KEK Mensejahterakan Siapa ?


Oleh : Ulfah Sari Sakti,S.Pi 
(Jurnalis Muslimah Kendari)


Berbagai kebijakan investasi untuk kesejahteraan masyarakat, hingga kini belum signifikan dirasakan manfaatnya, khususnya oleh masyarakat sekitar areal investasi.  Sebaliknya investor dan kelompoknya yang lebih banyak merasakan manfaatnya.  Teranyar kebijakan kawasan ekonomi khusus (KEK) yang malah menghilangkan mata pencaharian masyarakat.


Dilansir dari CNBCIndonesia (15/12/2023), Indonesia hingga akhir 2023 ini tercatat memiliki 20 KEK ini, 10 KEK fokus di pariwisata dan 10  sisanya di manufaktur.  Rinciannya KEK manufaktur, KEK Kendal, KEK Gresik, KE Nongsa dan KEK Galang Batang.  Sedangkan KEK pariwisata mencakup KEK Tanjung Kesung, KEK Lido, KEK Sanur, KEK Kura-kura Bali dan KEK Tanjung Keyalang.


Deputi  Bidang Koordinasi Pengembangan Usaha BUMN, Riset dan Inovasi, Elen Setiadi mengungkapkan investasi di KEK manufaktur tercatat lebih tinggi yakni Rp 133 triliun sepanjang 2023.  Kemudian KEK pariwisata mencapai Rp 9 triliun.


Namun dari sisi serapan tenaga kerja, KEK pariwisata ini ternyata menyerap lebih banyak tenaga kerja yakni 36.000 pekerja pada tahun 2023 dan KEK sektor manufaktur , penyerapan tenaga kerjanya mencapai 33.000 pekerja tahun ini.


 *KEK Mensejahterakan Siapa?* 


Menelisik tujuan KEK untuk menyerap lapangan kerja demi kesejahteraa masyarakat, tetapi fakta yang terjadi tidaklah demikian, sebagaimana KEK Lido yang sejak awal penetapannya menuai pro kontra.


Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah mengatakan pemerintah seharusnya lebih adil untuk menyeleksi proyek mana yang harus diprioritaskan.  “MNC ini enggak masuk daftar tunggu, kenapa dia masuk?.  Ini di duga ada persekongkolan yang tujuannya memberikan previlese tersendiri,mengingat pemilik Lido memiliki kaitan erat dengan pemerintah,” katanya. 


Sementara itu Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPMM) IPB, Dr Enan Rustiadi menilai bahwa pengembangan KEK Pariwisata Lido di Bogor Jawa Barat tidak boleh mengonversi kawasan hutan.  (tirto.id/17/2/2021)


Untuk diketahui,KEK Lido bersinggungan dengan kawasan hutan yang memiliki fungsi lindung dan konservasi.  Kawasan ini juga biasa digunakan masyarakat untuk berwisata.

  

 *Pandangan Islam* 


Berbeda dengan sistem kapitalis-sekuler, pembangunan dalam Islam lebih mengutamakan kemaslahatan masyarakat dibanding keuntungan ekonomi.  Sebelum mengelola suatu potensi alam, pemerintah tentunya melihat status kepemilikan, apakah termasuk kepemilikan individu, umum atau kah kepemilikan negara.  


Jika hutan dan pertambangan yang akan dikelola, tentunya pengelolaannya oleh negara karena termasuk dalam kepemilikan umum (milkiyah ammah) khususnya barang kebutuhan umum.  Rasulullah saw bersabda, “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang gembalaan dan api” (HR Abu Dawud),  “…dan harganya adalah haram” (HR Imam Ibnu Majah)


Dalam sistem pemerintahan Islam, fungsi negara jelas untuk meri’ayah (mengurusi kebutuhan masyarakat).  Bukan seperti pemerintahan kapitalis-sekuler saat ini, yang mana pemerintah hanya berfungsi sebagai regulator dan fasilitator bagi investor.  Tidak heran keuntungan untuk sebesar-besarnya kelompok investasi, sedangkan dampaknya mulai dari dampak lingkungan, sosial hingga kesehatan ditanggung masyarakat.  Mirisnya pemerintah yang hanya mendapatkan beberapa persen bagi hasil dan pajak, seolah merasa sudah diuntungkan dari investasi tersebut.


Jika potensi pariwisata yang dikelola oleh pemerintah sistem Islam, tentunya aspek tadabur alam dan syiar Islam yang diutamakan dibanding sebagai pundi-pundi pendapatan.  Dengan begitu masyarakat akan semakin takwa dan taat kepada Allah swt, karena menyadari kebesaran Allah swt atas ciptaannya.  Disisi lain Islam akan semakin tersebar ke seluruh penjuru dunia sebagai solusi permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara.  


Semoga saja sistem Islam kembali tegak, sehingga masyarakat akan hidup sejahtera berdampingan dengan alam yang lestari.  Wallahu’alam bishowab.

Post a Comment

Previous Post Next Post