Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pengalihan Peran PNS ke Robot, Memudahkan Pelayanan Publik?

Wednesday, December 08, 2021 | Wednesday, December 08, 2021 WIB

Oleh Susci
 (Anggota Komunitas Sahabat Hijrah Balut-Sulteng)

Alih fungsi kerja pegawai negeri sipil (PNS) kepada robot kecerdasan buatan manusia dalam rangka menciptakan reformasi birokrasi di era kemajuan teknologi, menjadi satu fenomena baru yang berhasil mengalihkan perhatian masyarakat. Ada yang terkekeh kagum dan mendukung ada pula sebaliknya. Namun, seperti itulah manusia, tidak terlepas dari perbedaan yang berdasar pada informasi serta realitas yang ada. 

Namun, alih fungsi tersebut nampaknya akan memicu timbulnya permasalahan baru. Hal ini dapat dilihat dari tanggapan kepala biro hubungan masyarakat hukum dan kerja sama badan kepegawaian negara (BKN), Satya Pratama.
"Jadi (PNS digantikan robot), ke depannya pemerintah akan menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan pelayanan kepada publik. Jumlah PNS tidak akan gemuk dan akan dikurangi secara bertahap". (finance.detik.com, 28/11/2021)

Dalam hal ini, kondisi PNS akan terancam. Peluang terjadinya pengangguran besar-besaran akan meningkat. Akibatnya, akan menurunkan pendapatan per kapita yang berdampak pada kemajuan hidup masyarakat. Gerak masyarakat dalam meningkatkan perekonomian semakin terbatas, daya beli pun semakin berkurang. Bukan karena meningkatnya harga barang, melainkan hilangnya ketersediaan lapangan pekerjaan yang menjadi penopang terstabilisasinya roda perekonomian.

Dapat diakui, bahwa kehadiran robot dalam menggantikan peran manusia khususnya PNS akan menciptakan pekerjaan yang relevan, efektif, efisien dan pastinya meminimalisir keluarnya anggaran besar. Namun, tidakkah dipikirkan bahwa hal ini akan merugikan PNS itu sendiri dan menghambat kemajuan bangsa dan negara?

Jika peran PNS digantikan dengan robot dapat memberikan nilai terbaik bagi negara dalam pengembangan teknologi, kiranya hal itu hanya akan menurunkan citra negara. Sebab, faktanya negara tidak hadir untuk meningkatkan kemajuan, melainkan semata-mata mengikuti tren global yang modern. Bagaimana negara bisa maju, jika bangsanya mengalami penurunan dari berbagai segi khususnya perekonomian?

Tren global itulah sebutan yang pantas disematkan atas pengalih fungsi PNS ke robot. Negara terkesan mementingkan tren global, takut ketinggalan kemajuan teknologi canggih semisal robot yang mampu menggantikan peran manusia, dibandingkan memperhatikan mekanisme kehidupan masyarakat dari dasar hingga cabang. Rasanya rakyat tidak jauh lebih penting jika disandingkan dengan kerugian dan tren global yang ada.

Namun, akankah negara tidak boleh mengikuti dan mengembangkan teknologi? Tentu saja boleh, hanya saja perlu mengelola dan memanejemen teknologi tersebut, sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Oleh karena itu, semestinya negara memperhatikan segala bentuk yang merugikan dan meresahkan masyarakat. Negara harus memahami bahwa kemajuan suatu bangsa bukan di ukur dari fisik, kekayaan, atau kemajuan teknologi saja, melainkan pada ketenteraman, kesejahteraan, dan pencapaian dalam menciptakan peradaban mulia.

Namun, hal tersebut tidak didapati pada sistem kapitalisme sekularisme yang berasaskan materi. Sebab, segala keputusan distandarkan pada keuntungan dan kemanfaatan semata, tanpa memikirkan impa yang terjadi. Alhasil, robot yang memberikan kemudahan, ketenaran dan keuntungan dengan sigap diiyakan. Namun, tidak begitu memperhatikan dampak kerugian yang dirasakan masyarakat.

Teknologi dalam Islam dan Pemanfaatan Bagi Masyarakat.

Sejarah telah mencatat bagaimana keberhasilan dan kejayaan Islam di bidang sains dan teknologi. Sebelum memasuki zaman teknologi seperti sekarang ini, Islam telah lebih dahulu bergelut di bidang sains. Hal ini bisa dilihat dari hadirnya ilmuwan-ilmuwan muslim yang karyanya hingga kini masih digunakan dan dimanfaatkan, seperti Al-khwarizmi, Ibnu-Batuta, Ibnu Sina, Al Zahrawi, Jabir Ibn Hayyan dan lain-lain.

Setelah sains berkembang, pengembangan teknologi sudah mulai nampak, terlihat pada masa Daulah Abbasiah di Baghdad (Irak). Salah-satunya pada saat berdirinya fakultas kedokteran pertama yang didirikan oleh Jurjis Ibnu Naubakht. Selain itu, pada fase tersebut telah lahir seorang ilmuan dari Andalusia (Spanyol) yang berhasil terbang layaknya kelelawar di atas menara Masjid Cordoba. Beliau berhasil menggunakan sains dan teknologi untuk meraih mimpi bisa terbang dengan menciptakan alat terbang. Beliau juga menemukan sebuah alat mirip arloji sebagai penanda waktu yang akurat. Tak hanya itu, ilmuwan-ilmuwan muslim lainnya juga membangun bermacam jam-jam astronomi yang digunakan dalam observatorium mereka. 

Selain itu juga, perkembangan teknologi di dunia Islam meliputi berbagai bidang, antara lain penggunaan air dan angin sebagai sumber energi, irigasi dan bendungan, penggunaan mesium untuk peperangan, pembuatan kapal laut, teknologi kimia, industri tekstil dan kertas, teknologi pangan dan pertanian, serta pertambangan. 

Dalam Islam, pembuatan dan pemanfaat teknologi dilakukan untuk memudahkan pekerjaan manusia, bukan untuk menggantikan peran manusia. Islam yang pernah diterapkan sebagai aturan dalam institusi khilafah, berkisar kurang lebih 13 abad telah membuktikan hal itu. Ilmuwan-ilmuwan yang hadir dalam mengembangkan sains dan teknologi hanya bekerja demi tercapainya kemudahan dan kestabilan negara. Negara berupaya agar teknologi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat bagi orang banyak, bukan sebaliknya. Hal tersebut terjadi disebabkan adanya dorongan keimanan kepada Allah Swt., bahkan Islam sendiri melarang kaum muslimin tertinggal di bidang sains dan teknologi.

Khilafah sebagai negara yang pernah menerapkan Islam, tidak akan menjadikan teknologi sebagai alat untuk memperkaya individu dan kelompok. Sebab, khilafah memahami bahwa kemajuan suatu bangsa, bukan dilihat dari kekayaan ataupun kecanggihan teknologi. Namun, dilihat dari kestabilan dan kesejahteraan bangsa. Dengan cara memenuhi kebutuhan warga negaranya dengan adil dan amanah. 

Khilafah dengan peradabannya, akan menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga negara. Semua dilakukan atas dasar kewajiban negara. Sebab, khilafah menerapkan Islam yang bersumber dari wahyu Allah Swt. Oleh karena itu, Islam tidak akan menggunakan alat teknologi yang memberikan kerugian bagi manusia.

Wallahua'lam bishshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update