Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harga Pangan Naik, Rakyat Menjerit

Monday, April 19, 2021 | Monday, April 19, 2021 WIB

Oleh : Heny Era 

Bulan Ramadhan adalah bulan mulia, harapan bahagia umat muslim di seluruh dunia. Kemuliaan dan keberkahan sangat melimpah pada bulan ini. Di bulan ramadhan, lelah-letihnya menjalankan ibadah puasa, ditambah kondisi pandemi yang tiada kunjung surut tetap dilalui dengan bahagia oleh ibu-ibu, sebagai penyuguh hidangan lezat untuk berbuka. Sayangnya kebahagiaan ibu-ibu selalu dibarengi dengan naiknya harga pangan yang membuat mereka menjerit. Bagaimana tidak, anjloknya pemasukan saat pandemi semakin bertambah-tambah dengan merangkaknya bahan pokok pada hampir setiap komoditas. Seakan menjadi kebiasaan, lonjakan selalu saja terjadi saat Ramadhan. 

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan harga berbagai komoditas pangan mulai menunjukkan kenaikan beberapa hari menjelang puasa. Menurut Abdullah, harga bahan pangan yang meningkat dan cukup mencolok dalam 1-2 hari ini yakni daging ayam, daging sapi dan minyak goreng. Menurutnya kenaikan harga di fase pertama ini lantaran banyak orang yang berbelanja di saat yang bersamaan untuk mempersiapkan bahan makanan di awal puasa. Karenanya, permintaan meningkat, stok di pasar habis, dan harga pun meningkat. Dia juga mengatakan, harga bahan pangan biasanya mulai menurun di pertengahan bulan puasa. Karenanya, permintaan yang tinggi tersebut harus diimbangi dengan pasokan yang tinggi pula. (kompas. com, 8/4/2021 ). 

Pernyataan yang bertolak belakang diungkapkan oleh Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang mengatakan bahwa harga barang kebutuhan pokok stabil dan cukup untuk ramadan dan idul fitri tahun ini. “Kementerian Perdagangan menjamin, pada Ramadan tahun ini, harga-harga bahan pokok terjangkau bahkan cenderung akan menurun. Kami juga menjamin pasokan bahan pokok tersedia. Mudah-mudahan Ramadan tahun ini, kita dapat beribadah dengan lebih tenang dan lebih baik,” ujar Lutfi. (kompas. com 8/4/2021 ). 

Kenyataannya, suka cita Ramadhan senantiasa ditemani harga bahan pokok yang meninggi. 
Adanya kekhawatiran masalah pangan mengemuka menjelang Ramadan dan Idulfitri 1442 Hijriah, Organisasi Pangan Dunia (FAO) setelah  merilis laporannya, Senin (4/3/2021), menyebutkan dalam sembilan bulan terakhir ini harga pangan dunia konsisten naik.
Bahkan, harga pangan dunia kini telah mencetak rekor tertinggi dalam enam bulan terakhir. Harga pangan global menyentuh level tertinggi dengan indeks harga pangan per Februari 2021 mencapai 116,2 poin. Angka ini naik 2,4 persen dibandingkan dengan Januari 2021 (indonesia.go.id, 19/3/2021). 

Sungguh ironi, pernyataan pemerintah yang diutarakan untuk rakyat, tidaklah sesuai dengan kenyataan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kenaikan harga yang berulang setiap tahun, seharusnya menjadi pelajaran yang dapat diambil demi mengantisipasi kejadian yang sama terulang kembali. Sehingga makin menambah ketidakpercayaan rakyat terhadap kinerja pemerintah. 

Seperti yang telah diketahui harga pangan berpotensi naik setiap menjelang puasa dan Lebaran. Kenaikan ini terjadi akibat lonjakan permintaan yang cukup tinggi pada waktu yang bersamaan. Pemerintah seharusnya mampu menjaga stok dan pasokan jelang Ramadan dan Idul Fitri, termasuk melakukan operasi pasar dan menghitung kebutuhan pangan secara akurat, serta risiko-risiko pesatnya permintaan bahan pokok pada kurun waktu yang bersamaan. Jika stok bahan pangan memadai harga bahan pokok pun akan terkendali. Peran pemerintah dalam menyediakan pasokan bahan pangan yang memadai dan mengeliminasi semua penghambat pasar secara adil telah gagal, segala daya dan upaya yang dilakukan untuk menstabilkan harga sia-sia saja, harga pangan masih tetap merangkak naik. 

Hal semacam ini selalu saja terjadi tanpa ada solusi. Sudahlah pandemi terjadi, himpitan ekonomi semakin tinggi, ditambah lagi naiknya harga bahan pokok saat Ramadhan menghampiri, membuat masyarakat harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok yang wajib terpenuhi. 

Pada Sistem Ekonomi Kapitalis, produksi dan distribusi pasar dikuasai oleh individu atau swasta. Hal ini berlaku pada semua komoditas bahan pokok. Sebagai contoh pada beras. Komoditas beras melalui banyak titik distribusi. Setiap titik distribusi dimiliki oleh individu atau swasta. Akibatnya, ketika sampai ke konsumen harga menjadi tinggi. Dalam setiap rantai distribusi, margin laba terbesar dinikmati oleh para tengkulak, pemilik penggilingan padi atau pedagang grosir. Di Pulau Jawa, margin laba ini berkisar antara 60-80 persen per kilogram.
Sebaliknya para pedagang eceran justru hanya menikmati margin laba dengan kisaran antara 1,8-1,9 persen per kilogram ungkap Kepala Center for Indonesian Policy Studies, Hizkia Respatiadi, di Jakarta (bisnis.com, 17/1/2018). Sedangakan petani hanya bisa gigit jari. 

Sistem Ekonomi Kapitalis memandang manusia sebagai individu yang mengejar keuntungan sendiri, menimbulkan tidak adanya keterbatasan individu untuk memiliki harta yang banyak. Tentu saja inilah penyebab distribusi kekayaan menjadi tidak seimbang di tengah-tengah masyarakat. 

Sistem yang mengabaikan urusan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh rakyat, ekonomi kapitalis hanya menguntungkan para pelaku ekonomi saja dengan cara menyokong  kebebasan penuh untuk melancarkan kepentingan yang mendatangkan laba secara sepihak. Ini merupakan bukti sistem kapitalis tidak becus mengurusi segala kebutuhan rakyat. 

Berbeda dengan sistem ekonomi islam yang dipimpin oleh seorang khilafah. Pemerintah dalam islam akan mengerahkan segala daya dan upaya untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat, terutama kebutuhan bahan pokok. Karena salah satu fungsi negara adalah sebagai "raa'in" atau pengurus urusan rakyat, termasuk seluruh kebutuhan publik seperti yang terkandung dalam hadist berikut : 
"Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya (rakyatnya) " (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim). 

Dalam pemerintahan Islam kebijakan pengendalian harga dilakukan melalui mekanisme pasar dengan memgendalikan supply and demand bukan dengan pematokan harga. Islam menjamin pasokan pangan. Menetapkan mekanisme pasar yang sehat serta negara melarang penimbunan, penipuan, praktik ribawi, dan monopoli harga. 

Himpitan ekonomi karena merangkaknya harga akan terselesaikan dengan adanya sistem islam. Masyarakat pun dapat beribadah secara total di bulan suci ramadhan dengan bahan pangan yang memadai tanpa mengeluhkan masalah harga. Itulah Sistem Islam suatu sistem yang paripurna, sistem terbaik yang mengacu pada Alqur'an dan As Sunnah.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update