Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Peran Pendidikan Dalam Membentuk Kepribadian

Friday, October 14, 2022 | Friday, October 14, 2022 WIB

Yuliana S.Sos

Salah satu SMA di Balikpapan sedang menggelar project penguatan profil Pancasila, yang dirancang di Kurikulum Merdeka. "Ini merupakan salah satu karya anak-anak setelah mengikuti pelajaran dengan tujuan menumbuhkan karakter anak yang diikuti siswa kelas X sampai kelas XII," kata Hayati MPd, wakil kepala sekolah, Selasa (4/10).

Tema-tema yang diangkat per kelas semuanya sangat bagus. Salah satunya, membahas pola pikir generasi Z untuk menghormati orangtua. “Ini yang menjadi fokus kami untuk memberikan informasi kepada teman-teman dan seluruh generasi Z. Kami juga telah membuat video edukasi yang kami taruh di channel YouTube kami," ujar Salwa, siswi kelas XI.

Penumbuhan karakter sekuler gencar di aruskan saat ini. Generasi jauh dari agamanya yaitu islam. Sehingga generasi muslim menjadi liberal kapitalis sekuler. Kepribadiannya bertentangan dengan islam sehingga menjadi generasi yang rusak. 

Tidak heran dari sini, maka tumbuhlah pendidikan-pendidikan yang kering dari nilai-nilai agama, rasa hormat terhadap orang tua maupun guru luntur ditelan gaya hidup bebas, campur baur antara pelajar lelaki dan wanita, seragam yang menampakan aurat dan kurikulum-kurikulum yang tidak menyentuh ruhani begitu dominan dalam dunia pendidikan sekarang. 

Sistem pendidikan yang diterapkan dalam institusi pendidikan saat ini adalah sistem pendidikan sekuler. Kurikulum yang diterapkan merupakan kurikulum sekuler yang pondasinya adalah memisahkan agama dari kehidupan.

Saat ini jam mata pelajaran pendidikan agama dirancang sangat minimalis, tiga hingga empat jam sepekan. Agama tidak dijadikan pondasi dalam mendidik pelajar. Pelajar muslim jauh dari Islam. Akibatnya, Allah SWT dipahami sebatas gagasan kebaikan sebagaimana pandangan Barat terhadap konsep ketuhanan. Para pelajar tidak akan sampai pada pemahaman konsep keridhoan Allah SWT sebagai standar kebahagiaan tertinggi yang harus diraih.

Maka lahirlah generasi yang hanya memikirkan dunia semata, mengejar materi itulah tujuan hidup mereka. Berlomba dalam eksestensi diri dalam berbagai lomba yang tidak mendidik, bahkan berlomba dalam bermaksiat. Seperti berlomba dalam hal pacaran, balapan,  berkeIahi, gaya hidup, pakaian, dan sebagainya. Ini adalah nilai buah dari pendidikan sekuler.

Selain itu, output dari pendidikan sekuler ini adalah menghasilkan generasi yang gersang akan iman tapi generasi sekuler yang menjadikan materi adalah segalanya. Remaja didik untuk siap bersaing dalam dunia kerja sehingga mereka bisa hidup mandiri dan memiliki penghasilan (income) dalam rangka memenuhi kebutuhan (konsumtif) dan saving.

Adapun di dalam Islam, negara akan berfungsi sebagai pilar utama dalam pendidikan anak. Negara akan membuat kurikulum pendidikan yang berdasarkan pada akidah Islam. Dengan kurikulum itulah negara akan mencapai tujuan pendidikan yang hakiki, yaitu melahirkan individu-individu yang bersyaksiyyah Islam (pola pikir dan pola sikap islam) dan bertakwa. Penerapan sistem pendidikan Islam, menyibukan anak didik untuk haus ilmu.

Waktunya habis untuk belajar, menghafal al-qur’an, membantu orang tua, menggali potensi diri dan boleh jadi berlatih berdikari dengan usaha kreatif. Anak-anak ini berada dalam pendidikan berkualitas. Tidak ada ruang untuk anak bermain-main dengan dorongan syahwat. Sebab mereka ditanamkan aqidah yang kokoh.  Terbentuklah generasi Rabbani yang memikirkan ukhrowi, bukan sekadar kesenangan duniawi.Dalam pendidikan Islam juga, segala sesuatu akan senantiasa menjadikan syari’at Islam sebagai satu-satunya tolak ukur keilmuan yang lain.

Segala kebaikan akhlaq, kecerdasan, tata krama, daan hal-hal baik lainnya akan menjadi buah dari sistem pendidikan Islam karena menyentuh pondasi dasarnya yakni aqidah.

Hal ini bisa ditemukan di masa Imam Bukhori salah satunya. Pada usia 18 tahun, Bukhori sudah mampu menerbitkan kitab pertama Kazaya Shahabah Watabiin padahal sejak lahir ia telah kehilangan penglihatannya.

Kemudian Zaid bin Tsabit, pada usia 13 tahun, dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasulullah ﷺ, hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi (pembukuan) Al Qur’an.

Muhammad Al-Fatih, di usia 22 tahun, menaklukkan Konstantinopel, ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa, dan masih banyak lagi.

Sudah waktunya kita berpaling dari sistem pendidikan sekuler, kembali pada islam yang telah Allah jadikan sebagai solusi bagi setiap permasalahan kaum muslimin. 
Wallahu’alam bisshowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update