Terkait dengan etika anak didik, baik terhadap dirinya, orang tuanya, gurunya, teman-temannya, sesungguhnya dalam tradisi ilmu-ilmu Islam klasik, terdapat sebuah kitab yang patut dikaji dan diteliti. Kitab dimaksud adalah Kitab Ta’lîm al-Muta’allim, yang selama puluhan tahun dijadikan sebagai salah satu kitab yang diajarkan di pondok-pondok pesantren di Indonesia. Kitab ini berisi di antaranya bagaimana etika, akhlak dan sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang siswa, pelajar, atau mereka yang sedang menuntut ilmu.
Pada dasarnya ada beberapa konsep pendidikan al-Zarnuji yang banyak berpengaruh di pesantren: 1) motivasi penghargaan yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan ulama; 2) konsep filter terhadap ilmu pengetahuan dan ulama; 3) konsep transmisi pengetahuan yang cenderung pada hafalan; 4) kiat-kiat teknis pendayagunaan potensi otak, baik dalam terapi alamiyah atau moral-psikologis.
Point-point ini semuanya disampaikan oleh al-Zarnuji dalam konteks moral yang ketat. Ta’lîm al-Muta’allim tidak hanya memberikan dorongan moral agar murid menghormati guru, belajar dengan sungguh-sungguh, atau menghargai ilmu pengetahuan. Tetapi, Ta’lîm al-Muta’allim juga sudah jauh terlibat dalam mengatur bagaimana bentuk aplikatifnya, seperti seberapa jarak ideal antara murid dan guru, bagaimana bentuk dan warna tulisan, bagaimana cara orang menghafal, bagaimana cara berpakaian seorang ilmuwan dan lain sebagainya. Secara umum, tak perlu ada yang dipermasalahkan dari kitab Ta’lîm al-Muta’allim. Hanya diperlukan sebuah pemilahan, mana yang harus dipahami sebagai prinsip baku dan point apa yang mesti diterjemahkan secara kondisional.
Berkenaan dengan etika siswa menurut kitab Ta’lîm al-Muta’allim, dapat diidentifikasi sebagai berikut: anjuran musyawarah; anjuran untuk sabar, tabah dan tekun; anjuran untuk bersikap berani; anjuran untuk tidak mengikuti hawa nafsu; anjuran berteman dengan orang baik; anjuran menghormati ilmu dan guru; anjuran untuk kesungguhan dalam belajar; anjuran untuk mencermati perkataan guru; anjuran untuk berusaha sambil berdoa; anjuran untuk berdiskusi; anjuran untuk senantiasa bersyukur; anjuran untuk tidak mudah putus asa; anjuran untuk senantiasa tawakkal; anjuran untuk saling mengasihi; anjuran untuk tidak berprasangka buruk; anjuran bersikap wara’; dan anjuran memperbanyak shalat. Etika siswa yang ditawarkan oleh Imam al-Zarnuji memang tidak semuanya dapat diterapkan dan kondusif dalam konteks kehidupan zaman sekarang. Ada beberapa yang tampaknya sulit untuk diterapkan, misalnya larangan berbicara banyak dalam konteks pembelajaran. Namun demikian, untuk sebagian besar, etika siswa yang dikemukakan oleh Imam al-Zarnuji dalam kitabnya itu masih tetap relevan dan dapat diaplikasikan dalam konteks pembelajaran dewasa ini. Di antara sekian anjuran al-Zarnuji yang dapat diaplikasikan, misalnya, anjuran imam al-Zarnuji agar siswa senantiasa tekun, sungguh-sungguh, banyak beribadah, memelihara sopan santun, tidak cepat menyerah dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu, sebagai bangsa yang mayoritas beragama Islam etika dalam menuntut ilmu harus sejalan dengan etika dalam agama Islam agar ilmu yang ditekuni dapat berbuah hasil dengan baik serta terjauh dari perilaku tercela dan mendepankan rasa semangat pada diri siswa agar selalu tekun dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
Nur liza Aulia,
Kemalasari Astrid Widyadhari
dan Yulva Kurniawati
Unindra 2021

No comments:
Post a Comment