Muhasabah Lil Hukkam, Bentuk Cinta Rakyat pada Penguasa


Oleh : Rita Yusnita
(Pengasuh Forum Bunda Sholehah) 

Pesatnya berbagai informasi saat ini, memungkinkan masyarakat cepat tanggap atas peristiwa yang sedang terjadi. Ditunjang juga oleh akses yang mudah dan cepat, sehingga mempermudah mereka memberikan respon menurut pemikirannya masing-masing. Oleh karena itu, tidaklah heran jika ada sebagian dari mereka mengabaikan adab dalam berbicara dan berpendapat. Alhasil, banyak terjadi kasus yang melibatkan para pengguna media sosial akibat postingannya. Seperti kali ini melibatkan seorang warga di Desa Pasirnanjung, Kecamatan Cimanggung. Seseorang berinisial MAP, ditangkap Polisi karena mengunggah ujaran kebencian. Salah satu sasarannya adalah TNI dan Polri serta salah satu ormas Islam, ia juga diketahui mengunggah cuitan yang mengarah pada Presiden Joko Widodo dan Menko Kemaritiman dan Investasi RI Luhut Binsar Panjaitan. Selain di Twitter, pelaku juga menguploud sebuah video dengan durasi 01.04 menit ke Facebook dengan akun Al Jesus. Atas segala perbuatannya pelaku dijerat pasal 45 A Jo pasal 28 Ayat (2) UU RI No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas Undang-undang RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman hukuman penjara paling lama 6 (enam) Tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Kapolres mengimbau kepada masyarakat agar dalam menggunakan medsos lebih bijak, karena medsos bukan konsumsi sendiri tetapi medsos adalah konsumsi orang banyak. 

Banyak pelajaran yang bisa kita amati dari peristiwa di atas. Mengungkapkan apa yang ada di pikiran kita sah-sah saja, namun ada poin yang harus diperhatikan yaitu dalam segi bahasa. Sistem Demokrasi memang membebaskan orang berbicara dan berpendapat, namun hukum juga dapat dengan mudah menjerat siapa pun yang melanggar.

Dalam sistem sekarang tidaklah aneh jika manusia berekspresi tanpa batas. Sekulerisme menjadikan sebagian masyarakat abai terhadap adab dan ahlak, ajaran agama mereka jadikan sebagai ibadah ritual saja tanpa harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga apa yang dilisankan lidah jauh dari adab, walau memang niat awalnya mengkritisi pemerintah. 

Islam adalah agama nasihat, sesama Muslim wajib saling mengingatkan dalam kebaikan. Salah satu metode yang diajarkan oleh Rasulullah adalah berdakwah, baik pada sesama maupun pada penguasa. Sebagaimana dalam suatu hadis, Nabi Muhammad pernah bersabda: "Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat …." (H.R. Tirmidzi). Cara penyampaian pun harus memakai adab, tutur kata yang sopan sehingga orang yang dinasihati akan paham. Pun terhadap para penguasa, masyarakat wajib mendakwahi jika terdapat kesalahan dalam menjalankan amanahnya. Penguasa yang beriman akan dengan senang hati menerima kritikan dari rakyatnya dan menganggap bahwa itu adalah bentuk kasih sayang mereka. 

Saat ini Syariat Islam belum diterapkan secara kaffah dalam semua sendi kehidupan. Sehingga sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu mendakwahkannya baik pada masyarakat, maupun pada penguasa. Walaupun dalam prosesnya pasti tidak akan mudah, ancaman dan kurungan penjara menjadi salah satu konsekuensinya. Namun itu semua tidak berarti jika dibandingkan dengan apa yang Allah janjikan terhadap orang-orang yang memperjuangkan agama-Nya. Allah Swt berfirman, "Katakanlah, "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah (argumen) yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf : 108).

Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain." (HR. Tirmidzi).

Wallahu'alam Bishowab

Post a Comment

Previous Post Next Post