Candu Judi Online pada Anak, Tanggung Jawab Siapa?


Oleh : Rahma Elsitasari 
(Pegiat Literasi) 


Maraknya judi online dewasa ini sudah merambah ke anak-anak hingga menjadi candu. Sejumlah anak didiagnosis kecanduan judi online dari konten live-streaming para gim streamer yang turut mempromosikan judi online.

  

Klinik KiDi spesialis anak di Pejaten, Jakarta Selatan tengah menangani hampir 50 anak kecanduan judi online sepanjang tahun ini. Dokter spesialis anak, Kurniawan Satria Denta mengungkapkan gejala anak-anak yang kecanduan judi online mulai dari mengamuk, membanting barang, menjadi lebih sensitif, mudah stress, dalam jangka panjang akan memengaruhi kualitas hidup yang makin terpuruk, mulai dari tak ada gairah hidup, tak bisa fokus, bahkan terlilit utang.  (BBCNews.com/3/12/2023) 


 *Candu Judi Online* 


Kecanduan judi online yang juga menjerat anak-anak bukanlah masalah sepele. Perkara ini adalah hal yang serius yang harus mendapat perhatian dari semua kalangan. Bayangkan, Indonesia menjadi negara peringkat satu untuk judi slot dan gacor. 


PPATK merilis laporan yang menyatakan 2,7 juta orang Indonesia terlibat judi online, sebanyak 2,1 juta diantaranya adalah ibu rumah tangga dan pelajar, baik SD, SMP, SMA, dan mahasiswa. 


Anak-anak bisa dengan mudahnya terjerat judi online dikarenakan mudahnya akses terhadap situs-situs judi online yang turut dipromosikan oleh para streamer game. Kita tahu bahwa game online sangat digandrungi oleh anak-anak, bahkan banyak yang akhirnya kecanduan dan membawa pengaruh negatif bagi kondisi psikis anak. Seorang streamer game online sendiri mengaku sudah sering mendapatkan tawaran untuk mempromosikan situs-situs judi online saat streaming game.  


Sistem Kapitalisme hari ini menjadikan bisnis hanya berdasarkan untung rugi, selama komoditas tersebut laku untuk dijual, maka akan terus berjalan tanpa memperhatikan kemaslahatan masyarakat maupun halal haram. Hal ini tercermin dari bagaimana para penyedia judi online menargetkan anak-anak sebagai target pasar mereka. Ditambah generasi saat ini cenderung menyukai segala hal serba instan. Keuntungan besar yang digembar gemborkan dan cara mudah untuk memainkannya menjadi daya tarik bagi pelajar. Apalagi ditengah himpitan kehidupan ekonomi yang tak menentu dan gaya hidup hedonistik. 


Lemahnya kontrol orang tua terhadap anak-anaknya pun menjadi salah satu penyebab kecanduan ini. Peran orang tua yang mulai terkikis lantaran kesibukan bekerja, tak lagi sempat memantau aktivitas anak-anak dengan ponselnya. 


Negara yang harusnya memiliki peran besar dalam memberantas judi, juga kewalahan dan tidak dapat melakukan banyak hal.  Wakil Menteri Kominfo, Nzar Patria saja mengatakan tugasnya hanya sebatas memutus akses ke situs judi online dan tidak bisa melakukan pelacakan IP addressnya. Ini menunjukan pemerintah terkesan tidak serius menyelesaikan problem ini. 


 *Berantas Judi dengan Syariat Islam* 


 Judi merupakan jalan kemaksiatan untuk memperoleh harta. Allah SWT menyatakan keharaman judi dalam firmanNya: “Hai orang-orang beriman, sesunguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorbanuntuk berhala), mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (An Nisa : 43)”.


Maka bagi seorang muslim tidaklah patut baginya melakukan perbuatan judi bahkan menjadi penyedia aktivitas haram tersebut. Dilihat dari aspek individu, maka perbuatan ini marak karena lemahnya pemahaman Islam yang benar, sehingga mudah tergelincir pada perbuatan haram.  


Kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari, telah menjauhkan pemahaman Islam dari benak kaum muslimin. Islam hanya terwujud dalam praktek-praktek ibadah ritual saja, sementara dalam mumalah dan kehidupan tidak menggunakan Islam sebagai standar kehidupan. 


Oleh karena itu, untuk mengatasi problem ini maka harus melibatkan beberapa pihak dan solusi yang komprehensif. Pertama, peran keluarga harus dimaksimalkan dalam pendidikan. Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama tidak boleh melalaikan perannya dalam menanamkan akidah dan syariat. Inilah yang akan membentuk pola pikir dan sikap anak terhadap pemikiran maupun perbuatan tertentu. 


Kedua, peran masyarakat untuk melakukan amar makruf nahi munkar, saling tolong menolong dalam kebaikan dan menciptakan lingkungan yang baik bagi generasi.


Ketiga, negara menjalankan perannya sebagai perisai bagi masyarakat, sehingga segala hal yang bisa merusak masyarakat dan generasi harus disingkirkan. Negara menjamin pendidikan yang bisa melahirkan generasi umat terbaik dengan terbentuk kepribadian yang luhur. Negara harus totalitas dalam menjalankan perannya semata-mata untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat. 


Hal ini hanya bisa diwujudkan dalam sistem kehidupan yang tidak sekuler dan kapitalisatik, yaitu sistem Islam yang menjadikan standar kehidupan bersandar pada aturan pencipta dan pengatur kehidupan.  Tidak ada kepentingan-kepentingan pihak tertentu dalam melaksanakan aturan, kecuali untuk kepentingan Islam dan masyarakat. Karena sejatinya problem-problem kehidupan hari ini lahir karena ulah manusia yang lalai akan kewajiban terhadap Al Khaliq, Allah SWT.  Wallahu a’lam bishawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post