Oleh Titien Khadijah
Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang sungguh bencana yang memilukan. Bagaimana tidak? Betapa murahnya harga sebuah nyawa yang ditukarkan dengan fanatisme buta dengan yang namanya sepakbola.
Kejadian tragis terjadi di awal Oktober 2022 di Stadion Kanjuruhan Malang tercatat 127 orang meninggal dunia dalam kerusuhan yang terjadi usai laga antara Arema FC lawan Persibaya Surabaya dengan skor akhir 2-3 untuk kemenangan Persibaya Surabaya.
Sebelum kejadian, yel-yel dari sporter Arema berkumandang di Stadion Kanjuruhan yang viral di tiktok di sosial media, yang kata-katanya sungguh ngeri.
"Tinggal kan ras, tinggal kan suku.
Satu tekad dukung Arema.
Di bawah bendera sungo edan.
Ayo maju, ayo maju aremaku.
Jangan kembali pulang sebelum Arema menang.
Walaupun harus mati di tengah lapang ...."
Yel-yel itu terjadi sporter Arema pergi dari rumah segar bugar untuk menonton sepakbola, pulang dihantar dengan kematian. Sungguh tragis.
Dengan kekalahan Arema FC Malang sebagai tuan rumah yang dimenangkan oleh Persibaya Surabaya, anarkis pun pecah, tiba-tiba penonton seperti banjir bandang dari jebolnya bendungan turun dari tribun membanjiri lapangan hijau.
Kobaran emosi akibat kekalahan berubah menjadi kepanikan penonton, setelah aparat keamanan menyemprotkan gas air mata yang diarahkan ke arah penonton yang merangsak di lapangan hijau.
Secara psikologis semprotan gas airmata itu, akan membuat orang-orang menjadi panik, karena takut mereka berusaha menjauhi dengan melakukan tergesa-gesa bahkan berusaha lari tapi apa daya laju semprotan itu mestinya lebih cepat dari pada langkah kaki.
Sementara sistem kontruksi tribun memang tidak memungkinkan para penonton untuk bergerak cepat, orang yang panik, ketakutan dan tergesa-gesa cenderung kehilangan akal sehat di saat sesak napas dampak dari semprotan gas air mata, sangat mungkin terjadi saling dorong, saling desak-desakan, saling ringsek tak perduli orang lain jatuh atau sakit.
Yang sekarang menjadi ramai jadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat, mengapa aparat harus menggunakan gas air mata, bukankah hal itu tidak sesuai dengan aturan otoritas sepakbola dunia (FIFA), kita tunggu jawabannya dari yang berwenang.
Tragedi Kanjuruhan Malang mengingatkan kita pada tragedi Hillsborough yang menewaskan 89 pendukung Liverpool. Kejadian itu menjadi catatan kelam dalam sejarah sepakbola dunia.
Dan kejadian itu kini dipecahkan rekornya di Stadion Kanjuruhan Malang yang korbannya kurang lebih mencapai 127 jiwa yang meninggal akibat kerusuhan.
Kini dunia melihat Indonesia betapa ngerinya tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022, akan menjadi peristiwa kelam dalam sepakbola Indonesia dan dunia.
Sistem kapitalis telah menjadikan ajang sepakbola tidak murni lagi sebagai permainan. Klub-klub sepakbola sudah dikapitalisasi oleh orang-orang yang bermodal dengan membeli klub-klub sepakbola yang mereka inginkan, persaingan klub-klub semakin membuat sporter-sporternya fanatik akan klubnya masing-masing.demi kecintaannya kepada klub sepakbola kesayangannya, mereka berani berkorban harta dan jiwa. Kecintaannya mereka kepada sepakbola kesayangannya melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Tragedi Kanjuruhan Malang memberikan pesan penting bagi kita semua bahwa tidak layak nyawa melayang hanya karena permainan (sepakbola). Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya dunia ini dan seisinya hancur lebur lebih ringan di sisi Allah, dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak." (HR. Nasai).
Wallahualam bissawab.
