Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

IBU GOROK ANAK HINGGA TEWAS, KAPITALISME HANCURKAN FITRAH KEIBUAN

Thursday, April 07, 2022 | April 07, 2022 WIB Last Updated 2022-04-06T23:05:14Z

Oleh: Kharimah El-Khuluq

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan.

Kiasan di atas menggambarkan betapa luasnya kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Ibu adalah sosok yang paling dekat dengan anak. Sosok yang pertama kali pula berinteraksi dengan anak. Sosok yang akan menggoreskan warna dalam lembar-lembar putih kehidupan seorang anak. Surga anak di bawah telapak kakinya, dekapannya sehangat terselimuti sutra yang sangat lembut. Namun kapitalisme telah mengubahnya menjadi malaikat maut.

Di Tonjong, Brebes, Jawa Tengah, seorang ibu dengan inisial KU, menggorok leher anak kandungnya yang berusia 6 tahun serta melukai anak kandung lainnya. Pemicu dari tindakan tersebut adalah karena kondisi ekonomi. Namun, menurut Ahli Psikologi Forensik, Reza Indra Giri Amriel mengimbau, kepada pihak kepolisian untuk memeriksa lebih lanjut kejiwaan pelaku, (Republika.co.id. 20/03/2022).

Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh sosok ibu semakin marak terjadi. Hal ini menggambarkan nurani seorang ibu semakin terkikis dalam bingkai kapitalisme.

Ini merupakan buah dari penerapan sistem kapitalisme sekular. Agama dipisahkan dari kehidupan. Agama hanya memiliki ruang sempit dalam kehidupan. Seperti halnya dalam pelaksanaan puasa, sholat, pernikahan, haji aturan agama diambil. Sedangkan, dalam aktifitas kehidupan lainnya agama dikesampingkan.

Maka dari itu, akan memicu terkikisnya keimanan dalam diri individu. Sehingga, ketika terjadi suatu permasalah akan mencari jalan pintas. Seperti halnya yang dilakukan oleh seorang ibu itu, yakni membunuh anaknya.

Penerapan dari sistem kapitalisme sekuler selain mengikis ketakwaan individu, juga menerapkan sistem ekonomi yang membuat manusia yang miskin semakin miskin, sedangkan yang kaya semakin kaya. Lapangan pekerjaan pun tidak memadai.

Karena itu, mau tidak mau dengan beban ekonomi yang semakin mencekik, sosok ibu harus turut andil dalam mengais rejeki. Dengan demikian sosok ibu memiliki peran ganda dalam mahligai rumah tangganya. Tentu, hal ini membuat sosok ibu kewalahan dan bisa memicu stres hingga melakukan tindakan pembunuhan.

Penyelesaian dari masalah ini tidak bisa dilihat dari satu arah. Melainkan harus diselesaikan dari akar-akarnya. Namun, jika kita mengharapkan penyelesaian dengan cara sistem kapitalisme tentu suatu kemustahilan akan tuntas.

Maka dari itu, kembali ke Islam adalah jalan satu-satunya dari permasalahan ini. Sebab, Islam memiliki solusi tuntas dari setiap permasalahan. Namun, untuk mencapai ketuntasan tersebut, tidak bisa yang kembali ke Islam secara kafah hanya individu, ataupun golongan tertentu. Melainkan negara lah yang memiliki peran utama.

Sebab, ketika Islam diterapkan oleh sebuah negara ketakwaan individu dan masyarakat akan diperhatikan. Begitupula dengan sistem ekonominya, yang diterapkan adalah sistem ekonomi Islam. Pendistribusian hasil kekayaan yang ada dalam negara akan disalurkan dengan seadil-adilnya.

Sedangkan, perihal mencari nafkah dalam Islam dibebankan kepada suami, atau wali. Bukan kepada perempuan. Karena, tugas seorang ibu adalah mengasuh dan mendidik anak-anaknya serta mengurus rumah. Demikianlah fitrahnya seorang ibu bukan sebagai tulang punggung.

Wallahualam bishawab.

×
Berita Terbaru Update