Oleh Ummu Aziz
(Pegiat Literasi)
Sepak bola, hampir semua orang mengenalnya. Olahraga yang menjadi ajang pertandingan nasional maupun internasional ini banyak diminati oleh kaum Adam. Tak sedikit orang larut dalam olahraga ini bahkan mereka rela mengeluarkan uang demi menonton team yang mereka idolakan hingga larut malam. Namun ironis, yang kita saksikan baru-baru ini terjadi tragedi pertandingan sepak bola di Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur antara Arema vs Persebaya yang berakhir dengan score 2:3.
Pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya menimbulkan duka mendalam bagi dunia pesepakbolaan Indonesia. Ratusan Aremania dinyatakan meninggal dunia dan lainnya mengalami luka-luka akibat kejadian ini.
Banyak Aremania yang dipukul oleh petugas sehingga membuat sedih dan kecewa. Ditambah lagi, petugas melakukan penembakan gas air mata ke arah suporter.
Berdasarkan pengamatan Riandi, gas air mata ditembak ke arah dekat papan skor. Tak hanya di area stadion, gas mata juga ditembakkan di luar stadion. Situasi ini menyebabkan banyak suporter sesak napas hingga jatuh kesakitan.
Saat ini, Riandi mengaku sudah tidak merasakan sesak napas kembali. Yang tersisa hanya sakit yang dirasakan sekujur tubuhnya. Hal ini terutama bagian tangannya yang mengalami patah tulang. (republika.co.id, 02/10/ 2022).
Berdasarkan keterangan ahli Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto, penggunaan gas air mata yang berlebihan dapat menyebabkan iritasi dan sesak napas. Bahkan, bila menghirup dalam konsentrasi tinggi bisa menyebabkan kematian.
Oleh karena itu, tembakan gas air mata dan tindakan represi lainnya oleh aparat wajib untuk dilakukan evaluasi menyeluruh. Mendorong pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan cepat, menyeluruh, dan independen terhadap penggunaan gas air mata dan memastikan bahwa mereka yang terbukti melakukan pelanggaran diadili di pengadilan dan tidak hanya menerima sanksi internal.
Seharusnya negara hadir dan memberikan tanggung jawab atas tragedi Kanjuruhan. Wajib melakukan rehabilitasi medis bagi korban luka-luka, dan korban meninggal harus diberi santunan kepada keluarganya.
Praktik kapitalisme dapat dilihat dari perilaku para kapitalis pemilik modal yang memiliki sebuah klub ataupun menginvestasikan modal yang mereka miliki kepada klub.Tidak hanya oleh modal besar, kegiatan industri sepak bola saat ini juga dikomersialisasi untuk keuntungan pihak klub. Para klub menjual jersei pemain, merchandise, dan berbagai atribut lain, serta kontrak eksklusif dengan berbagai produk dan sponsor dengan nilai jutaan hingga miliaran.
Hadis ini berlaku umum, apakah menimpakan bahaya besar atau kecil, mengancam jiwa atau tidak. Semua itu diharamkan oleh Allah Swt. Apalagi jika pelakunya adalah penguasa yang menimpakan kesusahan dan kesulitan bagi rakyatnya.
Penerapan aturan Islam yang akan mewujudkan rahmatan lil alamin. Islam akan menjalankan mekanisme untuk mencegah penyimpangan penguasa. Ini tidak dimiliki oleh konsep demokrasi
Wallahu a’lam bishawwab
.jpg)
No comments:
Post a Comment