Ibu Rumah Tangga
Beberapa hari menjelang lebaran tiba, masyarakat sudah disibukkan dengan kebiasaan berbelanja khususnya berbelanja pakaian. Berpakaian baru di hari raya sudah menjadi tradisi di masyarakat meski harus berdesakan ditengah ancaman wabah covid 19 seperti yang terjadi di pusat belanja Tanah Abang. Dikutip dari Liputan6.com, Jakarta - Jelang Lebaran, Pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat kembali disesaki pengunjung pada Minggu, 3 Mei 2021. Bahkan, Polda Metro Jaya turun tangan mengatasi kerumunan yang terjadi di Pusat Grosir Pasar Tanah Abang itu. Guna mengurangi kerumunan.
Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Marullah Matali menyatakan, Pemprov DKI akan mengurangi jumlah pintu masuk ke Pasar Tanah Abang. "Hari ini ada beberapa titik di Pasar Tanah Abang, tadi sudah kita sepakati, di Pasar Tanah Abang yang kira-kira lebih dari 20 pintu nanti akan kita ringkas jadi beberapa pintu strategis yang nanti akan ditugaskan beberapa pasukan kita untuk menjaga sirkulasi," kata Marullah.
Hal tersebut guna mencegah pengunjung pasar berdesakan, sehingga berpotensi terjadi penularan Covid-19. Marullah menuturkan, awalnya pihak pengelola menyediakan 20 pintu akses masuk ke dalam Pasar Tanah Abang. Nantinya jumlah itu akan dikurangi agar pengawasan bisa lebih maksimal. Selain itu, kata dia, pengurangan jumlah akses pintu masuk tersebut bertujuan untuk memantau jumlah pengunjung yang datang. Sehingga aturan pembatasan jumlah pengunjung untuk mencegah penyebaran Covid-19 dapat diterapkan.
Selain mengurangi pintu masuk, polisi juga meminta masyarakat agar mencari tempat alternatif lainnya. Polisi meminta masyarakat dapat memahami pentingnya menerapkan disiplin protokol kesehatan Covid-19 dan menekan tingkat terjadinya kerumunan. Hal tersebut demi mengantisipasi terjadinya keramaian seperti di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menyampaikan, ada baiknya masyarakat mencari lokasi alternatif untuk berbelanja demi menghindari terjadinya kerumunan. Selain itu, KRL Tak Berhenti di Tanah Abang. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus covid 19. Namun disisi lain, upaya pemerintah dalam menangani wabah ini belum seutuhnya maksimal. Seperti hal nya Sri Mulyani meminta masyarakat tetap menyambut Lebaran dengan penuh sukacita. Jangan lupa, kata dia, kegiatan belanja menjelang Lebaran seperti membeli baju baru harus tetap berjalan. Tujuannya agar kegiatan ekonomi tetap berjalan. (wartaekonomi.co.id).
Sejumlah pakar memang sudah memperkirakan bahwa akan ada kenaikan jumlah masyarakat terinfeksi. Pasalnya moment lebaran memang sangat identic dengan berbelanja kebutuhan lebaran dan silaturahmi. Melihat salah satu penyebab terjadinya kerumunan di pasar tanah abang yakni adanya kebijakan larangan mudik menunjukkan bahwa keputusan yang di ambil pemerintah kurang persiapan dan pertimbangan dalam hal-hal lain. Alhasil, kerumunan memang tidak terjadi dijalanan namun di pusat perbelanjaan.
Kondisi ini memperlihatkan betapa tidak efektif nya kebijakan penguasa dalam menanggulangi sebaran covid 19. Ditambah lagi penguasa gagal dalam mengedukasi masyarakat untuk menyadari pentingnya menjalani protokol kesehatan ditengah pandemic terutama menghindari kerumunan. Tidak adanya pendekatan individu per individu menjadikan pembeli mengabaikan protokol kesehatan. Namun inilah gambaran kepengurusan rakyat oleh penguasa dalam sistem kapitalis sekuler. Sistem ini telah mencetak penguasa yang mengabaikan kepentingan rakyat dan cendrung berpihak pada kapitalis. Lebih dari itu, penanganan covid 19 yang dilakukan pemerintah sejak awal tidak menyentuh akar persoalan sama sekali. Misalnya saja kebijakan lockdown di wilayah pertama sekali munculnya wabah tidak dilakukan, kurangnya upaya memisahkan antara masyarakat yang sehat dan yang sakit dll. Begitu juga baru-baru ini pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan mudik namun pariwisata tetap berjalan. Bukankah pariwisata juga berpeluang menimbulkan kerumunan?.
Berbeda dalam sistem islam. Dimasa khilafah, dimana sistem aturan islam diterapkan secara sempurna baik dalam masalah kesehatan, pendidikan, ekonomi, sanksi dan lain lain. Wabah pun pernah terjadi salah satunya wabah yang terjadi di masa Umar Bin Khattab ra. Beliau pun berikhtiar untuk segera menghentikan wabah dan menerapkan sabda Rasulullah SAW : “ Jika kalian mendengar wabah terjadi disuatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya jika wabah itu terjadi ditempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu”. (HR. Al-Bukhari) ini adalah kebijakan lockdown. Umar Bin Khattab ra meminta masukan Amru Bin Ash, sarannya memisahkan interaksi. Maka tak lama kemudian wabah itu selesai. Dalam hal ini maka bukan hanya kebijakan negara saja yang penting untuk mengakhiri penyebaran wabah ini. Kunci lain yang juga penting adalah peran umat. Umat yang mempunyai pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang sama dengan negara mudah di atur. Bahkan ketika negara dalam kondisi kesulitan, umat dengan sukarela mengasuh, mendukung, menjaga dan membantu negara. Bayangkan jika negara yang selama ini memusuhi umat secara pemahaman, standarisasi dan keyakinan mereka tentu akan sangat sulit di asuh, didukung dan dijaga oleh umat. Apalagi jika negara terus menerus melakukan tindakan yang diskriminatif terhadap rakyat nya.
Inilah pentingnya membangun negara dengan kekuatan umat karena dibangun dengan keyakinan dan pandangan yang sama yang dimiliki oleh umat. Krisis dan pandemic sudah terjadi dalam sejarah kehidupan umat manusia termasuk di era kejayaan islam. Semua berhasil dilalui oleh kaum muslim dan dalam kondisi krisis, umat berdiri menjadi pengasuh, penjaga dan penopang utama kekuasaan negara. Karena dalam sistem penerapan islam secara sempurna di dalam khilafah, negara mengurus urusan umat, memberikan apa yang menjadi hak mereka yakni sandang, pangan, papan, pendidikan, keamanan, kesehatan dengan sempurna tanpa pandang bulu. Pengurusan ini mutlak sebab Allah telah menetapkan penguasa sebagai ra’in atau pengurus urusan rakyat. Inilah rahasia mengapa khilafah bisa bertahan hingga 14 abad. Itu semua karena dukungan umat.
Wallahu’alam Bi-Asshawab

No comments:
Post a Comment