Berita kriminal sadis kian hari kian lumrah dijumpai. Hampir setiap hari, ada saja kasus-kasus sadisme yang membuat kita tercengang. Mulai dari perundungan, penganiayaan hingga pembunuhan. Ada anak bunuh orang tua, suami bunuh istri, saudara bunuh saudara, teman bunuh teman, dan lain-lain. Baru-baru ini, viral seorang suami di Bekasi berinisial N, tega menggorok leher istrinya di depan anak-anaknya yang masih balita. Kejadian mengerikan ini hanya dipicu hal sepele, yaitu cekcok rumah tangga mengenai permasalahan ekonomi. Pasalnya, pasangan tersebut dirundung persoalan ekonomi lantaran sang suami banyak hutang, padahal keduanya bekerja.
Sangat miris melihat kondisi masyarakat kapitalis jaman sekarang. Banyak orang dengan mudahnya melakukan kekejaman tanpa memikirkan akibat bagi dirinya dan keluarganya. Pada kasus di Bekasi diatas, hanya lantaran emosi sesaat, pelaku tidak hanya harus merasakan penyesalan, tapi juga dinginnya sel penjara. Meninggalkan anak-anaknya yang masih balita, yang masih sangat membutuhkan sosok kedua orangtuanya. Inilah potret kelam masyarakat sekuler yang tidak bisa memilah perbuatan baik dan buruk. Rentan terbawa emosi dan mengejar kepuasan diri semata.
Sekulerisme, yaitu pemisahan antara nilai agama, khususnya agama Islam yang memiliki aturan lengkap, dari segala aspek kehidupan telah menjadi sumber malapetaka. Meninggalkan aturan agama, praktis membuat orang menjadi lemah mental dan moralnya. Tidak ada yang lebih baik untuk mengontrol perbuatan manusia, selain rasa takutnya kepada Allah. Maka penerapan sekularisme dan kapitalisme seperti sekarang jelas merupakan sumber kesadisan masyarakat saat ini.
Pemikiran kapitalisme, yaitu mengukur segala sesuatunya dari materi, membuat tingkat stress masyarakat semakin tinggi. Satu sama lain saling berlomba menumpuk materi. Seseorang yang tidak memiliki banyak materi, dianggap sebagai orang gagal. Dengan pandangan ini, banyak orang melakukan segala cara demi mendapat uang. Materi dijadikan sumber kebahagiaan, sehingga orang yang sedikit materinya akan merasa tertekan.
Begitupun kehidupan rumah tangga saat ini, banyak yang didasarkan pada keuntungan materi. Apabila pasangan tidak mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan, sangat mudah muncul pertengkaran yang kemudian berujung KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) atau perceraian. Disisi lain, sistem kapitalisme membuat kehidupan masyarakat semakin sulit. Dalam sistem ini, kemiskinan dipelihara agar kaum kapital dan oligarki tetap dapat menancapkan kekuasaannya demi meraup kekayaan pribadi. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin dan terpuruk. Maka lengkaplah sumber kerusakan dan keterpurukan masyarakat.
Setiap orang pasti menginginkan kehidupan yang nyaman dan sejahtera. Sementara sekulerisme dan kapitalisme tidak akan mampu mewujudkannya. Satu-satunya cara memperbaiki kondisi ini adalah kembali pada nilai-nilai agama dan aturan Islam. Dengan akidah Islam yang tertancap dengan kokoh, seseorang akan takut melakukan kemaksiatan dan kedzaliman, apalagi berbuat sadis. Individu yang beriman dan bertaqwa kepada Allah akan selalu mengingat bahwa Allah menyaksikan setiap perbuatannya.
Namun demikian, individu yang memegang teguh keimanannya tidaklah cukup. Islam juga harus diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat agar bisa menjadi kontrol satu sama lain. Kemudian disempurnakan dengan peran negara sebagai lembaga yang memastikan aturan Islam diterapkan dengan benar. Tanpa peran negara aturan Islam tidak bisa dilaksanakan secara kaffah (total dan menyeluruh).
Masyarakat Islam adalah masyarakat yang tidak memandang bahwa kehidupan ini sebatas kehidupan dunia saja, melainkan ada kehidupan yang lebih kekal yaitu akhirat. Kebahagiaan tidak diukur dari banyaknya materi, sebab Islam mengajarkan bahwa Allah tidak memandang manusia dari rupa dan hartanya, melainkan dari tingkat ketaqwaannya. Dengan demikian setiap orang bukan berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan, tapi berlomba-lomba mendapat pahala dari Allah. Sekalipun bekerja dengan giat, semua usahanya ditujukan demi mendapat rahmat dan ridha Allah SWT.
Islam memandang bahwa kaya atau miskin adalah takdir yang ditetapkan oleh Allah. Manusia hanya diperintahkan berikhtiar semaksimal mungkin sesuai dengan aturan islam. Kemudian apabila mereka kaya maka akan bersyukur kepada Allah dan kekayaanya digunakan demi kebaikannya di akhirat. Namun jika diuji kemiskinan, maka ia akan bersabar, tawakal dan tidak berputus asa. Prinsip semacam inilah, satu-satunya yang mampu membentuk karakter masyarakat yang kokoh. Tidak rentan terhadap segala tekanan. Kembali kepada aturan Islam adalah solusi dan obat bagi seluruh persoalan umat manusia saat ini. Lebih dari itu, menerapkan sistem Islam akan mengundang berkah dan rahmat Allah.
Wallahu a'lam bisshawab.
Penulis : Dinda Kusuma W T

No comments:
Post a Comment