(Pegiat literasi)
Mayoritas masyarakat di Indonesia, terutama kaum perempuan tentunya tak asing lagi dengan Peringatan Hari Ibu. Momen penting dalam sejarah perempuan Indonesia ini mulai diputuskan pada Kongres Perempuan III pada tahun 1938. Selanjutnya, setiap tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu nasional melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959. Hingga sekarang Hari Ibu diperingati setiap tahunnya dengan mengusung tema berbeda. Tehun ini pun Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA) telah merilis tema Hari Ibu ke-95 yaitu "Perempuan Berdaya, Indonesia Maju", dilansir CNNIndonesia, Minggu (17/12/2023).
Setiap tahunnya, Peringatan Hari Ibu diisi dengan berbagai kegiatan kemanusiaan. Seperti pada Kamis (14/12), Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga bekerja sama dengan Lions Clubs Jakarta Selatan Tulip Distrik-B1 menyerahkan 250 paket bantuan spesifik pemenuhan hak kepada anak-anak Kampung Pemulung Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok. Menurut Bintang, pemenuhan hak anak meliputi hak hidup, hak tumbuh dan berkembang, hak mendapatkan perlindungan, dan partisipasi memang dibutuhkan sinergi kolaborasi semua pihak. Hal ini menjadi tanggung jawab semua pihak, yaitu pemerintah pusat, daerah, lembaga masyarakat, dunia usaha hingga media. Selain memberikan bantuan berupa barang kebutuhan, Menteri PPPA pun memberikan motivasi bagi anak-anak Kampung Pemulung Cinere agar terus bersemangat menggapai impian mereka.(KemenPPPA)
Tema peringatan Hari Ibu yang diusung setiap tahunnya selalu identik dengan berbagai perubahan agar perempuan bisa memaksimalkan perannya di masyarakat. Namun sayangnya dalam sistem kapitalisme, perubahan itu hanya sebatas memberdayakan perempuan dalam persoalan materi saja. Peran sebagai ibu pendidik telah dikalahkan oleh peran lain yang sebenarnya bukan kewajiban perempuan yaitu sebagai penanggung jawab nafkah keluarga. Beban ekonomi di pundak mereka telah menguras energi kaum perempuan dan menyita waktu serta perhatian mereka dari peran utamanya. Akibatnya, tidak sedikit anak yang kehilangan sentuhan pendidikan dari orangtua terutama dari ibu. Mereka lebih dominan berinteraksi dengan gadget dan teman-teman yang telah dipengaruhi oleh lingkungan yang sudah terkontaminasi oleh budaya dan pemikiran liberal.
Alhasil, banyak kerusakan yang menimpa para generasi muda kita. Dari kasus narkoba, anak sebagai pelaku maupun korban jumlahnya terus bertambah. Menurut data dari kominfo 2021, penggunaan narkoba berada di kalangan anak muda berusia 15 - 35 tahun presentase terbanyak 82,4% berstatus sebagai pemakai, sedangkan 47,1% berperan sebagai pengedar, dan 31,4% sebagai kurir (bnn).
Kasus lainnya seperti sex bebas di kalangan anak muda sudah semakin mengkhawatirkan, sepanjang tahun 2022 Pengadilan Agama Jakarta Utara terpaksa harus mengeluarkan surat dispensasi nikah bagi puluhan remaja di bawah 19 tahun. Hingga kasus yang sampai saat ini masih marak yaitu bullying. Anak yang menjadi pelaku maupun korban terus bermunculan. Berdasarkan riset Save the Children Indonesia 2022, 1.187 anak pernah mengalami pemukulan dalam perundungan.
Permasalahan di atas semakin menambah deretan bukti kebobrokan sistem Kapitalisme-sekular yang sedang diadopsi di negeri ini. Sistem buatan manusia yang menjauhkan aturan agama dan lebih mengedepankan kebebasan hawa nafsu dan pertimbangan keuntungan materi semata. Peran perempuan saat ini sudah melenceng jauh berbeda dari yang sudah disyariatkan agama. Pemalingan peran perempuan ini sudah menjadi gerakan global yang diusung oleh negara-negara di dunia, tak terkecuali di negeri kita. Berbagai harapan dan sanjungan disampaikan kepada perempuan yang berdaya secara ekonomi. Karena menurut pemahaman mereka, bahwa perempuan yang berdaya secara ekonomi akan turut serta meningkatkan kesejahteraan keluarganya, memberikan nutrisi dan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Juga dengan meningkatnya kesejahteraan keluarga akan meminimalisir terjadinya kekerasan, eksploitasi anak juga masalah kemiskinan.
Sepintas pernyataan itu seolah benar dan menjanjikan solusi. Padahal hakikatnya hanya slogan semu yang memperdaya perempuan. Oleh karena itu, sangatlah perlu adanya revitalisasi peran ibu sebagai sosok pendidik generasi. Melakukan perubahan untuk mengembalikan peran perempuan sebagaimana mestinya yang sudah Allah SWT berikan yaitu sebagai ibu yang akan mencetak generasi terbaik berkepribadian mulia yang melanjutkan amanah kehidupan, yang akan menerapkan Islam sebagai solusi kehidupan dan mendakwahkan Islam ke seluruh pelosok dunia.
Hal itu tentunya hanya bisa terjadi jika Islam diterapkan menyeluruh dalam semua sendi kehidupan (kaffah). Sehingga Negara akan berperan serta dalam menjaga kesejahteraan setiap individu termasuk perempuan.
Wallahu'alam Bishowab

No comments:
Post a Comment