Aktivis Ideologis
Antara aksi terorisme yang meresahkan dan stigma negatif terhadap Islam bak dua sisi mata uang yang seolah mustahil untuk dipisahkan. Setiap kali ada peristiwa yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, Islam selalu saja menjadi simbol ataupun latar belakang pelaku tindakan tersebut.
Sebagaimana aksi mengejutkan di Makassar Sulawesi Selatan. Seseorang meledakkan bom bunuh diri (28/3/2021). Setelah itu menyusul tindak penyerangan Mabes Polri di Jakarta (31/3/2021). Pelaku yang berjenis kelamin perempuan tersebut langsung dieksekusi mati saat itu juga.
Menurut keterangan dari tetangga pelaku yang meneror Mabes Polri Jakarta, perempuan muda berbusana muslimah itu berwasiat kepada keluarganya untuk meninggalkan riba, menolak demokrasi, pemilu, dan sebagainya.
Wasiat ini sangat tendensius pada ajaran Islam. Akan tetapi apakah sumber tersebut dapat dipercaya? Tidak menutup kemungkinan, bahwa tuduhan tersebut berasal dari pembenci Islam yang menginginkan citra buruk selalu tertuju kepada kaum muslim dan ajarannya
Ajaran Islam jadi Sasaran
Jika ditilik dalam aksi teror bom, sepertinya senantiasa ada kesamaan perilaku pemeran. Setiap kali ada peristiwa yang meledakkan bom bunuh diri misalnya, mengapa selalu identik dengan busana muslim atau muslimah. Seperti kerudung, jilbab, dan cadar. Jika pemeran teror itu laki-laki, maka identik dengan janggut, jubah, dan memakai celana cingkrang.
Fakta ini jelas menjadi stempel buruk terhadap kaum muslim yang taat. Padahal saat dikaji bahwa di dalam hukum-hukum Islam sendiri tak ditemukan satu pun perintah untuk zalim maupun menzalimi. Justru sebaliknya, seperangkat seruan dalam Al-Qur'an mengajarkan agar kaum muslimin saling berkasih sayang, bersaudara, tidak boleh membuat kerusakan, ketakutan, dan sebagainya.
Alhasil, lagi-lagi kejadian ini membuat Islam menjadi momok menakutkan. Seolah tindakan teror itu berasal dari ajarannya, padahal sejatinya tidak. Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian, karena menyeru agar berbuat baik kepada diri sendiri dan orang lain.
Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih." (TQS. asy-Syurâ [42]: 42)
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan." (TQS. al-A'raf [7]: 56)
“Dan tidaklah Kami utus kamu (wahai Muhammad) kecuali untuk (menyebarkan) kasih sayang terhadap seluruh alam." (TQS. al-Anbiya [21]: 107)
Beberapa teks hadis juga mengecam tindak kezaliman
“Wahai hamba-hamba-Ku, Aku haramkan kezaliman terhadap diri-Ku, —dan Aku jadikan kezaliman itu juga haram di antara kamu,—maka janganlah kamu saling menzalimi satu sama lain.” (Hadis Qudsi, Sahih Muslim, kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, No. hadis 4674)
“Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara satu dengan yang lain, karena seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain, tidak diperkenankan menzalimi, menipu, atau melecehkannya.” (Sahih Muslim, No. hadis 2564)
Ayat dan hadis di atas secara gamblang mengharamkan berbuat zalim dengan model apapun yang membahayakan jiwa. Karena termasuk dosa besar dan kelak di akhirat pelakunya akan mendapat ganjaran setimpal berupa azab yang pedih. Na'uzubillah.
Pandangan Islam terhadap Terorisme
Adapun dalam kaca mata Islam, terorisme haram untuk dilakukan. Hal ini sangat jelas termaktub dalam larangan berbuat zalim yang terdapat pada ayat dan hadis di atas. Maka dari itu aksi terorisme sama sekali bukan berasal dari Islam. Sebab Allah mengharamkan setiap perilaku yang membahayakan jiwa individu dan masyarakat.
Selain itu perlu diluruskan pula, bahwa teror bom bunuh diri berbeda dengan jihad. Sebab kematian karena bunuh diri hukumnya haram, sedangkan mati dalam berjuang di jalan Allah atau jihad fii sabilillah merupakan kewajiban yang mulia di sisi Allah Swt. dalam firman-Nya:
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, tetapi itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”. (TQS. al-Baqarah [2]: 216)
Umat harus memahami makna jihad. Karena jihad tak sembarangan bisa terlaksana tanpa adanya perintah khalifah pemimpin kaum muslim dalam naungan khilafah institusi pemersatu kaum muslim. Yang akan berjuang melindungi kehormatan Islam dari berbagai fitnah yang dilontarkan pembencinya.
Sehingga stigma negatif yang tak lain adalah fitnah terhadap Islam tak akan lagi bisa beredar dalam institusi kaum muslim. Namun, saat ini kehormatan Islam berdiri tanpa adanya khilafah yang melindungi. Maka, kaum muslim hendaknya saling bahu membahu untuk mengembalikan perisai ini agar ada di tengah-tengah umat Islam.
Wallahu a'lam bishshawab.
Sumber:
https://www.republika.co.id/berita/qqurap428/pengamat-kelompok-teroris-masih-punya-jaringan
https://www.suara.com/bisnis/2021/04/01/083154/zakiah-aini-minta-keluarga-stop-berhubungan-dengan-bank-karena-riba

No comments:
Post a Comment