Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

WABAH PANDEMI MAKIN MENGGILA, SAATNYA MENILIK ULANG SOLUSI

Saturday, June 12, 2021 | Saturday, June 12, 2021 WIB Last Updated 2021-06-12T10:06:49Z

Penulis : Rahmawati, S.Pd (Aktifis Muslimah Kalsel)

Sudah lebih dari dua tahun Virus Corona masih saja menghantui dunia, terlebih di Indonesia. Dari hari ke hari kondisi wabah memang kian mengerikan. Selain angka kasus yang naik, dampak krisis pun dirasakan semua orang.
Dampak dari Virus ini sejak munculnya sudah sangat membuat masyarakat merasakan ketakutan yang luar biasa, kesedihan yang amat mendalam, karena banyak dari keluarga, sanak saudara mereka yang terpapar Virus Corona.

Dampak lain juga dirasakan dalam segi ekonomi, tidak hanya menurunnya pemasukan karena pandemi, namun banyak sekali kemudian masyarakat yang kehilangan pekerjaannya akibat virus kecil ini. serta masih banyak lagi dampak negatif yang dirasakan oleh masyarakat.

Belum lama ini masyarakat dikejutkan dengan banyaknya warga asing yang kemudian dengan mudahnya masuk ke dalam negeri ini, disaat pelarangan mudik dan sedang memuncaknnya angka positif yang terpapar Virus Corona, tanpa memikirkan penyebaran virus yang mereka bawa dari negeri mereka.

Sungguh aneh bukan? Disaat masyarakat Indonesia dilarang bepergian, dilarang berwisata demi memutus mata rantai virus tersebut. Serta mereka rela menahan kesedihan dan kerinduan mereka yang tidak bisa berjumpa dan berkumpul dengan keluarga mereka, apalagi disaat momentum lebaran.

Belum lagi virus varian baru yang berasal dari India. Tak henti-hentinya muncul persoalan baru. Sebaran mutasi Virus Corona penyebab Covid-19 varian B1617 terus bertambah di Indoneisa. Terbaru sebanyak 13 anak buah kapal (ABK) berkewarganegaraan Filipina yang melakukan bongkar muatan di Cilacap, Jawa Tengah, dinyatakan terpapar Virus Corona asal India itu. Belasan ABK tersebut kini tengah menjalani isolasi dan perawatan di RSUD Cilacap. “Berdasarkan hasil penelitian Whole Genome Sequencing (WGS) yang dilakukan oleh Balitbangkes Kemenkes terhadap 13 anak buah kapal berkewarganegaraan Filipina yang terkonfirmasi positif Covid-19 adalah varian India B1617.2” kata Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji, Sabtu 22/5/2021).

Pemerintah seolah tidak kapok dengan berbagai keluhan dan kejadian yang telah menimpa masyarakatnya. Berbagai solusi sudah diluncurkan, namun alhasil tidak kemudian mengurangi angka kematian, tidak mengurangi penularan kasus penyebaran virus ini.

Penting menjadikan ini momentum mengevaluasi solusi yang sudah berjalan. Karena sudah tidak bisa dibiarkan lagi, setelah banyak sekali nyawa yang sudah menjadi korban ganasnya virus ini. pemerintah seharusnya banyak belajar dari solusi-solusi sebelumnya yang mereka terapkan, namun tidak juga membuahkan hasil yang baik.
Abainya pemerintah terhadap panjangnya kesengsaraan publik, lahirnya problem-problem baru dan lebih banyaknya korban semestinnya mendorong langkah tegas untuk mengambil solusi Islam. Islam telah memberikan solusi yang terbaik. Islam adalah agama yang paripurna. Tidak satupun bidang kehidupan umat manusia yang tidak diatur oleh syariah Islam. Syariah Islam mengatur tatanan ibadah, akhlak, makanan dan minuman, berpakaian, muamalah hingga politik dan bernegra, termasuk soal pandemi. Ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya “Pada hari telah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” (TQS al-Maidah : 3)

Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan aturan-aturan yang seharusnya ketika kita telah mengaku beriman kepada-Nya, maka tidak ada alasan untuk kemudian menolak apa yang dibawanya. Ketetapan ini juga mengikat para penguasa, meraka harus meletakkan Islam sebagai petunjuk dalam setiap aturan dan kebijan, serta solusi yang mau mereka ambil. Meraka wajib memelihara urusan rakyat berdasarkan syariah Islam. Tanpa memandang kepentingan kelompok, pengusaha dan pihak asing. Termasuk dalam soal pandemi.
Solusi sekuler yang ditetapkan secara lokal maupun mengikuti rekomendasi internasional terbukti gagal. Sistem ini terbukti gagal memberikan jawaban, justru dari hari ke hari kian menunjukkan kebobrokannya.

Tengoklah! Negara-negara adidaya pengusung kapitalisme malah tampak saling bersaing mencari keuntungan dari keadaan. Sistem kesehatan yang buruk di berbagai dunia pun dimanfaatkan sebagai target dunia bisnis kesehatan beromset besar. Sementara, penguasa di dunia tak mampu beranjak dari posisinyna sebagai objek penderita. Mereka menunggu nasib dari para tuan besarnya. Siap diperas seluruh potensinya demi dan atas nama gerakan penanggulangan pandemi global.

Mirisnya, para penguasa ini sibuk dengan proyek-proyek lainnya, menanggulangi wabah di satu sisi, tapi membuka celah penyebarluasan di sisi lain. Proyek-proyek investasi, pembukaan destinasi-destinasi pariwisata, nyawa rakyat berguguran hanya demi alasan ekonomi. Maka berharap solusi pada sistem rusak ini seperti mimpi di siang hari, karena sistem ini tegak di atas asas yang batil, berupa keyakinan bahwa manusia yang serba lemah yang berdaulat mengurus kehidupan.

Mengakhiri pandemi butuh sistem yang tegak di atas asas yang benar. Yakni berupa keyakinan, bahwa manusia, alam semesta, dan kehidupan diciptakan oleh Zat yang Maha Sempurna, Maha Tahu, Maha Adil, dam Maha Menetapkan Aturan. Itulah akidah Islam yang melahirkan sistem hidup yang penuh dengan kebaikan dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bahkan menyatukan manusia dalam satu kepemimpinan dan satu pengaturan.

Siapapun paham, wabah tak akan mengglobal jika sejak awal pintu-pintu penyebarannya tak dibuka, baik di negara maupun wilayah asal maupun wilayah penularan, semuanya harus segera dikunci. Strategi mengunci ini dalam Islam justru merupakan tuntunan syariah. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, yang artinya “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat, maka janganlah memasukinya, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim).

Hanya saja bersamaan dengan proses ini, negara tentunya wajib mensupport segala  hal yang dibutuhkan agar wabah segera dieliminasi. Mulai dari dukungan logistik, fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, obat-obatan, obat test, vaksin, dan lain-lain. Bahkan negara wajib memastikan kebutuhan masyarakat selama wabah. Di sinilah negara akan mengelola sumber-sumber keuangan yang ada, termasuk harta milik umum di kas negara untuk memenuhi hajat hidup masyarakat, khususnya mereka yang terdampak agar kesehatan mereka terjaga dan imunitasnya tinggi. Dan hal ini hanya bisa terwujud dan hanya mungkin diimplementasikan dalam sistem politik global yaitu diterapkannya Khilafah Islamiyah.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update