin. Di negara mayoritas terjajah pemikiran dan perasaan. 


Jelas sudah hanya negara yang menerapkan sistem Islam yang mampu memberikan solusi hakiki terhadap persoalan muslim Rohingya. Sebab negara yang menerapkan sistem Islam akan menerima muslim Rohingya. Mereka akan menjadi warga negaranya. Negara akan mencukupi sandang, pangan, dan papan mereka, serta memberikan pekerjaan bagi para lelaki sehingga mereka bisa menafkahi diri dan keluarganya. Negara juga akan menjamin pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan keamanan sehingga mereka hidup layak.


Jelas sudah hanya negara yang menerapkan sistem Islam yang akan mempersaudarakan kaum muslim Rohingya sebagai pendatang, dengan kaum muslim di negaranya sebagaimana dahulu Rasulullah Saw. yang mempersaudarakan kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Sehingga mereka dapat hidup berdampingan dan saling menyayangi.


Jelas sudah hanya negara yang menerapkan sistem Islam yang akan melakukan jihad fi sabilillah terhadap rezim Myanmar yang terbukti melakukan genosida terhadap muslim Rohingya, sehingga mereka akan kembali mendapatkan suaka.


Mari bersama-sama kita isi liburan kita kali ini dengan mewujudkan negara yang mau menerapkan sistem Islam, dengan senantiasa meningkatkan pemahaman kita terhadap Islam yang sebenar-benarnya untuk kemudian disebarkan kepada yang lain agar cahaya Islam kembali terang- benderang di jiwa-jiwa yang kini berada dalam kegelapan. Agar segala bentuk penjajahan dan penganiayaan di atas dunia benar-benar terhapuskan. Sudah jelas?

Wallahu'alam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update