Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Vaksin Berbayar, Bukti Komersialisasi Kebutuhan Rakyat

Friday, July 30, 2021 | Friday, July 30, 2021 WIB
Oleh : Siti Fatimah
(Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah)


Pelayanan program vaksinasi gotong royong berbayar bagi individu sudah bisa di akses mulai Senin (12/7) hari ini. Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, mengatakan kebijakan ini sebagai Alternatif untuk mempercepat pelaksanaan program vaksinasi nasional demi terciptanya kekebalan kelompok. Arya menegaskan meski program vaksin berbayar berjalan bukan berarti program vaksin gratis ditiadakan. "vaksin gratis pemerintah tetap berjalan, semua lokasi vaksin gratis bisa masyarakat akses, "katanya, Ahad(12/7)

Arya menjelaskan vaksinasi berbayar masuk program vaksinasi gotong royong, yang sebelumnya hanya perusahaan yang boleh menyelenggarakan untuk para karyawan. Agar akselerasi semakin cepat, pemerintah membuka vaksinasi gotong royong untuk perorangan.

"Tujuannya pelaksanaan vaksinasi semakin cepat.Masyarakat semakin banyak pilihan"katanya.

Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 berbayar didukung Kimia Farma dan Bio Farma. Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Ganti Winarno dan Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Bio Farma Bambang Heriyanto pun menegaskan program vaksinasi gratis dari pemerintah tidak terganggu.

Sedangkan Bambang Heriyanto menjelaskan bahwa vaksinasi gotong royong perorangan menjadi alternatif bagi masyarakat dalam mengakses vaksin Covid-19. Menurut dia, masyarakat harus mendapat akses vaksin Covid-19 seluas-luasnya.

"Penyelenggara vaksinasi gotong royong ini pun terbuka bagi siapapun atau pihak manapun, dengan catatan memiliki persyaratan sebagai fasyankes vaksinasi.

Dengan demikian harapan pemerintah untuk mempercepat vaksinasi dapat terwujud," kata Bambang.

Menanggapi rencana penjualan vaksin gotong royong individual melalui Kimia Farma, anggota komisi IX DPR,Saleh Partaonan Daulay menilai perlunya Penjelasan soal pelaksanaan vaksinasi dengan mekanisme ini. Hal ini berkaitan dengan siapa yang akan menjadi Vaksinator, memonitor masyarakat yang telah di vaksin di Kimia Farma.

Jika program ini legal, bagaimana kordinasinya dengan Komnas/ komda KIPI (kejadian ikutan pasca Imunisasi) adanya kebijakan baru ini. Selain berdampak pada aspek ekonomi, yakni beban rakyat yang semakin bertambah akibat komersialisasi vaksin.

Vaksin individual yang tidak di iringi mekanisme pengawasan sangat mengkhawatirkan sebab sudah banyak kasus pasca Vaksin yang mestinya di tangani seperti laporan Ketua Komnas KIPI atau kejadian pasca imunisasi Hindra Irawan Satari. Yang mengatakan sebanyak 64 persen dari orang yang di vaksinasi Covid-19 mengalami Immunization Stess-related response (ISRR)yaitu kecemasan yang terjadi pada seseorang dan menimbulkan gejala pada tubuhnya, pada orang dewasa kecemasan hanya memberikan efek yang sangat ringan.

Namun ketakutan terhadap imunisasi menjadi lebih serius pada anak-anak, kecemasan pada saat di imunisasi dapat menyebabkan anak merasa pusing hiperventilasi nyeri merasakan sensasi pada mulut dan tangan mereka hingga pingsan secara mendadak.

Kebijakan Komersialisasi Fasilitas kesehatan seperti vaksin berbayar individu ini sebenarnya menggambarkan bagaimana cara penguasa dalam Sistem Kapitalisme mengurus kebutuhan rakyat. Kapitalisme membuat orientasi kebijakan berasaskan materi atau keuntungan yang di dapat.

Beginilah kesehatan dalam Kapitalis permainan. Hal ini sangat kontras dengan Sistem kepemimpinan dalam Islam yang di sebut Khilafah. Paradigma kesehatan dalam sistem ini ad publik yang wajib dan mutlak menjadi tanggung jawab penguasa sehingga tidak terjadi komersialisasi kesehatan, 

Khalifah menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan yang cukup dan memadai bagi rakyat, tanpa menzalimi tenaga medis/instansi kesehatan.

Selain dari itu Khalifah mendukung penuh dengan menyediakan dana yang cukup untuk melakukan riset terhadap vaksin agar segera dapat ditemukan.

Semua mekanisme ini ditopang sistem keuangan Khilafah berbasis baitul mal, bukan berbasis ribawi, sehingga Negara tidak lagi bergantung terus-menerus kepada negara kapitalis asing.

Abu Sa'id al-khudri meriwayatkan:
Rasullullah Saw bersabda: "Janganlah membahayakan diri sendiri atau orang lain. Barang siapa yang membahayakan orang lain, Allah akan membahayakan dirinya. Barang siapa yang kasar dengan orang lain, orang akan kasar dengannya."

Istimewanya, dorongan iman warga negara Khilafah menjadi modal berharga bagi negara, sehingga rakyat percaya kepada penguasa dan patuh pada protokol kesehatan yang ditentukan. Sebab, rakyat ingin mendapatkan pahala dengan taat kepada pemimpin yang amanah menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu a'lam bishawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update