Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Putus Kuliah Meningkat Saat Pandemi, Dimana Peran Negara?

Monday, September 06, 2021 | Monday, September 06, 2021 WIB

Oleh: Husnia
(Pemerhati Sosial)

Pandemi Covid-19 yang menghantam negeri ini membawa dampak yang sangat besar bagi masyarakat. Tak hanya mengancam nyawa manusia, melainkan pula memberikan tekanan pada sektor pendidikan. Ekonomi yang kian terpuruk memaksa mahasiswa berhenti melanjutkan pendidikannya.

Mengutip data dari Kemendikbudristek, Kepala Lembaga Beasiswa Baznas Sri Nurhidayah mengatakan sepanjang tahun lalu angka putus kuliah di Indonesia mencapai 602.208 orang. "Kita tahu kondisi saat ini bagaimana krisis pandemi Covid-19 menyebabkan angka putus kuliah naik tajam" katanya dalam peluncuran Zakat untuk pendidikan di Jakarta secara virtual, Senin (http://www.jawapos.com, 16/8/2021)

Pendidikan Ibarat Barang Mahal

Fenomena putus kuliah sesungguhnya tak hanya terjadi kala pandemi Covid-19 meluluhlantakkan negeri ini, namun umum terjadi pada masa-masa sebelumnya. Pasalnya angka putus kuliah sebelum pandemi sekitar 18 persen, kemudian diperparah pada situasi kritis ini yang mencapai hingga 50 persen. 

Tak bisa dipungkiri bahwa tingginya biaya kuliah menjadi salah satu faktor utama mahasiswa harus menghentikan pendidikannya. Perekonomian sebagian masyarakat hancur, sekadar memenuhi kebutuhan makan saja harus banting tulang siang-malam, sementara keperluan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bukanlah nilai yang sedikit.

Pendidikan di Indonesia layaknya barang mahal tak semua orang bisa mengenyamnya. Hal ini sebagaimana ungkapan Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji yang menilai bahwa kuliah merupakan barang mahal. Hanya orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi saja yang dapat memperolehnya. Apalagi ketersediaan kampus berbiaya murah masih sedikit. (new-indonesia.org, 28/9/2020).

Atas kondisi ini, persoalan banyak mahasiswa masih sama yaitu harapan untuk menuntaskan pendidikan harus pupus di tengah jalan karena terkendala biaya. Menurut survei yang dilakukan oleh BEM Universitas Indonesia, 72% dari 3.321 mahasiswa mengaku kesulitan membayar biaya kuliah, sebab di masa pandemi Covid-19 status perekonomian keluarga mereka menurun. 

Memang, Lembaga Beasiswa Baznas akan memberikan bantuan kepada mahasiswa semester V berupa beasiswa SPP sebesar Rp 2,7 juta per semester. Bantuan ini bekerjasama dengan 101 kampus negeri dan swasta. Masing-masing kampus mendapatkan kuota sepuluh penerima beasiswa dari keluarga mustahik. Sehingga total ada seribu lebih penerima beasiswa Cendekia Baznas. “Adapun sasaran beasiswa ini diprioritaskan untuk asnaf fakir, miskin, atau fi sabilillah,” tutur Ketua Baznas Noor Achmad. (jawapos. com, 16/8/2021).

Namun menggantung harap pada solusi di atas tak bisa membuat lega, sebab bantuan tersebut masih tidak merata kepada seluruh mahasiswa yang terdampak Covid-19. Pada akhirnya, UKT tetap mahal bagi mahasiswa yang tidak beruntung mendapatkan beasiswa tersebut. Ketika hal ini terus dibiarkan tanpa adanya tindakan nyata dari pihak yang bertanggungjawab atasnya, maka ancaman hilangnya potensi intelektual generasi dalam jumlah besar semakin di depan mata.

Inilah relalita kemirisan generasi negeri ini, kehilangan pendidikan karena tak mampu membayar biaya kuliah seolah menjadi persoalan berulang yang urung juga mendapatkan solusi solutif. Mandulnya peran negara dalam menjamin ekonomi dan sosial seluruh masyarakat menjadi pemicu terjadinya fenomena ini. Berbagai langkah telah dilakukan, sayangnya keluhan mahasiswa masih sama saja. 

Seharusnya, kedudukan pendidikan sebagai tonggak peradaban bangsa mendapat perhatian serius dari negara. Negara wajib menjamin pendidikan bagi seluruh rakyat tanpa dipungut biaya, mengingat negeri ini memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah dari Sabang sampai Merauke. Potensi ini mestinya lebih dari cukup untuk membiayai keperluan pendidikan anak negeri secara menyeluruh, namun sayang kekayaan alam tersebut justru dikelola oleh swasta, baik lokal maupun asing atas restu negara. Keuntungan bagi rakyat dan negara atas alih pengelolaan ini nyaris tidak ada, faktanya utang menggunung, penduduk miskin meningkat, harapan generasi untuk mendapatkan pendidikan gratis dan berkualitas hanya angan belaka.

Pendidikan Terjamin dengan Islam

Jika negara pada sistem Kapitalisme tak mampu mewujudkan kehidupan yang baik bagi seluruh rakyat, maka Islam datang untuk mewujudkan harapan itu secara sempurna. Islam menganggap bahwa tujuan terciptanya negara adalah untuk melakukan riayah (pengurusan) terhadap semua kebutuhan pokok masyarakat, seperti sandang, pangan papan termasuk kesehatan, keamanan dan pendidikan.

Islam meletakan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan primer bagi seluruh masyarakat yang pembiayaannya wajib dijamin oleh negara. Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah Islam (Al-Baghdadi, 1996), negara Islam  memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang disediakan negara.

Pendidikan generasi memang sangat diperhatikan dalam Islam, karena dengannya generasi emas akan lahir. Pendidikan Aqidah merupakan hal pertama yang ditanamkan agar generasi tidak hanya cakap terhadap ilmu terapan, melainkan pula berakhlaqul karimah, menjaga agama agar melahirkan menghasilkan ilmuwan-ilmuan hebat, para ahli dan calon pemimpin yang bijaksana.

Sumber perekonomian yang shahih berupa hasil pengelolaan SDA serta sumber lainnya oleh Negara, diberikan seluruhnya untuk memenuhi seluruh kebutuhan rakyat secara total. Tidak dibenarkan penyerahannya kepada swasta yang sejatinya hanya ingin meraup keuntungan untuk memperkaya diri pribadi dan kelompoknya.

Maka Islam dengan peraturannya yang sempurna benar-benar memberikan pelayanan terbaik bagi umat, dan itu sudah terbukti selama 13 abad lamanya di bawah kepemimpinan sistem Islam. Sudah saatnya kita menegakkan kembali Islam di muka bumi agar tercipta kehidupan yang sejahtera baik lahir, maupun batin. Wallahu a’lam bi shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update