Boikot Produk Pendukung Zionis,Solusi Tepatkah?


Oleh : Salma Nur Hafidah

(Aktivis Muslimah) 


Mayoritas perbincangan di media sosial saat ini membahas tentang konflik Palestina-Israel yang menyebabkan tragedi kemanusiaan di Gaza. Bahkan belakangan ramai seruan boikot produk terafiliasi Israel di media sosial.


Gerakan boikot produk Israel ini juga menggema berujung pada ajakan untuk menggantinya dengan menggunakan produk dalam negeri. Salah satunya, Darmawan Nasution yang punya cara sendiri untuk menyuarakan dukungan terhadap penghentian kekerasan di Gaza. Tidak dengan perang.


Bukan juga lewat aksi demo besar-besaran. Namun, dengan cara mengurangi ketergantungannya kepada seluruh produk-produk yang terafiliasi Israel."Pertama, produk-produk kayak sabun itu ada yang saya kurangi. Adanya peristiwa ini kayaknya saya akan total mengurangi," kata Dermawan kepada Tirto, Senin (6/11/2023).


Ia percaya pilihan yang diambilnya, jika dilakukan secara masif oleh seluruh masyarakat Indonesia sedikitnya bisa membantu Palestina. Sebab, menurutnya, tujuan utama dari mengurangi produk tersebut agar pendapatan mereka berkurang, sehingga kekuatan finansial untuk memberikan dukungan ke Israel juga berkurang.


"Boikot bukan berarti mau menyerang pekerjanya atau pemilik perusahaannya, tapi lebih ke aksi korporasinya. Itu kan esensi boikot di situ," kata Darmawan yang juga sebagai pemilik usaha furnitur, Dekorin Wood.


Selain itu, Darmawan berpandangan aksi boikot terhadap produk terafiliasi Israel ini sebetulnya bisa menjadi momentum dan peluang bagi UMKM. Jika saja para pelaku usaha di Indonesia menunjukkan keberpihakannya kepada Palestina sebagai salah satu bagian dari marketing saja, maka otomatis bisa merebut pasar mereka.


"Sebenarnya ini juga menjadi kesempatan produk lokal untuk ambil bagian. Karena banyak makanan siap saji buatan dalam negeri rasanya juga gak jauh beda. Sekarang itu kan cuma menang nama aja mereka itu," ujar dia.


Seruan boikot, Solusi Tepatkah? 


Seruan boikot produk yang mendukung Zionis Yahudi adalah wujud kesadaran individu Masyarakat untuk membela Palestina.  Umat melakukan apa yang mereka bisa.


Aksi memboikot produk yang mendukung Yahudi tersebut menuai pro dan kontra. Sebagian pihak menganggapnya tidak efektif. Sebagian lagi menganggapnya efektif, apalagi jika boikot dilakukan oleh negara, maka pengaruhnya akan sangat luas. Lantas, bagaimana kita menyikapi hal tersebut? Bagaimana pandangan Islam terkait boikot produk Yahudi ini?


Pandangan Islam Terkait Boikot


Seruan yang di kampanyekan beberapa kalangan kepada Zionis Yahudi patut diapresiasi sebagai bentuk perlawanan terhadap institusi penjajah tersebut. Hal ini menggambarkan terwujudnya kesadaran individu masyarakat di negeri-negeri Muslim untuk membela masyarakat Palestina. Terlebih ketika negara tidak melakukan pembelaan lebih nyata atas nasib muslim Palestina.


Namun yang perlu dicatat bahwa dari sisi perdagangan ekonomi entitas Yahudi lebih banyak bergantung kepada negara non muslim. Kalaupun seluruh rakyat dan pemerintah memboikot produk entitas Yahudi maka tidak akan signifikan terhadap ekspor institusi. Apalagi selama ini seruan boikot hanya lahir dari masyarakat dan bukan dari negara. Sehingga dampaknya lebih kecil. Hal tersebut dinyatakan oleh Adi Victoria dari Geopolitical Institute, seruan boikot tentu akan lebih efektif ketika dilakukan oleh negara. Sebab negara adalah pemilik kekuasaan yang menjadi pengaruh kuat di tengah-tengah masyarakat. Bahkan tidak hanya menyerukan boikot terhadap produk travelliasi Zionis Yahudi, negara juga mampu mengambil tindakan menutup perusahaan-perusahaan terkait dan dalam kondisi seperti itu pastinya mereka akan mengalami kerugian.


Lebih jauh dari itu dalam konteks memboikot perusahaan yang mendukung zionis negeri-negeri muslim harusnya mampu menghentikan pemberian pasokan energi dan pasokan penting ke entitas zionis yahudi. Pasalnya Zionis Yahudi sangat bergantung pada energi pasokan dari negeri-negeri muslim seperti Turki. Namun dampaknya semua itu mustahil dilakukan oleh negeri-negeri muslim saat ini. Sebab penguasa muslim menjadi kaki tangan negara-negara Barat yang secara nyata mendukung eksistensi Zionis Yahudi. Bahkan menjadi penyokong utama persenjataan zionis yahudi. Tak heran penguasa negeri-negeri muslim hanya berani mengecam dan mengancam. Hingga hari ini tidak ada satupun negeri muslim yang berani memobilisasi militernya untuk menolong kaum muslimin di Palestina.


Pengiriman bantuan pasukan untuk mengusir zionis Yahudi adalah pembelaan secara nyata yang harus dilakukan oleh negara. Hal ini telah diperintahkan oleh Allah SWT dalam Q.S Al-Baqarah ayat 191. Berdasarkan ayat tersebut zionis Yahudi harus diperangi dan diusir dari tanah Palestina. Sebab tanah Palestina adalah tanah kharajiyah yang merupakan milik kaum muslimin.


Khalifah Umar radhiyallahu'anhu dan pasukan kaum muslim di masa pemerintahannya telah menaklukkan tanah Syam dan Mesir. Inilah yang menjadi sebab penetapan tanah Palestina (bagian dari Syam) sebagai tanah kharaj. Oleh karena itu status tanah kharaj tetap hingga hari kiamat. Atas alasan inilah tanah Palestina tidak boleh dibiarkan ada di tangan orang-orang kafir dan harus dipertahankan secara terus-menerus oleh kaum muslimin. Saat ini Palestina dan penduduknya membutuhkan pasukan dari umat untuk segera bergerak membebaskan Palestina dengan jihad. Demi menghentikan pembantaian oleh orang-orang Yahudi di tanah Suci Palestina dan mengusir entitas Yahudi dari tanah Palestina. Hal ini tentu saja hanya bisa dilakukan oleh Khilafah Islamiyah. Sebab khalifah adalah junnah (perisai) umat berperang dan berlindung di belakangnya. Khalifah yang bertaqwa menjadikan perjuangan pembebasan Palestina penjajahan Zionis Yahudi sebagai perjuangan paling urgent. Pembunuhan atas jutaan nyawa kaum muslimin di Palestina tanpa hak selama bertahun-tahun juga menjadi alasan Khilafah harus mengirim pasukan jihad untuk memerangi Zionis Yahudi, sebagaimana firman Allah dalam Q.S An-Nisa ayat 93. Sungguh pembelaan Hakiki terhadap muslim Palestina hanya dapat terwujud dengan Tegaknya Khilafah Islamiyah. Ketiadaan Khilafah harusnya menjadi perhatian besar umat Islam hari ini.



aksi pemboikotan tersebut bisa dibilang berhasil karena perusahaan tersebut mengadakan promo yang selalu diperpanjang setiap harinya karena kurang menarik perhatian masyarakat. Di tengah keresahan itu, perusahaan-perusahaan tersebut membuat pernyataan baru yang lebih condong ke arah Palestina. Di sisi lain, akhirnya para perusahaan tersebut berbondong-bondong berdonasi untuk rakyat Palestina. Tak tanggung-tanggung donasi yang dilakukan mencapai miliyaran rupiah.

Lantas, apakah donasi yang dilakukan itu dikarenakan rasa kemanusiaan yang ada atau semata-mata untuk mencari muka? Jika ditanya maka jawabannya adalah untuk mencari muka. Jika mereka peduli dengan kemanusiaan maka dari awal mereka akan berdiri bersama Palestina, bukan membuat pernyataan yang kontroversial. Akhirnya, setelah aksi boikot dan promo yang tidak menarik minat mereka baru tergerak untuk melakukan donasi. Mereka hanya ingin menyelamatkan perusahaan yang terlanjur mendapatkan pandangan jelek dari masyarakat.

Apakah Donasi Solusi Untuk Penjajahan yang Dilakukan oleh Zionis Israel?

Bantuan kemanusiaan silih berganti berdatangan untuk rakyat Palestina, akan tetapi bantuan tersebut belum sampai ke tangan rakyat Palestina karena adanya blokade yang dilakukan oleh Israel. Dikutip dari Antara, Kamis (9/11/2023) Dubes Palestina di Jakarta mengatakan “Semua bantuan kemanusiaan bahkan dari Pemerintah Indonesia ada di El Arish, Sinai, Mesir, menunggu izin dari Israel,”. Akibat dari blokade tersebut, bantuan kemanusiaan yang datang akan dirampas bahkan dihancurkan oleh Zionis Israel.

Sejatinya bantuan pangan bukan hal utama yang diperlukan oleh Palestina. Selain blokade yang dilakukan, tujuan utama Israel adalah untuk menjajah dan mengusir rakyat Palestina dari tanah mereka. Apabila bantuan itu akhirnya sampai ke tangan rakyat Palestina maka hal itu tidak bisa menjamin keamanan mereka. Mereka akan selalu was-was kapan giliran mereka mati meskipun perut mereka kenyang. Bahkan beredar video seorang ayah yang menangis karena bantuan sudah diterima tetapi anaknya sudah tiada untuk menikmatinya.

Oleh karena itu, bantuan donasi tersebut bukan solusi utama untuk penjajahan yang dilakukan oleh Israel. Tetapi yang paling dibutuhkan oleh Palestina adalah persatuan kaum muslimin untuk mengusir Zionis Israel dan merebut kembali tanah suci Palestina. Selama ini yang dilakukan pemimpin negara muslim adalah sekedar mengutuk perbuatan Israel tanpa ada aksi nyata. Seharusnya mereka langsung menurunkan pasukan militer mereka untuk membantu Palestina.

Hal ini sangat berbeda dengan masa Daulah Islamiyyah di mana negara tidak terpecah menjadi sekat nasionalisme. Di bawah pimpinan Khalifah jika ada zionis yang memerangi kaum muslimin maka seluruh kaum muslimin akan dikerahkan untuk melawan penjajah. Hal ini tercermin pada Umar dan Salahuddin yang berhasil membebaskan tanah suci Baitul Maqdis. Bisakah kita menjadi pembebas Baitul Maqdis selanjutnya?


Wallaahu'alam bisshawab

Post a Comment

Previous Post Next Post